Pagi sangat indah terasa,matahari memberikan kehangatan bagi semua insan dunia. Bunga-bunga tlah bermekaran dan manusia mencari kodratnya dintara riuhnya jalan-jalan yang penuh dengan lalu lalang mobil.
Di sebuah rumah yang tak begitu besar namun sangat asri terasa. Rumahnya di kelilingi pagar yang tinggi dan di penuhi tanaman dan bunga yang menambah kesan cantik. Seorang wanita cantik duduk di bangku taman sambil menikmati angin dan minuman yang disediakan oleh pembantunya. Matanya terus memandang ke pintu gerbang seakan akan sedang menunggu seseorang....tiupan angin terus membelai rambutnya yang panjang....seekor kupu-kupu terbang diatas mejanya dan hinggap di bibir gelas minuman si gadis.....gadis itu hanya tersenyum memandangnya dan tidak berusaha mengusirnya. Ditatapnya kupu-kupu itu lekat-lekat....dan dia berusaha menangkapnya. Sebelum tangannya sampai.....kupu-kupu itu telah terbang dan lalu hinggap di bunga mawar putih yang sedang mekar....
"Kupu kupu...kapan dia akan kembali...hehhh...aku kangen dia.
Gadis itu mengguman seakan berbicara dengan kupu-kupu yang menemaninya itu...Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil BMW melaju masuk ke dalam dan berhenti persis di samping gadis itu duduk
" Sheila....sedang apa kamu disitu..???
Seseorang membuka kaca mobil dan menegurnya.
"Ah paman Dias, aku cuma...cuma cari angin saja paman
"Mau paman antar pergi...kemana gitu??
"Terimakasih paman...aku lebih suka disini
"Ya sudah...paman masuk dulu ya, nanti temani paman sarapan ya ok
"Ya paman..terimakasih
Mobil Dias kembali berlalu pergi meninggalkan Sheila yang kembali menikmati kesendiriannya
Ditatapnya pamannya yang masuk rumah sambil membawa tasnya.
"Kasihan paman....hanya aku yang selalu menemaninya kini...Heuhhh...Azira...dimana kamu??? Aku dan paman selalu menunggu kamu Zira...
Sheila tak dapat menyembunyikan kesedihannya...matanya berlinang mengingat orang-orang yang sangat dicintainya...Pamannya dan Azira.
"Sheila...!! masuklah...katanya mau temani paman sarapan
Terdengar Dias memanggilnya...Sheila masih enggan beranjak dari tempat duduknya namun ia tak kuasa membiarkan pamannya makan sendiri.
"Ya paman...tunggu sebentar.
Sheila segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui Dias. Begitu masuk ke dalam rumah tampak Dias sedang menunggunya di meja makan dan menyuruhnya untuk duduk. Sheila segera menggeser tempat duduk dan duduk di depan pamannya yang kelihatan sangat tegar walaupun sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintainya
"Sheil....apa kamu masih mau tinggal disini??? mama kamu dah panggil kamu tuk pulang tuh...katanya dia kangen sama kamu.
"Paman....aku masih mau menemani paman disini...nanti aku telepon mama, pasti mama mengerti dengan alasan Sheila.
"Heh..ya sudah kalau kamu bersikeras seperti itu, tapi lain kali temuilah mama-mu
Dias mendesah lalu mengambilkan Sheila sepiring nasi
"Terima kasih paman
Sheila menerima nasi yang diambil Dias dan mulai mengambil lauk yang sudah tersedia diatas meja. Sambil makan Dias mereka saling bercakap-cakap dan kadang-kadang mereka saling tertawa ketika ada cerita yang dirasa lucu.
"Paman....
"Ya..
"Azira...Azira kapan pulang ya paman??
Sheila bertanya ragu-ragu dan agak malu pada Dias
"Entahlah....paman pun tidak tau dimana dia berada, terakhir paman telepon dia..dia ada di puncak tapi.....
Dias tidak melanjutkan kata-katanya, hal itu tentu saja membuatnya penasaran dan gelisah ingin tahu apa yang sedang terjadi
"hehh......ketika...ketika paman menuju villanya di puncak...
"Kenapa paman..apa yang terjadi pada Azira???
Sheila tak sabar menunggu ucapan Dias selanjutnya
"Paman tak tahu apa yang terjadi dengan Azira tapi....tapi paman menemukan villanya telah hancur berantakan dan banyak mayat bergelimpanagan disana. Tampaknya Azira telah berkelahi dengan orang-orangnya Mr Chan. Paman tak melihat Azira disana Sheil, paman juga tidak tahu dimana dia berada sekarang
"Paman...paman tidak sedang bercanda kan???
Mimik Sheila menunjukan takut yang amat sangat. Takut kehilangan orang-orang yang sedang diam-diam dicintainya itu
"Apa paman terlihat sedang bercanda Sheil...?? Paman pun takut sesuatu sedang terjadi padanya...paman dan anak buah paman sedang mencarinya kemana-mana...tapi...sampai saat ini paman belum menemukan dimana jejak Azira.
"Kenapa...kenapa paman baru memberitahu Sheila sekarang paman!!
"Sheil...kenapa kamu marah??? Paman tidak memberitahu kamu karena paman tidak ingin kamu ikut-ikutan panik seperti paman...kamu begitu panik....jangan-jangan kamu mulai mencintanya Sheil..?
Kepanikan Sheila dapat dibaca oleh Dias....Sheila tak ingin diketahui oleh Dias dan dengan cepat dia berdiri dan berlari menuju kamarnya dan membiarkan Dias duduk sendiri di meja makannya.
Dikamarnya Sheila tak dapat membendung kepedihannya....perasaannya takut....galau....resah...semuanya berkecamuk menjadi satu...air matanya tak bisa lagi tertahan.Sheila menutupi mukanya dengan bantal dan terduduk di pojok ruangan yang sepi dan hanya terdengar suara isak tangisnya saja.
Pikirannya terus melayang pada sosok laki-laki yang selalu hadir dalam benaknya.....dimana dia berada?? pertanyaan pertanyaan itu terus bermain dalam hatinya.....tok...tok...tok...
terdengar suara pintu diketuk dan suara Dias memanggil Sheila
"Sheil....boleh paman masuk ??
Sheila tak langsung menjawab, Sheila masih sangat kesal karena Dias tak segera memberitahukan bahwa telah terjadi sesuatu dengan Azira
"Sheil....boleh paman masuk Sheil..??
Kembali terdengar Dias memanggil namanya namun kali ini Sheila menjawab panggilan Dias.
" Masuk paman...pintunya engga Sheila kunci
Terdengar suara Dias membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki Dias langsung mendekati Sheila yang masih duduk di pojok ruangan.....
"Sheil....maafkan paman telah menyembunyikan semua ini pada kamu tapi.....paman yakin ini adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus paman lakukan agar kamu tidak terlalu cemas memikirkan dia. Namun....paman juga engga bisa menyembunyikan semua itu sama kamu karena lambat laun kamu juga pasti tahu dan kamu makin membenci paman....maafkan paman Sheil.
