"Yun....!!
Suara ibuku memanggil dari dalam rumah
" Ya bu...
"Kamu sedang apa disitu nak? Jangan melamun terus atuh...nanti cepet tua.
Ibuku berusaha bercanda mengetahui aku yang sedang melamun sendiri di rindangnya pohon manggis.
" Teu ah bu..Yunni cuma cari angin aja. habis bosan di dalam terus.
"Ih si neng geulis...atuh bantuan ibu masak buat dagang nanti. ibuku tersenyum tulus
" Emangnya ibu mau dagang pecel hari ini?
" Iya lah...kan hari ini teh ada yang hajat. Nanggap dangdut tuh.
" Oh ya udah, sekarang Yunni bantu ibu.
Aku menggandeng lengan ibuku dengan kasih sayang dan membawanya ke dapur rumah. Rumahku sangat sederhana. Hanya terbuat dari anyaman bambu namun setengahnya telah di tembok. Aku masih tinggal ditanah orang. Orang itu berbaik hati mempersilahkan kami sekeluarga tinggal disitu. Sebenarnya aku masih mempunyai saudara. Namun saudara saudaraku tinggal jauh diperantauan. Kadang aku berfikir tuk merantau juga, tapi aku tidak tega meninggalkan kedua orang tuaku yang sudah tua dan sering sakit sakitan.
"Yun...
Ibuku membuka pembicaraan ketika aku masih menggoreng bakwan.
" Kah ibu..
" Ai..A Yanto datang kenapa kamu teh selalu menghindar? Dia tadi juga datang dan katanya dia mau melamar kamu?
"Bu...Yunni rasa, Yunni sudah sering bilang sama ibu, kalau Yunni teh ga suka sama a Yanto. Lagipula ibu, Yunni masih kecil. baru 16 tahun...
"Yah ibu tahu Yun kalau kamu teh ga suka sama a Yanto. Tapi...ibu pengen tau apa alasannya?
"Bu...cinta itu masalah hati. Ga bisa dipaksakan...
Akhirnya ibuku hanya menggelengkan kepalanya dan tak melanjutkan pertanyaan-pertanyaan tentang Yanto lagi. Kami bercerita tentang hal-hal lain yang tidak membuatku menjadi sedih. Malam mulai datang. Suara jangkrik mulai menyanyi menyambut malam. Burung malam berkicau memecah hening. Suara tokek kadang membuat terbangun orang yang telah terlelap. Aku berusaha memejamkan mata ini. Rasa lelah tak juga membuatku tertidur. Badanku tiba-tiba merasa menggigil. Aku tak tau apa yang sedang terjadi. Kepala ini terasa berat dan tiba-tiba aku merasa melihat bayangan seseorang. Aku berusaha memanggil bayangan orang yang terlihat.
"A Yanto...... kesini a. Aku kangen a Yanto
Oh...apa yang terjadi denganku? mengapa aku tiba-tiba merasa kangen dengan orang itu. Kejadian ini terus terjadi dan membuatku tak bisa tertidur lelap. Hari menjelang pagi baru rasa itu menghilang. Badanku terasa sangat pegal dan sakit. Akibatnya ku tak sadarkan diri hingga aku mendengar seseorang memanggilku.
"Yun...kamu kenapa?
samar-samar kudengar suara ibuku membisik ditelingaku. Aku masih tak sadar dengan apa yang terjadi. Hingga akhirnya........ Dua tahun kemudian aku pun masih tak sadar dengan apa yang sedang terjadi padaku. Yang aku tahu kini aku telah menikah dengannya. Gilaaa...aku masih tak mengerti mengapa aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Lagipula aku masih terlalu muda untuk menikah!! Sempat ku bertanya pada ibu mengapa aku harus menikah dengannya tapi jawabnya selalu sama "Aku mencintainya" Hah...aku tak percaya dengan ucapan ibu, kapan aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan mau menikah dengannya? Apakah aku telah di guna-gunainya? Hari demi hari berlalu begitu saja. Pada awalnya Yanto memang sangat baik hingga akhirnya aku tahu sifat yang sebenarnya. Dia begitu kasar padaku walaupun kini kami telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Kesalahan kecil saja akan mampu membuatnya menjadi seseorang yang tidak aku kenal sama sekali.