Suara Dias terdengar lirih dan penuh rasa cinta pada Sheila.....tangis Sheila semakin menjadi-jadi...Sheila tak sanggup menyakiti hati pamannya yang kini hidup menyendiri. Dan menyakiti hatinya sama saja dia menyakiti kedua orang tuanya. Dengan cepat Sheila memeluk Dias dan menangis dibahunya...tak ada kata-kata yang terucap....hanya isaknya yang terdengar di seluruh ruangan. Dengan lembut Dias membelai tubuk keponakannya itu dan menghapus airmatanya.
"Sheil....besok kita coba cari Azira bersama-sama ya...Paman berharap kita dapat menemukannya dalam keadaan baik-baik saja.
Sheila tak menjawab...hanya anggukan kepalanya yang mengiyakan ucapan Dias. Tangis Sheila semakin kencang....Dias tak ingin menghentikannya...biar tangis itu menjadi curahan hatinya dan setelah itu dia akan kembali dengan Sheila yang dapat menghadapi hidup dengan kepercayaan diri yang tinggi dan tanpa keputus asaan menggapai semua mimpi-mimpinya....mimpi tentang orang yang sangat dicintainya dan mimpi tentang hari esok yang lebih baik.
Ditempat lain
"Chan.....!!!! aku sudah bialang sama kamu jangan pernah menyepelekan orang....
" Maafkan aku kakak Lee....tapi....
"Tapi apa lagi..!!! apa kamu mau mengelak tentang kegagalan kamu ini hah!!
"Kakak Lee...memang benar apa yang dikatakan oleh Chan kita hampir membunuh Azira....
Takeshi yang berada dekat Mr Chan berusaha membela Mr Chan dihadapan Lee namun nampaknya hal itu semakin membuat Lee marah besar
"Kamu juga !! kamu terlalu meremehkan orang!! sama seperti Chan...kalian berdua tak ada gunanya sama sekali!! Chan..!!! Takeshi...!!! aku perintahkan kalian mencari Azira dan ninja sialan yang menolongnya!!
Lee menarik baju Chan dan Takeshi bersamaan dan......Plak....plak Lee menampar wajah Chan dan Takeshi bersamaan. Walaupun tamparan Lee tak nampak kencang namun tamparanya membuat kedua orang itu terpental beberapa kaki dan langsung mengeluarakan darah segar dari hidung mereka.
"ayo serang aku!! ayooooo!! aku ingin tahu seberapa besar kekuatan kalian sehingga bisa dikalahkan mereka!!!
Chan dan Takeshi saling pandang, mereka ragu untuk menyerang Lee.
"Ayo cepat serang aku!!!
Kembali Lee memaksa mereka untuk menyerangnya. Mendapat tekanan yang begitu besar dari Lee...Mr Chan dan Takeshi langsung memasang kuda-kuda dan menyerang Lee dengan kecepatan tinggi tapi......Lee tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri dan sama sekali tak menghindari serangan mereka dan....duk.....duk,......duk....duk......pukulan dan tendangan mendarat telak di wajah dan tubuh Lee namun..............Lee tak bergerak sedikitpun dan merasa kesakitan....Lee hanya tersenyum sinis memandang mereka.
"heh...cuma segini kekuatan kalian......pantas mereka dengan mudah mengalahkan kalian...ayo tunjukan kekuatan kalian yang paling besarrrr!!!
Mr Chan dan Takeshi melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Mereka tak menyangka kekuatan Lee telah bertambah walaupun dia tak lagi memimpin oraganisasi hitamnya. Mr Chan dan Takeshi penasaran dengan kekuatan Lee. Dengan cepat mereka menghimpun kekuatan yang lebih besar....otot-otot tampak keluar daritangan dan kaki mereka. Kekuatan yang besar itu bisa saja membawa seseorang yang terkenanya langsung ke ujung maut
"Hiatttttttttttt!!!!!
"Hiaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!
keduanya menyerang kembali Lee dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Lee tetap seperti biasa....matanya tajam ke arah serangan yang dilancarkan oleh Mr Chan dan Takeshi dan....
ketika tangan dan kaki Mr Chan dan Takeshi hampir mengenai mereka dengan cepat Lee merubah kuda kudanya dan menampar kaki dan tangan mereka...akibatnya sangat luar biasa.....Mr Chan dan Takeshi langsung terpental 10 kaki kebelakang dan membentur pohon dan tembok yang ada disitu hingga bergetar hebat dan hancur.
"Akhhhh........
"Akhhhhh.......
Mr Chan dan Takeshi terkapar tak berdaya dan kembali mengeluarkan darah segar. Lee hanya menyeringai melihat keduanya jatuh akibat tamparannya yang seakan-akan tidak bertenaga namun mempuyai daya hancur yang sangat luar biasa.
Di tempat lain nun jauh dari kota.........sungai mengalir dengan derasnya sehingga riaknya mampu menerjang apapun yang ada didepannya......kilauan kejernihannya bak permata yang tak pernah redup....diantara riaknya air batu-batu dengan kokohnya berdiri diantara jalur-jalur yang dilalui oleh air dan menghadang lajunya......hamparan sawah menghijau laiknya permadani yang mampu membuat orang tertidur di atasnya dengan nyaman......burung-burung berterbangan mencari pasangannya......Diatas sebuah batu yang cukup besar, seorang laki-laki bercaping duduk diatasnnya dan memandangi derasnya air dengan matanya yang sipit dan tajam. Tubuhnya telah menghitam, namun dapat dipastikan laki-laki itu bukanlah orang biasa. Sesekali ia menjentikan tanganya ke arah sungai dan menimbulkan riakan air yang cukup besar...
"Hm...kemana lagi aku harus mencari mereka?
Laki-laki itu berguman lirih sambil terus menjentikan jarinya..ditatapnya hamparan sawah yang ada didepannya. Tampak olehnya beberapa petani yang sedang membajak sawahnya ditemani kerbaunya yang sudah terlihat kelelahan. Laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan langsung membuka bajunya dan terjun ke air sungai yang cukup dalam dan mandi disana, sesekali ia menyelam dan ketika dia keluar dari permkaan kedua tangannya telah menggenggam dua ekor ikan mas yang lumayan besar. Lalu dilemparnya ikan itu ke tempat dia tadi menyimpan bajunya....Dengan pelan dia menggosok-gosok tubuhnya yang kekar dan menghitam dengan batu sungai yang bersih lalu menyelam lagi. Ketika dia muncul di permukaan air, dia merasakan ada orang yang sedang memperhatikan dirinya.....dengan cepat dia menoleh.....
"Maaf pak.....apa saya mengganggu kegiatan anda??
Seorang laki-laki yang ditemani teman wanitanya langsung menegur laki-laki bercaping yang sedang asik mandi dan menangkap ikan. Laki-laki itu tak menjawab dan hanya menatap mereka dengan tajam.
"Zira....sebaiknya kita tak mengganggu bapak ini, ayo kita pergi...
"Tunggu Layla...aku ingin bertanya padanya tentang sesuatu hal
Kedua orang itu ternyata Azira dan Layla yang memang sedang melewati tempat itu dan tidak sengaja melihat si lelaki bercaping mandi...