"Yun... aku mau makan !
Yanto merasa lapar kala itu dan menyuruhku untuk membuatkan makanan. Padahal..aku sangat lelah waktu itu. aku baru saja pulang kerja. Bekerja membuat batu bata yang sangat menguras tenaga. Apalagi aku harus membawa bawa anakku karena memang ayahnya tak terlalu peduli padanya. Setelah ku bereskan semuanya dan memasak sesuai keinginanya. Aku menyiapkan makan dimeja dan anakku kuletakan dikamarnya. Tapi ya ampuunn....aku lupa kalau Yanto tak suka terasi!
"A..ini makananya sudah siap cuma ada oseng kangkung, tapi tadi Yun lupa...Yun kasih terasi di oseng kangkungnya.
Yanto menatapku dengan matanya yang menakutkan seakan akan menelanku bulat-bulat. Tiba-tiba..... braaaaakkk. Makanan yang aku sediakan dia buang begitu saja. Aku sangat takut melihatnya dan juga sedih. Makanan yang aku buat dengan susah payah dia buang percuma begitu saja.
" Dasar istri sialan! Kamu itu ya, kerja ga becus. Makan nih!!
Yanto melempar semua benda yang ada di atas meja dan marah sejadi-jadinya. Aku hanya bisa diam dan menangis sedang anakku hanya menatap ibunya dengan rasa iba dan linangan air mata. Hari terus berlalu.Setelah empat tahun kami menikah, akhirnya aku bisa lepas dari Yanto. Ya...kami bercerai. aku tak sanggup lagi menahan beban kehidupan bersamanya. Perjalanan dan ujian kehidupan seakan tak pernah berhenti menderaku. Pernikahan keduaku dengan orang yang benar-benar aku cintaipun gagal. Hanya karena persoalan keluarga dan sesuatu yang terjadi padaku. Dokter mendiagnosis ku dengan penyakit Kista Ovarium, dan aku akan sulit mempunyai anak karena rahimku lemah. Karena hal itulah orang tua suamiku yang kedua selalu mengejekku. Bahkan suamikku terlalu takut dengan keluarganya hal itulah yang menyebabkan dia tak pernah membelaku dengan siapapun aku mempunyai masalah.
"Heh dasar wanita jalang murahan! sekarang kamu sudah sombong ya!! semua laki-laki kamu goda. Dasar pelacur murahan. Hidup masih numpang ditanah orang aja belagunya setengah mati!!. Mulai hari ini kamu ga usah jualan lagi disini, mengerti kamu!!
itu adalah sepenggal kata-kata yang sangat menyakitkanku. Seseorang yang masih saudarakupun menghinaku seperti itu, dan suamiku yang ada disitu tak pernah membelaku. Saudaraku menjabak rambutku dengan kerasnya. Sakit...aku sangat merasa kesakitan. Tidak sampai disitu saja. Dia juga mendorongku hingga terjatuh. Aku tetap tak melawan. Bukannya aku takut dengan dirinya. Aku hanya memikirkan kedua orang tuaku jika aku diusir dari sini. Hatiku begitu hancur dengan segala caci maki yang dia lontarkan padaku. Rasa sakit didada ini tak akan mungkin sembuh dan terlupakan begitu saja. Aku sendirian menghadapi semua persoalan hidup ini hingga akhirnya suami keduaku pergi tanpa menceraikan aku...aku dibuatnya mati perlahan tanpa kepastian. Sempat aku berfikir tuk mengakhiri hidup seandainya aku tak ingat anakku satu-satunya yang masih butuh perlindunganku. Bahkan aku hampir saja dijual oleh temanku sendiri pada lelaki hidung belang. Ya Tuhan....cobaan ini begitu berat. Apa salahku sehingga Kau membebaniku dengan penderitaan-penderitaan ini. Aku hanya bisa menangis dan menulis pada buku diariku. Semuanya ada disitu. Entah sampai kapan buku ini menjadi teman dalam kesendirianku. Hingga suatu hari...aku dan ibuku sedang memasak diluar. Ibuku menyuruhku memasak gudeg. Panas mentari tak membuat tempat kami menjadi panas. Pepohonan disekitar rumah mampu menghalangi panasnya mentari yang menyengat. Asap tebal dari kukusan nangka terbang menembus ranting pohon dan melesat bebas ke angkasa. Entah darimana asalnya tiba-tiba ada seseorang yang mendekati ke arah kami. Sempat kaget karena aku kira dia adalah mantanku yang pernah meninggalkanku dengan menikahi wanita lain, tapi ternyata dia sesorang yang belum aku kenal.