"Pak...boleh saya bertanya tentang sesuatu hal pada anda?
Lelaki itu tak juga menjawab pertanyaan Azira dan hanya menoleh pada Layla dengan tajam.
"Baiklah jika anda tak mau menjawab pertanyaan saya dan anda merasa terganggu...tapi saya...saya sangat penasaran dengan anda. Waktu saya sedang bertarung di villa saya di puncak...saya melihat anda di atas dahan pohon...apa anda yang menolong saya dari Chan dan Takeshi...mengapa anda menolong saya?
"Zira...Zira sudahlah....bapak ini tak tau apa-apa..ayo kita pergi.
"Layla...kamu bilang orang yang menolong kita adalah orang bertopeng dan kamu tak mengenalnya...mengapa kamu yakin bukan dia yang menolong kita? Dan aku tahu bapak ini ada disana waktu aku bertarung dengan Can dan Takeshi...
Laki-laki bercaping sedikit terkejut dan kagum dengan penglihatan Azira yang mampu mendeteksi keberadaan dirinya....
"Zira...aku...aku hanya menebak saja dan aku yakin karena tidak mungkin bapak ini beraroma mawar....
"Beraroma mawar...? kenapa kamu baru memberitahuku sekrang Layla.!
Azira meninggikan nada suaranya tanda kesal
"Aku baru saja mengingatnya Zira...karena sebelum pingsan aku sempat mencium aroma tubuhnya...maafkan aku Zira
Layla berusa menyembunyikan rahasia yang dia ketahui tentang wanita berpakaian ninja dan lelaki bercaping yang ada didepannya ini. Melihat Azira dan Layla saling beragumen lelaki ini langsung pergi mengambil pakaian dan ikan yang didapatnya dan pergi meningalkan mereka berdua. Azira dan Layla hanya menatap kepergian lelaki itu dan tak bisa mencegahnya tuk pergi...namun....masih ada yang mengganjal dihati Azira tentang laki2 bercaping itu.
"Pak tunggu......!!
"Pak....!!
Lelaki itu tetap berjalan walaupun Azira telah memanggilnya bahkan dengan gerakan yang ringan dan sangat cepat laki-laki bercaping loncat dari satu pohon ke pohon yang lain. Azira tak lagi mengejarnya walaupun dia tahu bahwa diapun dapat mengejarnya dengan cepat.
"Azira...aku yakin bapak itu tak mau diganggu dan itu salah kita mengganggu dia..baiknya kita pergi dari sini Azira dan menemui paman kamu...aku yakin dia sedang menunggu kamu
"Iya....baiklah..mari kita lanjutkan perjalanan kita..
Azira lalu mengajak Layla melanjutkan perjalannya, memegang tangannya sambil tatapannya masih mengarah pada arah dimana lelaki bercaping itu pergi.
"Layla..kamu yakin bukan bapak itu yang menolong kita ketika aku bertarung dengan Chan dan Takeshi.
"Ya aku yakin sekali Zira....orang yang menolong kita pastilah wanita karena aroma mawar yang berasal dari tubuhnya...
Layla berusaha menyembunyikan apa yang telah diketahuinya tentang laki-laki bercaping yang memberinya pil hingga Azira bisa diselamatkan dan Aurora..wanita berpakaian ninja yang masih menyimpan sejuta misteri karena wanita itu kenal dengan Azira...Layla menebak nebak tentang wanita itu..."Apakah dia orang yang sama seperti dirinya yang sangat mencintai Azira dimasa lalu Azira ataukah orang yang memang dekat dengannya dalam hubungan keluarga.
"Layla...lain kali jika kamu mengetahui tentang suatu hal ada baiknya kamu katakan padaku.
"Iya Zira...maafkan aku..
Mereka terus berjalan menyusuri pematang sawah...kebun.....sungai...hingga akhirnya menemukan jalan raya dan berusaha menghentikan laju mobil sayuran yang akhirnya membawa mereka menuju kediaman Dias. Azira terus bertanya-tanya tentang laki-laki bercaping dan wanita yang menolongnya hingga membuatnya kembali segar walaupun telah terkena racun yang sangat membahayakan jiwanya. Kini Azira berusaha menenangkan hatinya mengingat Dias yang mungkin menganggapnya telah mati.
Di tempat Dias.....
"Sheil.....kamu terlihat sangat kurus...apa kamu sakit?
"Eh,,ehm...engga paman...aku cuma lagi males makan aja. Sheila menjawab pertanyaan Dias sekenanya. pandangannya kosong tak menatap pamannya itu tetapi menatap jauh ke taman dan pintu gerbang yang sejak tadi tertutup karena tak ada angan tuk keluar rumah
"Apa kamu masih memikirkan Azira Sheil..?
"Ehm...Entahlah paman....ketika aku memikirkannya...dia menjauh dalam pikiranku tapi...ketika aku tak memikirkannya dia selalu ada mendekatiku...Sheila capek.
Dias menatap keponakannya dengan rasa pilu berusaha memahami perasaannya. Didekatinya Sheila dan dipelukya dengan rasa hangat laiknya seorang ayah yang sedang mencoba menentramkan anaknya tercinta. Sheila menangis dipelukan Dias...tak ada yang terucap dari bibirnya hanya isak tangisnya saja yang semakin terdengar keras. Dias berusaha menenangkan Sheila dengan membelainya dan mengucapkan kata-kata semangat padanya.
"Sheil....sudahlah...jika kamu berjodoh dengannya...paman yakin dia akan kembali pada kita dan menemui kamu Sheil. Sekarang...hapus air mata kamu Sheil dan tersenyumlah buat paman agar pamanmu yang sudah renta ini tidak ikut-ikutan bersedih..Senyumlah buat pamanmu ini Sheil...
Sheila berusaha menghentikan isak tangisnya dan menatap orang yang ada dihadapnnya itu dan berusaha tersenyum untuknya.
"Nah...begitu lebih baik kan...kamu terlihat lebih cantik jika tersenyum. Sheil...paman sayang kamu..paman harap kamu bisa seperti dahulu dan menemani paman seperti dahulu Renata yang selalu ada buat paman.
"Iya paman...Sheila minta maaf kalau selama ini Sheila selalu merepotkan paman
"Ti....
Belum sempat Dias melanjutakan kata-katanya pintu gerbang dibuka oleh seorang anak buahnya dan.......
Tampak seorang lelaki dan wanita memasuki rumah Dias dengan pakaiannya yang acak-acakan dan rambut yang tak terurus namun Dias dapat mengenali sosok laki-laki yang berjalan menuju dirinya dan Sheila...
"Paman...aku pulang
Hanya sepenggal kata yang terucap dari bibir laki-laki yang ternyata Azira. Dias begitu tak percaya dengan yang dilihatnya. Azira...orang yang selalu dicari-carinya kini tepat berada dihadapannya.
"Zira...Zira...betulkah itu kamu??
Sheila tak bisa lagi menutupi rasa kangen dan gembiranya melihat orang yang dicintainya pulang dalam keadaan selamat. Dengan cepat dia menghambur dan memeluk Azira yang begitu terlihat lelah namun masih bisa memberikan senyum pada Dias da Sheila. Layla menarik nafas panjang ketika dilihatnya Sheila begitu erat memeluk Azira. Azira menyadari hal itu dan dengan lembut berusaha melepaskan pelukan Sheila dan memeluk Dias yang cuma terdiam terpaku.
"Kamu kemana saja Azira, om sangat kehilangan kamu....dan..
Dias menatap Layla dengan penuh penasaran. Layla pun tersenyum pada Dias.
"Siapa dia Azira....apakah dia teman wanita kamu?
"Oh ya om...Ini Layla...dia orang yang telah merawatku selama ini
Dias menyodorkan tangannya mengajak bersalaman pada Layla dan Layla menerimanya dengan rasa hangat. "Layla....
"Dias...
Layla dan Dias saling berkenalan. Sheila yang melihat kejadian itu terpaksa bersalaman dengan Layla dan memperkenalkan dirinya namun dapat dilihat sinar kecemburuan yang dalam dari matanya ketika melihat Azira dan Layla terliihat begitu dekat.
"Mari masuk semuanya, Zira dan Layla...om yakin kalian sangat letih...silahkan masuk dan mandilah dulu lalu setelah itu makan dan istirahat, nanti om ingin sekali mendengarkan cerita kalian berdua dan apa yang telah terjadi selama ini pada kalian oke.
"Terimaksih om
Azira dan Layla mengucapkan rasa terimaksihnya bersamaan dan langsung masuk kedalam diikuti Dias dan Sheila.........
Dimeja makan setelah semuanya telah siap.
Azira duduk bersebelahan dengan Layla sementara Dias bersebelahan dengan Layla. Sheila tak habis-habisnya memandangi Layla.....perasaan cemburunya berkecamuk dan dia berusaha menahannya dan menunjukan perasaannya pada siapapun. Hanya Azira yang dapat merasakan pebedaan itu....tatapan Sheila sangat berbeda dengan Sheila yang dulu yang sedikitpun pernah khawatir akan dirinya walaupun Azira tak mengetahui perasaan Sheila yang sesungguhnya. Dias sangat mengerti situasi yang membuat semuanya serba kaku oleh karena itu ia berusaha mencairkan suasana di meja makannya.
"Sheila....katannya kamu kangen sama Azira...kok sekarang kamu diem aja sih hehehe
Dias berusaha bercanda dengan keponakannya itu.
"Iih paman....aku engga bilang begitu kok...paman bikin malu Sheila aja
Wajah Sheila memerah dengan perasaan yang tak menentu. Azira hanya tersenyum simpul melirik pada Sheila yang tertunduk memandangi nasinya sambil memainkan sendok dan garpu tak tahu apa yang harus diperbuat.
"Om....bagimana bisnis kita...apa semuaanya berjalan lancar??
"Ah...Zira...jangan membicarakan bisnis dulu...semuanya aman dan terkendali, om tahu apa yang harus om lakukan. Kamu tenang aja, justru om ingin tahu apa yang telah terjadi dengan kamu dan Layla?
"Aku diserang oleh Chan dan seseorang yang bernama Takeshi Om...mereka hampir saja membunuhku jika tidak sesorang datang dan menolongku....
"Takeshi.....? Jadi dia sudah kembali???
"Apa paman mengenal dia?? Azira bertanya heran.
"Tentu saja....Chan dan Takeshi adalah orang yang telah menghancurkan hidup sahabat paman. Mereka tak habis-habisnya membenci usaha paman untuk menjadi orang yang hidup di jalur yang benar...
"Maksud paman...??
Dias tak langsung menjawab....ditaruhnya sendok dan garpunya seakan tak lagi berselera makan.
"Dulu............
Dias terdiam sebentar seakan ragu akan melanjutkan ceritanya pada Azira...
"Kenapa om...mengapa om tak menceritakan semuanya pada Zira hingga Zira bisa mengerti persoalan yang sedang dihadapi om. Om....Zira tak ingin berlanjut seperti ini terus..
" Sebenarnya urusan Om dengan Chan bukan hanya terkait dengan Layla saja....Layla adalah urusan kamu dengan Chan karena kamu telah mengambilnya dari Chan
Dias terdiam sebentar sambil melirik Layla yang tertunduk mendengarkan cerita Dias yang mengaitkan dirinya dengan Chan.
"Om harap Layla tak tersinggung....ini benar urusan om dengan Chan...walaupun kamu terkait didalamnya namun itu bukan soal yang berarti bagi om dan Chan. Dulu om dan Chan adalah sahabat dekat yang mengembangkan berbagai bisnis di seluruh Indonesia, namun pada akhirnya Chan menjadi sangat rakus dan berambisi sehingga dia membelot pada musuh kita berdua Lee. Lee mengembangakan bisnis ilegal....penyelundupan....narkoba hingga human trafficking Chan terlibat dalam usaha itu dan meninggalkan bisnis om yang sudah goyah karena uang hasil usaha om seluruhnya di ambil alih Chan. Hingga pada akhirnya paman ditolong oleh seorang pengusaha jepang yang lalu menjadi sahabat paman.
"Lalu om
Zira memotong cerita Dias dan tampak tak sabar dengan kelanjutan ceritanya.
"Heh.....Sudahlah, om tak mau melanjutkan cerita ini...sangat menyedihkan dan om tak mau lagi mengingat semuanya...........lain kali kalau sudah waktunya om akan menceritakan semuanya pada kamu Zira, yang penting sekarang kita harus berhati hati dan mencegah segala kemungkinan yang akan di perbuat Chan pada kita.Azira terhening tak bermaksud memaksa Dias. Karena Dias adalah orang yang sangat dihormatinya.
Disebuah perbatasan kota.
Langit begitu terang bercahaya....panas.....debu berterbangan kemana-mana. Seorang anak kecil menangis dipinggir jalan bersama ibunya yang dengan bersusah payah menenangkan anaknya dan memberinyan air agar tidak kepanasan. Beberapa pengamen bercanda dengan temannya saling ejek dan kejar-kejaran. Mereka seakan tak merasakan teriknya matahari yang membakar bumi.
"Minta air bisa ibu?
"Oh bisa..bisa. Silahkan duduk tuan. Apa tuan mau makan juga?
Disebuah warung yang ramai dengan pengunjung seseorang laki-laki yang memakai caping memesan air minum...
"Ya..ya..sama makan mau juga.
"Mau pakai apa tuan, telur atau daging ayam?
"Telur saja....
"Dari logatnya tuan pasti bukan orang sini?Tuan hendak kemana?
Laki-Laki bercaping mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menunjukan sebuah foto pada si pedagang warung.
"Ya saya memang bukan dari sini orang, Apa anda mengenal orang ini?
Si pedagang menatap foto yang diberikan oleh laki-laki tersebut dan menggerenyitkan dahinya seakan sedang berfikir keras untuk mengenali orang tersebut.