"Assalamualaikum...bi, lagi apa?
Lho..ko, dia kenal dengan ibuku? Ibuku hanya tersenyum menatapya. Dia tampak tak perduli padaku. Penampilannya yang sederhana mampu membuatku bergetar. Entah kenapa hati ini berdetak tak menentu.
"Ini a... lagi masak gudeg dibantu Yunni. Yah bibi mah ga bisa masak yang enak-enak kayak orang lain.
Ibuku merendah walaupun memang pada kenyataanya kami tak biasa memasak masakan yang istimewa seperti yang orang lain lakukan. Akhirnya aku dan ibuku bercakap-cakap dengannya. Orang ini begitu ramah padaku tidak seperti laki-laki lain yang aku kenal. Aku seperti sudah lama mengenalnya walaupun baru sekali ini berbicara dengannya langsung. Entah mengapa aku merasa Tuhan telah mengirim orang ini padaku. Tapi aku tak bisa terlalu dekat dengannya karena ibuku menanyakan kabar istrinya, yang artinya dia sudah mempunyai keluarga dan aku hanya memendam debaran hatiku tentangnya. Namun yang terjadi selanjutnya sangat mengejutkanku.... ketika ibuku masuk ke dalam rumah dia tiba-tiba mengajaku pergi. Apakah dia main-main denganku atau memang benar mengajaku?
"Yun...kamu mau ga jalan sama aku besok? Kita pergi ke suatu tempat. Yaa,,kita senang-senang aja sambil curhat
Aku bimbang namun lidahku tak bisa terkontrol. Aku langsung mengiyakan ajakannya. Oh Tuhan...apa yang terjadi padaku,kenapa aku begitu bodoh mengiyakan ajakannya? Aku belum begitu mengenalnya. Tapi dari pembicaraan antara aku,dia dan ibuku. Aku merasa sangat begitu dekat dengannya. Sampai dia pergi pamit pergi dia tak menanyakan no handphone yang layaknya laki-laki lain jika ingin berkencan denganku. Aku akhirnya hanya terdiam saja dikamar tak tahu apa yang harus diperbuat. Malam harinya aku tak menyangka kalau dia datang lagi dan meminta no handphone ku. Aku begitu senang setidaknya kebimbangan yang meyergapku tlah hilang dan aku yakin jika dia sungguh sungguh, Namanya Dicky, cara bertutur katanya sangat lembut. Membuatku merasa sangat diperhatikan. Ah...baru kali ini aku merasa nyaman bersanding dan berbicara dengan seorang pria. Dua hari berselang kami bertemu. Dia telah menungguku dengan mobil putihnya dipersimpangan jalan.
" Hai...mau kemana kita?
Dicky menyapaku pelan dan lembut.Senyumnya mampu meluluhkan hatiku.
" Terserah A Dicky aja.
" Lho...yang tau daerah disini kan kamu. Menurut kamu kita kemana?
" Ya udah jalan aja. Kata a Dicky kan mau bersenang senang. Kita jalan aja sambil lihat -lihat pemandangan. Kalau kita menemukan tempat yang cocok untuk ngobrol baru kita berhenti.
"Baiklah...
Dicky tersenyum menjawabku. Mobilpun melaju pelan tanpa arah. Aku tak berani membuka pembicaraan. Pepohonan di luar tanpak berlari berkejaran. Sawah membentang luas menguning. Aku terkaget ketika tiba-tiba bertanya. Bukan suaranya yang membuatku kaget. Tapi permintaan yang tiba-tiba dia ajukan padaku.
"Yun...maukah kamu jadi pacarku? Tiga hari saja...karena itu masa liburku. Aku cuma ingin punya teman untuk saling berbicara. Aku merasa kesepian disini. Setelah tiga hari itu kita kembali seperti biasa. Kamu tetap jadi teman aku atau mungkin kita akan saling melupakan...