"Ini saya dan...yang satu ini teman saya....dia dulu tinggal disekitar sini apa anda kenal??
"Orang ini.....? Ya..ya..ya..saya kenal orang ini. tapi.....kayaknya dia telah meninggalkan kota ini..
"Jadi anda kenal dan dia telah meninggalkan kota ini?
"Ya..semenjak rumahnya terbakar, rumahnya tak lagi ditempati....
"terbakar?...apa yang terjadi?
"Entahlah tuan.....semuanya terjadi begitu cepat...tak ada yang tahu apa yeng telah terjadi disana. Oh ya ini minum dan makannya tuan...silahkan menikmati
Si pedagang memberikan minum dan makananan yang laki2 bercaping pesan. Sambil makan dan minum laki2 terus berfikir tentang apa yang telah terjadi dengan orang yang bersamanya didalm foto itu.
Setelah selesai menyantap makanan yang disediakan laki-laki bercaping segera membayar makannya dan pergi meningggalkan warung itu dengan cepat sambil sebelumnya bertanya tentang rumah temannya yang ada di foto itu. Langkahnya dengan cepat mengarah ke rumah yang ditunjukan oleh si pedagang padanya. Tak lama setelah itu tibalah ia di depan sebuah rumah yang menyisakan puing-puing yang hanya menyisakan kayu yang telah menjadi arang yang menghitam....ditelusurinya rumah itu dengan cermat dan memperhatikan setiap jengkal rumah itu dengan tajam mengharapkan ada sesuatu yang dapat dia ketahui dari sisa-sisa barang atau apapun yang dapat mengantarnya pada titik temu tentang temannya yang selama ini dicarinya.
tiba-tiba....
"Ada yang bisa saya bantu tuan...?
Suara serak dan kasar menyapanya dan sedikit membuatnya kaget.
"Oh..eh..tidak...ehm siapa kamu?
"Saya Watno tuan...penjaga rumah ini,apa anda sedang mencari sesuatu?
Penjaga rumah yang mengaku bernama watno bertanya pada laki-laki itu dengan rasa curiga
"Ehm...kalau boleh saya tahu....siapa pemillik rumah ini?
"Pemiliknya...? ada hubungan apa tuan dengan tuan Dias..
"Ja..jadi...kamu tahu dia?
"Tentu saja..saya kan sudah bilang bahwa saya yang menjaga rumah ini sebelumnya.
Watno berkerut dan memandang tajam pada laki-laki yang ada didepannya itu.
"Ya...ya....apakah ini dia orangnya??
laki-laki bercaping mengeluarkan foto dari balik bajunya dan menunjukannya pada Watno...
Watno sedikit terkejut melihat foto Dias ada pada laki-laki itu. Dipandanginya terus laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan teliti sekan tak percaya pada orang yang ada dihadapannya itu.
"Ya..ini tuan Dias...mengapa foto ini ada pada tuan? siapa tuan sebenarnya?
"Saya...teman Dias dulu....saya Tanaka....bisa kamu orang bawa saya pada dia?
"Tentu saja tapi....
"Tapi kenapa???
"Saya masih belum percaya pada tuan...apa jaminan tuan untuk tidak menyakiti tuan Dias?
"Kamu harus percaya saya orang...kamu orang kan sudah lihat foto saya bersamanya...sekarang tunjukan dimana dia tinggal!
"Baiklah...tapi jika tuan berbuat macam-macam pada tuan saya...saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi anda tuan!
"Terserah kamu..kamu harus percaya saya...saya orang tidak akan menyakiti tuan anda.
"Ok..sekarang ikuti saya..
Watno mulai percaya pada laki-laki yang mengaku temannya Dias..dengan cepat dia berjalan dan Tanaka segera mengikutinya dari belakang......................bersambung ke episode 6
Minggu, 21 Juni 2009
Selasa, 02 Juni 2009
Biarkan Aku Jadi Orang Palestina (Jihad Rajbi)
Ia telah menyadari kenyataan itu sejak awal. Tepatnya sejak pemimpin redaksi majalah menugaskannya ke Israel untuk meliput perkembangan terakhir negeri itu. Dia menyadari dengan pasti bahwa kini ia sedang memasuki dunia baru yang penuh petualangan. Sebuah dunia yang sarat dengan bau kematian sekaligus suara2 kehidupan. Sekalipun begitu, ia tak menduga sama sekali kalau hal itu akan menjadi awal dari masa ketika ia harus melewatu jenak2 kebimbangan yang terbentang jauh sampai melampaui tapal batas yang mungkn dicapai sepelontaran batu anak2 Palestina. Ia tidak lagi menemukan jalan menuju kehidupan selama ini, di kematian. Ia tak pernah membayangkan bahwa dari tiik2 itu ia kelak akan kehilangan beberapa hurup dari abjad keyakinannya, ditengah gumpalan lahar kata yang panas dan bara perasaan yang menyala-nyala. Dan sekarang , ia bahkan tak dapat memahami suaminya, Albert, seseorang yang selama ini dengan setia selalu ia temani. Rasanya gandengan tangan mereka tak pernah bisa lepas. Atau barangkali ia memang sudah tidak mempercayainya lagi. Ketika itulah , saat2 kesubliman berubah menjadi kemarahan, ia muntahkan semuanya. Dan sambil mengunyahkannya ia berteriak keras2 penuh perasaan yang bergejolak
"Demi Tuhan, sekarang saya benar-benar tidak tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka!!
Sambil menekuri asap rokoknya, suaminya menjawab,
"adalah hak penyerang untuk menentukan warna peperangan"
dengan bersenjatakan batu?
Albert tidak menjawab, ia hanya tersenyum datar sembari mencampakkan puntung rokoknya ke tanah. namun itu ternyata kian membuatnya marah. seketika ia melemparkan sandwichnya dan berteriak penuh emosi
"dengan hanya bersenjatakan batu, semua harapan akan pupus musnah di telan perang yang tak seimbang!"
"siapa bilang yang kita saksikan ini perang?"
"lalu apa namanya?"
sebutlah ia, sesuatu yang tak dapat di hentikan oleh kata yang lusuh.
Cathy menatap tanah, terpekur. sementara gumpalan kekesalan memenuhi rongga dadanya. sejurus kemudian, ia kembali menatap suaminya.
"saya tidak melihat mereka lebih beruntung dari puntung rokok itu". katanya sambil menunjuk puntung rokok yang tergeletak di atas tanah.
"bukan tidak mungkin."
"boleh jadi kehadiranmu menjadi harga bagi kematian mereka".
"Saya kira kamu tidak sedang memperolok-olokan saya kan".
"percayalah, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa batu kecil mereka ternyata memiliki kekuatan sedahsyat itu. kekuatan tersebut rupanya tersembunyi di balik sorot mata mereka. dan mata mereka tak pernah takut pada debu."
Albert memalingkan mukanya dari tatapan istriya. "barangkali dunia harus membuka matanya kembali," gumamnya pelan, seakan-akan hanya ia tujukan pada dirinya sendiri.