Ya Tuhan... apa yang harus aku jawab? Aku terdiam sesaat tak menjawab pertanyaannya. Dicky kembali mengulang pertanyaan itu padaku dan mendesak aku tuk menjawabnya. Aku akhirnya mengangguk mengiyakan. Ah sudahlah, aku tau ini salah. Dia telah ada yang punya namun aku ingin sekali merasakan kebahagiaan ini walau hanya sementara. Tiga hari cukup bagiku tuk merasakan kebahagiaan dengan orang yang benar-benar aku suka walaupun dia telah ada yang punya. Walau aku tahu tak akan pernah mudah melupakan kenangan selama tiga hari itu
Hari pertama......Dicky memacu mobilnya menuju sebuah waduk tepi kota dan kami berhenti disana. Air waduk yang jernih berkedip menatap kami. Airnya berkilauan bak permata terkena sinar mentari. Angin yang sejuk menerpaku. Dicky menatapku lembut. Kulihat ada cinta dimatanya. Cara menatapnya yang tajam dan tak lepas menatapku telah menujukan kedalaman cintanya. Aku bisa membaca kegelisahan dari hatinya walau matanya memancarkan cinta padaku.
" Aa..kenapa aa melakukan semua ini? Apa a punya masalah dengan keluarga?
" Masalah? ya masalah yang sangat pelik yang sulit untuk diselesaikan. A cuma bisa menyerahkannya pada takdir Tuhan.
" Apakah sepelik itu sehingga A ga mau cerita sama Yunni?
" Yun...lain kali a ceritakan semuanya. Sekarang a cuma ingin membahagiakan kamu. A tau, masalah kamu lebih sulit dari masalah a. Dan a yakin kamu sangat membutuhkan kebahagian saat ini. A mungkin ga bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna, tapi a berusaha untuk sempurna buat kamu. Jika suatu saat kita bisa bertemu lagi dan berjodoh biarkan takdir Tuhan yang menemukan kita. Kalau a datang dengan memisahkan istri karena kamu, a harap kamu jangan pernah menerima a, Karena bisa saja a melakukan hal itu pada kamu suatu saat.
Aku terhenyak dengan perkataan Dicky. Betapa dia sangat menghormati istrinya walaupun dia merasa ada masalah dengannya. Sangat sulit pada zaman seperti ini menemukan seorang pria yang menghormati orang yang dicintainya. Kebanyakan pria hanya berfikir tentang seks semata ketika melihat wanita yang disukainya, seperti halnya pria-pria yang mencoba mendekatiku. Aku tak pernah merasa senyaman ini sebelumnya. Bersamanya bisa membuatku tertawa. Aku hanya bisa berandai andai tentangnya. Andai aku bisa bersama dengannya selamanya. Ah wanita macam apa yang tak bisa merasakan ketulusan cintanya? Masalah apa yang telah membuatnya gelisah. Andai aku tahu. Tapi aku tak mau memaksa Dicky berbicara banyak. Aku tak ingin merubah mood nya. Bagiku senyumnya sangat berarti. Kami berbicara banyak hal hingga sore menjelang dan membawaku dalam kenangan hari pertama dan juga ciuman mesranya di keningku membuatku merasa bahagia hari ini dan merasa menjadi wanita yang dihargai.
Hari kedua...Jalan menuju tempat dimana dulu aku berada sangatlah jauh. Jalan ini mengingatkan masa laluku ketika aku berbaring sakit dan melakukan pengobatan selama beberapa bulan. Mata ini tak lelah menatap hijaunya pegunungan dan sawah yang menghampar luas bak permadani raksasa. Dicky mulai banyak berbicara tentang berbagai hal. Tentang hobbynya dan pekerjaannya. Tapi tidak dengan masalah keluarganya. Sesekali aku menatap wajahnya yang tenang dan menyejukan. Dia hanya tersenyum tenang menatapku sesekali juga. Jalanan yang berkelok kelok bagai ular membuatku sedikit pusing. Mungkin hal ini terjadi karena sakit yang kuderita. Kini aku menjadi mudah lelah dan sakit. Aku belum bercerita tentang sakitku pada Dicky. Biarlah ini menjadi rahasia yang tak perlu semua orang tahu. Sesampainya di pantai. Kami duduk melepas lelah. aku berusaha memberikan sedikit pijitan dikaki dan tangannya. Kulihat Dicky sangat menikmatinya.