Dan kesubliman itu makin memadati celah-celah benak Cathy.sesuatu yang membuatnya kian tak mampu memahami Albert, suaminya. di depan matanya, seluruh dimensi lain yang menyelimuti kepribadian Albert terlalu luas. sementara itu, ia merasa terlalu sederhana agar dapat memahaminya. kebingungan Cathy tampak jelas ketika ia kembali bertanya:" apa yang mereka inginkan dari semua ini?"
"mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih kecuali dengan cara itu"
mendengar jawaban tersebut Cathy langsung memegang tangan suaminya. dan dengan tatapan lesu, ia berkata,"Albert, ah, saya benar-benar tidak dapat memahamimu lagi."
Albert segera memeluk istrinya, dan menyandarkan kepala dalam dekapan."mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat mereka merasa rugi. mereka hanya..."
" yah, mereka memang anak-anak. mereka masih terlalu kecil. mereka belum tahu apa arti perang..." potong istrinya.
"Anak-anak di lahirkan untuk kehidupan. tapi mereka? mereka? mereka di lahirkan bersama kematian!"
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil! hanya kedamaian yang hidup dalam pancaran mata mereka."
"perdamaian berarti kebebasan." (kegeraman dalam suara-suara tersebut bagai merasuki kata-katanya, atau itu amarah kesedihannya?)
Albert kembali menyiagakan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. sejurus kemudian mereka berdua kembali mengejar serdadu-serdadu Israel yang mulai memuntahkan peluru.
Dimata tentara Israel, segala sesuatu menjelma menjadi batu kemarahan. bahkan kabel-kabel listrik, tangan-tangan kecil, kaleng-kaleng sirop yang tergeletak di jalan-jalan, semuanya beralih menjadi benda-benda menakutkan yang setiap sat bisa mematikan.
Albert berhenti sejenak, sebuat panorama yang telah lama diimpikan tiba-tiba muncul di depan matanya. segera saja ia mengabadikan pemandangan langka itu dengan bidikan jitunya. dalam foto itu, tampak wajah seorang bocah yang sedang gusar. sayatan sembilu kesenduan, yang memancar dari kedua bola matanya yang beditu memilukan, bersekutu erat dengan kedua tangannya yang tempak begitu kekar dan teguh. prototip anak-anak palestina.
dalam gamar itu juga terlihat potret seorang serdadu Israel yang tampak bagai raksasa yang bodoh. air mukanya mengesankan bahwa ia tidak menyadari kekerdilan yang berakar di dalam hatinya, yang terus membuatnya bergidik dirundung ketakutan.
Albert memegang pundak istrinya. ia tersenyum, lalu berkata,"coba kita saksikan nanti, apa kata dunia saat menyaksikan potret tentara Israel yang sesungguhnya."
"saya tidak pernah tahu kalau kau ternyata membenci orang-orang Israel."
"percayalah, saya tidak membenci mereka."
"tapi sekarang kamu menunjukkannya."
"dengan segala kepengecutan mereka? dan dengan seluruh kebengisan mereka? yah, saya memang membenci mereka!"
"bukan suatu kesalahan jika mereka mencintai hidup."
"namun adalah zalim jika seseorang mempertahankan kehidupan dirinya dengan merampok umur orang lain."
"jadi kamu percaya pada bocah-bocah itu?"
"ya, seperti keyakinanku pada matahari, dan pada kebenaran yang telah mendorong saya datang ke sini. yakinlah, saya ridak akan sanggup melawan tentara Israel dengan hanya bersenjatakan batu-batu kecil. misteri kekuatannya tersembunyi di balik tangan-tangan mereka, sayang. bukan pada batu-batu itu."
"namun lontaran batu-batu mereka akan berjatuhan, lalu dihancurleburkan oleh peluru."
"peluru itu sudah habis sejak ditembakkan. tapi batu-batu mereka tetap abadi, karena bumi selalu setia menyimpan pecahan-pecahannya."
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil."
"benar. namun ketika mereka mulai menggenggam batu-batu, mereka bukan lagi anak kecil."
khayalan Albert lalu melayang jauh, kemudian dengan tiba-tiba ia kembali berucap, "semalam kamu menangis.mengapa?apa yang terjadi?"
"tak ada apa-apa. kecuali tulang belulang yang hancur remuk, sejumlah orang yang dikubur hidup-hidup, kepala-kepala yang terus menerus dihajar pentungan. tak ada apa-apa. kecuali hanya kematian. Yah, kematian tanpa harga."
"Saya ingin kamu kembali ke Amerika."
"Saya tidak akan meninggalkanmu seorang diri."
"Yakinlah, kamu tidak akan sanggup membawa beban lebih dari ini. mereka semua ketakutan. saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita jika kita membuat mereka marah?"
sebuat tatapan penolakan di layangkan Cathy kepada seaminya. sebentar kemudian ia mengingatkan,
"kebijakan tak pernah bisa berdampingan dengan ketakutan,Albert!"
"pekerjaan kita penuh bahaya. kuharap, kembalilah. perca...."
Albert tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. tiba-tiba ia berlari cepat, mengejar serdadu-serdadu Israel yang kembali menembakkan senjata dan menyemburkan gas air mata.
Seorang serdadu Israel yang takut melihat sorot matanya segera menangkapnya. mereka memukulinya ramai-ramai. Gadis kecil itu tampak begitu suci. Ia bahkan lebih suci dari cahaya fajar. yah, fajar yang di benci oleh serdadu-serdadu itu.
Pemandangan tadi membuat Albert kehilangan kesabaran. ia tak sanggup melanjutkan pemotretannya lagi. Ia tidak tahan lagi berdian diri bagaikan fokus kamera. seluruh kemarahannya tumpah dalam teriakannya:
"kalian akan membunuhnya!"
Seorang serdadu Israel menatapnya, dengan dendam. Ia kemudian mendorong Albert agar menjauh. Ia juga merampas kamera dari tangannya, menghempaskannya ke tanah dan menginjak-injaknya dengan kedua kakinya. Albert berusaha membela diri dan istrinya, yang telah menjadi pasangan hidupnya sejak ia menjadi wartawan. Namun serdadu Israel itu tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia bahkan memukul kepalanya. Ia mengucapkan begitu banyak kata tanpa arti yang jelas. Ia tampak begitu dendam bagai topan, tapi sekaligus takut bagai pasir.
Cathy segera manghampiri suaminya sembari berteriak sekeras-kerasnya. semua kata-kata busuk, yang mungkin dipakai mengata-ngatai serdadu-serdadu keparat itu, ia keluarkan, sambil membalut luka suaminya. Ia lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang malam Cathy duduk menunggui suaminya. pemandangan ini seperti menghidupkan luka-lukanya. Perlahan suaminya tampak mulai membuka matanya. seketika ia percaya bahwa musibah ini terasa akan lebih ramah.
dengan senyum yang dibuat-buat, Cathy berkata,"Saya tahu kamu belum akan mati. tenanglah. kita tak akan mendiamkan kejadian ini.Dunia pasti akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. tidak usah khawatir, saya telah membelikan kamera baru untukmu."
"Cathy, sayangku, demi aku kembalilah ke Amerika."
"setelah kejadian ini?mustahil!"
"mereka semua ketakutan."
"tidak, sebelum aku membelalakkan mata dunia dengan kenyataan yang sesungguhnya."
Albert terdiam sejenak. sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, ia berucap,"orang boleh menemukan kebenaran di setiap tempat. namun hanya di sini orang dapat merasakannya."
"Saya akan mengadukan serdadu-serdadu yang menyerangmu ke pengadilan,"ujar Cathy.
Albert kembali meraba kepalanya dengan kepalan tangan. Ia menyeringai, lalu tertawa dan berkata, "Jangan berbuat tolol."
"Kamu mulai latah, Albert."
"Saya telah merenung begitu lama hingga akhirnya saya bisa memahami misteri permainan ini."
"Wah, boleh juga punya suami folosof."
Air mukanya tiba-tiba berubah seketika seakan-akan mengingat sesuatu, kemudian ia bertanya,
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?"
"serdadu-serdaduIsrael memasuki rumah-rumah penduduk dan memukili mereka tanpa ampun, lalu merampasi harta benda mereka."
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?" Albert mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi.
"ia tewas!"
Mendengarnya Albert langsung berdiri dari tempat tidurnya. Ia merasa begitu sedih dan murung. Ia menatap ke kejauhan, menatap kekosongan. Ia mendesis,"tak seorang pun menolongnya."
"Mereka mengikutinya sampai ke rumah sakit. tapi kemudian mereka membunuhnya di sana," ujar Cathy.
"sendiri?" tanya Albert.
"Orang-orang Israel itu tidak percaya pada jumlah yang kecil."
Cathy terdiam sejenak. lalu dengan nada suara tinggi ia mengatakan, " mereka harus membayar harga kegilaan mereka akan darah yang tercurah."
kemudian Cathy keluar dari ruangan itu. Air matanya tumpah. setiap detik beralu begitu bengis, sebengis wajah serdadu-serdadu Israel yang berkeliaran di jalan-jalan. begitu menyakitkan! pahit seperti darah bocah-bocah cilik itu.
Cathy kembali menenteng kameranya, menelusuri jalan-jalan palestina. Ia mencari kisah baru, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan kemenangan untuk sebuah perang yang belum dimulai, tentang seorang bocah yang mengancungkan tangan demi cinta, dan perang!
seorang bocah kecil, yang sedang mencari mimpi-mimpi kepahlawanan, mendekati seorang serdadu Israel, lalu melemparnya dengan sebuah batu kecil. matanya nyalang dan menyala. sama sekali tak ada ketakutan terpancar dari sorot matanya. di matanya, masa kanak-kanaknya tampak seperti sebuah makhluk baru, tempat segala sesuatu lebur menjadi satu, kemudian dengan tiba-tiba menemukan betapa tidak berartinya tatapan matamu padanya, betapa tiada bertepinya tepat bersandar seluruh angan-anganmu. masa kanak-kanak di matanya bagai garis-garis tanpa warna yang salig bersilangan. dan kau tahu, setiap bocah Pelestina membawa makhluk seperti ini dalam bola matanya.
Serdadu itu berusaha menangkapnya. namun tubuhnya yang ringan membuat si serdadu gagal menghisap darahnya dan meremuk-remuk tulang belulangnya yang masih rawan.
Cathy segera menjepret adegan yang begitu berani yang diperagakan bocah tersebut. kebahagiaan terbayang jelas di wajahnya melihat bocah kecil itu berhasil lolos dari kejaran serdadu Israel. Kini ia tahu, bukan hanya orang-orang Indian yang pandai menguliti kepala manusia! akan tetapi ia masih bisa menemukan sejumlah alasan yang mungkin membenarkan oran-orang Indian itu melakukannya.
Serdadu Israel itu segera sadar akan kehadiran Cathy. Amarahnya meledak. Ia berusaha mengusir Cathy dengan kasar. Namun, sebuath batu, yang tiba-tiba dilemparkan si bocah untuk kedua kalinya, memaksa serdadu Israel itu meninggalkannya. Ia segera memburu kencang, sangat kencang, mengejar si bocah sembari berteriak mengancam akan membunuhnya.
Serdadu itu menebarkan peluru senapannya ke segala arah. akan tetapi tubuh bocah kecil itu enggan disasari peluru.
Cathy berusaha mendekati bocah-bocah pembangkang tersebut. Ia melihat seorang bocah yang sejak tadi mengawasinya. Si bocah tampak bingung. Cathy mendekatinya dengan hati-hati. Cathy sama sekali tidak merasa kalu bocah itu takut atau ragu padanya. Ia lalu memegang kedua tangan kurusnya yang berlumuran darah dan debu bebatuan. dan dengan hangat ia mendaratkan sebuah ciuman ke jidatnya. Oh, betapa ia merasa begitu kerdil di depan sang pembangkang kecil.
Kemudian dilepaskan kalung kesayangan yang selama ini dipakainya. Ia merasa kalung itulah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Ia lalu memasangkannya ke leher bocah, dan menatapnya sendu.
Pelan-pelan anak itu menjauhi Cathy, kemudian memungut sebuah batu kecil dari tanah dan menyerahkannya padanya. Itulah hadiah termahal dari bocah pembangkang. barangkali bocah tersebut belum terlalu memahami makna tindakan wartawati Barat itu padanya. namun ia agaknya merasa bahwa si wartawati tidak berbeda jauh dengan ibunya yang selalu menunjukinya tempat-tempat yang banyak menyimpan pecahan batu.
Cathy menggenggam batu kecil itu. Ia merenunginya dalam-dalam. Ia kemudian pergi seorang diri. Mata bocah pembangkang tadi masih terus memandangi kepergiannya. Hingga akhirnya Cathy menjauh bersama hadiah termahalnya. dan si bocah pun kembali memungut batunya, kembali bergelut dengan serdadu-serdadu yang terus memburu dengan rasa haus akan kucuran darahnya.
Dari kejauhan Cathy kembali menatap si bocah kecil. semua peristiwa di masa lalu kembali terekam cepat dalam ingatannya. kini semua menjadi jelas. sekaligus mengerikan. masa kanak-kanak tidak mungkin sirna di tengah negeri perdamaian dan anak-anak. Cathy masih menatap anak tadi seakan hendak menyimpannya dalam matanya, selamanya.
Bocah kecil itu berlari bagai anak panah, melemparkan batu kecilnya, dan meneriakkan kata-kata yang tak dapat dipahami Cathy. Sekalipun ia yakin bahwa kata-kata itulah yang menghidupkan revolusi pada kedua bola mata mereka, pada telapak kaki mereka.
Si bocah terus meneriakkan "Allahu Akbar". Namun tiba-tiba saja serdadu Israel menggilasnya dengan kendaraan lapis baja. Bocah kecil itu berusaha berlari dan menghindar. Ia berusaha mencari dada ibunya.(dia bocah kecil. mengapa mobil berlapis baja harus menjadikan tubuhnya yang masih hijau sebagai batu-batu jalanan?)