"Yun...sebenarnya sentuhan-sentuhan kecil seperti inilah yang aku inginkan. Aku ga perlu mempunyai banyak harta karena harta bisa dicari, tapi sentuhan kasih sayang yang seperti ini aku tak pernah merasakannya. Ah....seandainya kamu adalah takdirku, akankah kamu terus melakukan hal ini padaku Yun?
" A..aku selalu melakukan hal yang terbaik buat suamiku dulu. Tapi mereka tak pernah mengerti dan selalu merendahkan aku. Tentu saja jika aa adalah takdir Yun...Yun akan melakukan apapun tuk membuat a nyaman
" Apa yang membuat kamu mau melakukan hal itu? Bukannya banyak pria yang juga suka sama kamu. Dan mereka-pun baik sama kamu. Bahkan banyak dari mereka yang mengajak kamu tuk menikah?
" Yaa...memang banyak pria yang ngajak Yun menikah a, tapi bukan berarti Yun langsung menerima mereka kan? Entahlah, Yun merasa a berbeda dengan yang lain.
(Seandainya kamu belum ada yang memiliki a) Aku hanya membathin dalam hati. Dicky memelukku dengan lembutnya. Pelukannya begitu erat seakan enggan tuk melepasku. Mataku terpejam dalam peluknya menikmati hangat tubuhnya yang kekar dan berisi. Akupun tak ingin dia melepas pelukannya agar segala beban jiwa ini terlepas walau hanya untuk sementara. Hingga menjelang malam kami menikmati suasana pantai yang sangat ramai. Dicky mengajakku berjalan ditepi pantai. Menikmati deburan ombak yang berteriak bersahutan. Burung malam beterbangan saling berkejaran. Dicky menggengam tanganku dengan erat. Angin pantai keras membelaiku, dinginnya meresap hingga ke tulang tubuhku. Seakan mengerti, Dicky memelukku memberikan sedikit kehangatan. Bintang dilangit berkedip memberi arti pada kami berdua. Aku tak banyak berkata karena aku hanya ingin merasakan indahnya malam bersama dia dan kehangatan yang diberikannya. Menjelang malam Dicky mengajakku pulang. Sungguh...aku masih ingin bersamanya. Waktu ini begitu singkat kurasa. Badanku tlah letih. Sepanjang jalan aku terdiam. Sesekali ku lirik Dicky, dia hanya tersenyum dan berkata
"Tidurlah, aku tau kamu sangat lelah. Aku ga apa-apa ko. Kalau lelah paling aku akan berhenti sebentar.
"Terimakasih a sudah mau mengerti aku.
" Sama-sama...ga usah sungkan, tidurlah
Akupun mulai berbaring tertidur sebelumya kulirik dia dan Dicky menatapku sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
"Tidurlah sayang...nanti kalau dah sampai aa bangunin ya..
Tak berapa lama aku mulai tertidur hingga akhirnya mimpi-mimpi tentangnya membelaiku dalam gelapnya malam yang dingin. Aku bahagia.
Hari ketiga....A Dicky sudah menjemputku sejak pagi. Aku sebenarnya sangat berat dengan hari ini. Berat karena hari ini merupakan hari terakhirku bersamanya. Untuk sementara aku lebih banyak diam. Memikirkan hari-hariku selanjutnya tanpa dia. Pria yang telah mengikat hatiku dengan kelembutan yang dimilikinya. Mobil Dicky melaju kencang berkeliling tanpa arah namun akhirnya arah mobil menuju bendungan dimana kita pernah kesana sebelumnya. Dibawah sebuah pohon yang rindang kami berhenti. Karena lapar Dicky memesan makanan diwarung terdekat. Ku hanya melihat terus ke wajahnya. Rasa takut kehilangan sangat besar berada dibenakku. Dengan lahapnya Dicky dan aku menghabiskan makanan yang dipesan. Dia sangat memanjakan dan memperhatikan aku. Hal ini membuatku semakin sedih. Oh Tuhan.....Mengapa kebahagiaan ini begitu singkat. Akankah ia menjadi takdirku kelak atau ini semua hanya akan menjadi mimpi yang tak pernah terulang kembali?
"Kemana kita sekarang Yun? kayaknya ga mungkin deh kita cuma diam disini. Apakah punya referensi tempat buat kita?
" Ya sudah a, kita jalan aja. Siapa tahu nanti dijalan Yun punya ide...
Kembali mobil melaju tanpa arah yang pasti. Di tepi sebuah tingkungan aku teringat akan tempat yang dulu aku sering datangi.
"Kayaknya belok sini aja deh a...
"Mau kemana kita?
"Yun kayaknya pernah kesini dan tempatnya bagus
"Boleh, terserah kamu aja
Dicky memandangku dengan lembut dan tersenyum setiap berbicara denganku. Betapa lembutnya pria ini.Betapa bahagianya orang yang mendapingi hidupnya. Aku terus memujinya dalam hati. Jalan menuju tempat yang kutuju dikelilingi bukit dan pegunungan yang menghijau. Sawah membentang luas menghijau ditemani deretan dangau dangau pelepas lelah petani. Diatas sebuah bukit kita berhenti. Aku terpegun sejenak menatap keindahan yang diberikan Tuhan pada manusia. Hari menjelang sore. Matahari tanpak menguning mulai tenggelam. Keindahan ini menyatu dengan tatapan mata Dicky yang juga tak henti hentinya berdecak kagum. Aku terus memandang keindahan didepan mataku ini. Dicky memandangku dan menggenggam tanganku erat.
" Yun...kamu mau menunggu malam disini sambil melihat
bintang?
" Ah...sebenarnya Yunni mau banget a, pasti indah
banget disini. Tapi Yunni takut juga, soalnya tempat ini jauh kemana mana.
" Iya juga ya Yunn..ya sudah kita nikmati aja dulu
pemandangan ini. Nanti kalau sudah mulai gelap kita pergi aja.
"Iya a.
Tak lama aku berkata seperti itu tiba-tiba aku melihat
seseorang yang berjalan menuju mobil kami. Orang itu kadang-kadang melirik ke
dalam mobil dan seakan berpura-pura melihat ke ladang. Aku agak sedikit takut
walaupun Dicky ada bersamaku tapi aku tak ingin sesuatu terjadi.
" A...sebaiknya kita pergi sekarang deh. Aku ga suka
dengan gerak gerik orang itu.
Dicky mengiyakan ucapanku sambil melihat ke arah orang asing
itu. Lalu ia segera menyalakan mesin mobilnya dan kami pun berlalu kembali ke
tengah kota. Meninggalkan tempat yang sangat indah yang entah kapan aku bisa
kesana lagi.
Tak ada tempat yang kami tuju. Malam pun datang, kami menuju alun-alun kota. Berbicara banyak tentang banyak hal. Temaram di tengah kota menarik untuk ku perhatikan. Banyak pemuda berkumpul disana. Lampu kota menerangi sebagian lapangan yang dipergunakan untuk berkumpul dan sebagian lagi orang-orang berdagang menawarkan dagangannya. Kulihat Dicky mengantuk dan akhirnya dia tertidur di depan kemudinya. Aku menggenggam erat tangannya. melihatnya tertidur membuatku semakin memperhatikannya. Ku usap kepalanya dengan kelembutan. Betapa ku ingin memilikinya, tapi ku tak bisa. Andai saja aku dipertemukan dia dahulu dan dia menjadi takdir yang menemani hari-hariku mungkin hidupku tak akan seperti ini. Hidup yang penuh hinaan,fitnah dan cacian yang tak pernah berhenti mengisi hari-hariku. Tanganku terus menggenggam tangannya. Ini hari terakhirku. Aku tak akan menyia nyiakan setiap detikku bersamanya. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Tuhan telah menentukan takdirku untuk sendiri, berteman sepi dan kepedihan.Tapi aku takan menyerah dengan takdirku. Aku masih mempunyai cahaya hidup...Anakku. Malam bergulir pagipun datang. Dicky terbangun dari tidurnya. Dia tanpak begitu lelah. Entah apa yang ada dalam mimpinya. Yang ku tahu, waktuku bersamanya akan segera berlalu. Ingin ku teteskan air mata ini di bahunya namun ku tak kuasa. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Tak ada lagi kata terucap. Ekspresi wajahku menggambarkan semuanya dan ku yakin Dicky tahu itu.
"Yun...kebersaman kita sudah berakhir. Maafkan aku bila ada kata atau perbuatan yang tak berkenan. Mungkin kita tak bertemu lagi tapi A yakin kenangan kita akan hidup selamanya. Biarkan takdir yang mempertemukan kita..
Ah...hampir saja ku menangis tak sanggup lagi aku berkata-kata. Aku hanya bisa menatap kelembutan pandangannya padaku. Dicky memelukku dengan erat seakan tak mau melepaskan. Ciuman di keningku menjadi akhir perpisahan dengannya. Perpisahan memang berat kurasa. Kehadiran seseorang walau hanya sekejap namun bisa membuatku sedikit berbahagia dan merasakan seperti apa arti kebahagian itu. Bukan karena harta yang diberi tapi sebuah ketulusan yang sangat mahal lah yang membuatku bisa bahagia. A Dicky...aku menyebutmu kembang kantil. arti sebuah kesucian dan ketulusan hati dalam mencintai seseorang yang terkasih....Semoga kita bertemu dalam takdir Tuhan kembang kantilku.........................................TAMAT
Tak ada tempat yang kami tuju. Malam pun datang, kami menuju alun-alun kota. Berbicara banyak tentang banyak hal. Temaram di tengah kota menarik untuk ku perhatikan. Banyak pemuda berkumpul disana. Lampu kota menerangi sebagian lapangan yang dipergunakan untuk berkumpul dan sebagian lagi orang-orang berdagang menawarkan dagangannya. Kulihat Dicky mengantuk dan akhirnya dia tertidur di depan kemudinya. Aku menggenggam erat tangannya. melihatnya tertidur membuatku semakin memperhatikannya. Ku usap kepalanya dengan kelembutan. Betapa ku ingin memilikinya, tapi ku tak bisa. Andai saja aku dipertemukan dia dahulu dan dia menjadi takdir yang menemani hari-hariku mungkin hidupku tak akan seperti ini. Hidup yang penuh hinaan,fitnah dan cacian yang tak pernah berhenti mengisi hari-hariku. Tanganku terus menggenggam tangannya. Ini hari terakhirku. Aku tak akan menyia nyiakan setiap detikku bersamanya. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Tuhan telah menentukan takdirku untuk sendiri, berteman sepi dan kepedihan.Tapi aku takan menyerah dengan takdirku. Aku masih mempunyai cahaya hidup...Anakku. Malam bergulir pagipun datang. Dicky terbangun dari tidurnya. Dia tanpak begitu lelah. Entah apa yang ada dalam mimpinya. Yang ku tahu, waktuku bersamanya akan segera berlalu. Ingin ku teteskan air mata ini di bahunya namun ku tak kuasa. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Tak ada lagi kata terucap. Ekspresi wajahku menggambarkan semuanya dan ku yakin Dicky tahu itu.
"Yun...kebersaman kita sudah berakhir. Maafkan aku bila ada kata atau perbuatan yang tak berkenan. Mungkin kita tak bertemu lagi tapi A yakin kenangan kita akan hidup selamanya. Biarkan takdir yang mempertemukan kita..
Ah...hampir saja ku menangis tak sanggup lagi aku berkata-kata. Aku hanya bisa menatap kelembutan pandangannya padaku. Dicky memelukku dengan erat seakan tak mau melepaskan. Ciuman di keningku menjadi akhir perpisahan dengannya. Perpisahan memang berat kurasa. Kehadiran seseorang walau hanya sekejap namun bisa membuatku sedikit berbahagia dan merasakan seperti apa arti kebahagian itu. Bukan karena harta yang diberi tapi sebuah ketulusan yang sangat mahal lah yang membuatku bisa bahagia. A Dicky...aku menyebutmu kembang kantil. arti sebuah kesucian dan ketulusan hati dalam mencintai seseorang yang terkasih....Semoga kita bertemu dalam takdir Tuhan kembang kantilku.........................................TAMAT