Seakan kesurupan Cathy menghampirinya. Ia berteriak, "tidak!tidak!tidak!" Namun teriakannya takkan pernah sampai ke telinga siapa pun. kendaraan lapis baja mengubah tubuh kecil yang masih hijau itu sebagai mimpi yang tak sempat menjadi kenyataan.
Cathy melemparkan dirinya yang remuk redam ke atas tanah. Dipeluknya erat-erat bocah yang masih berlumuran darah itu. Si bocah masih mengenakan kalung pemberiannya. Dan tersenyum seperti bocah lainnya.
Itu wajah seorang bocah. Mengapa mereka mengotorinya dengan darah? Bahaya apakah yang mungkin ditimbulkan oleh sebuat batu kecil, dari seorang bocah kecil, bagi para serdadu bersenjata api otomatis itu?
Cathy menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Ia berusaha membangunkannya. bocah itu terlalu lembut. Mengapa ia harus mati? Umurnya pasti belum sampai enam tahun. akan tetapi mengapa ia harus mati begitu cepat?
Cathy menatap gusar ceceran darah yang mengucur ke bumi. kemudian ia menatap tangannya sendiri yang maish menggenggam hadiah termahal dari si bocah. ia merasa seperti dihentakkan oleh kesedihan dan kemarahan. lalu tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya, dibangkitkan oleh kekuatan yang tidak dibawa bocah-bocah pembangkang di tanah jajahan,"Tidak!tidak!tidak!" dan serta merta hadiah si bocah kecil ia lontarkan sekuat tenaga ke arah serdadu-serdadu Israel.
Cathy terus berteriak, terus memungut batu-batu bersama bocah-bocah lainnya, dan melemparkannya ke tentara Israel itu. Ia terus dan terus membalaskan dendam demi darah suaminya dan darah bocah kecil itu.
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Biarkan aku jadi orang Palestina!
"Demi Tuhan, sekarang saya benar-benar tidak tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka!!
Sambil menekuri asap rokoknya, suaminya menjawab,
"adalah hak penyerang untuk menentukan warna peperangan"
dengan bersenjatakan batu?
Albert tidak menjawab, ia hanya tersenyum datar sembari mencampakkan puntung rokoknya ke tanah. namun itu ternyata kian membuatnya marah. seketika ia melemparkan sandwichnya dan berteriak penuh emosi
"dengan hanya bersenjatakan batu, semua harapan akan pupus musnah di telan perang yang tak seimbang!"
"siapa bilang yang kita saksikan ini perang?"
"lalu apa namanya?"
sebutlah ia, sesuatu yang tak dapat di hentikan oleh kata yang lusuh.
Cathy menatap tanah, terpekur. sementara gumpalan kekesalan memenuhi rongga dadanya. sejurus kemudian, ia kembali menatap suaminya.
"saya tidak melihat mereka lebih beruntung dari puntung rokok itu". katanya sambil menunjuk puntung rokok yang tergeletak di atas tanah.
"bukan tidak mungkin."
"boleh jadi kehadiranmu menjadi harga bagi kematian mereka".
"Saya kira kamu tidak sedang memperolok-olokan saya kan".
"percayalah, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa batu kecil mereka ternyata memiliki kekuatan sedahsyat itu. kekuatan tersebut rupanya tersembunyi di balik sorot mata mereka. dan mata mereka tak pernah takut pada debu."
Albert memalingkan mukanya dari tatapan istriya. "barangkali dunia harus membuka matanya kembali," gumamnya pelan, seakan-akan hanya ia tujukan pada dirinya sendiri.
Dan kesubliman itu makin memadati celah-celah benak Cathy.sesuatu yang membuatnya kian tak mampu memahami Albert, suaminya. di depan matanya, seluruh dimensi lain yang menyelimuti kepribadian Albert terlalu luas. sementara itu, ia merasa terlalu sederhana agar dapat memahaminya. kebingungan Cathy tampak jelas ketika ia kembali bertanya:" apa yang mereka inginkan dari semua ini?"
"mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih kecuali dengan cara itu"
mendengar jawaban tersebut Cathy langsung memegang tangan suaminya. dan dengan tatapan lesu, ia berkata,"Albert, ah, saya benar-benar tidak dapat memahamimu lagi."
Albert segera memeluk istrinya, dan menyandarkan kepala dalam dekapan."mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat mereka merasa rugi. mereka hanya..."
" yah, mereka memang anak-anak. mereka masih terlalu kecil. mereka belum tahu apa arti perang..." potong istrinya.
"Anak-anak di lahirkan untuk kehidupan. tapi mereka? mereka? mereka di lahirkan bersama kematian!"
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil! hanya kedamaian yang hidup dalam pancaran mata mereka."
"perdamaian berarti kebebasan." (kegeraman dalam suara-suara tersebut bagai merasuki kata-katanya, atau itu amarah kesedihannya?)
Albert kembali menyiagakan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. sejurus kemudian mereka berdua kembali mengejar serdadu-serdadu Israel yang mulai memuntahkan peluru.
Dimata tentara Israel, segala sesuatu menjelma menjadi batu kemarahan. bahkan kabel-kabel listrik, tangan-tangan kecil, kaleng-kaleng sirop yang tergeletak di jalan-jalan, semuanya beralih menjadi benda-benda menakutkan yang setiap sat bisa mematikan.
Albert berhenti sejenak, sebuat panorama yang telah lama diimpikan tiba-tiba muncul di depan matanya. segera saja ia mengabadikan pemandangan langka itu dengan bidikan jitunya. dalam foto itu, tampak wajah seorang bocah yang sedang gusar. sayatan sembilu kesenduan, yang memancar dari kedua bola matanya yang beditu memilukan, bersekutu erat dengan kedua tangannya yang tempak begitu kekar dan teguh. prototip anak-anak palestina.
dalam gamar itu juga terlihat potret seorang serdadu Israel yang tampak bagai raksasa yang bodoh. air mukanya mengesankan bahwa ia tidak menyadari kekerdilan yang berakar di dalam hatinya, yang terus membuatnya bergidik dirundung ketakutan.
Albert memegang pundak istrinya. ia tersenyum, lalu berkata,"coba kita saksikan nanti, apa kata dunia saat menyaksikan potret tentara Israel yang sesungguhnya."
"saya tidak pernah tahu kalau kau ternyata membenci orang-orang Israel."
"percayalah, saya tidak membenci mereka."
"tapi sekarang kamu menunjukkannya."
"dengan segala kepengecutan mereka? dan dengan seluruh kebengisan mereka? yah, saya memang membenci mereka!"
"bukan suatu kesalahan jika mereka mencintai hidup."
"namun adalah zalim jika seseorang mempertahankan kehidupan dirinya dengan merampok umur orang lain."
"jadi kamu percaya pada bocah-bocah itu?"
"ya, seperti keyakinanku pada matahari, dan pada kebenaran yang telah mendorong saya datang ke sini. yakinlah, saya ridak akan sanggup melawan tentara Israel dengan hanya bersenjatakan batu-batu kecil. misteri kekuatannya tersembunyi di balik tangan-tangan mereka, sayang. bukan pada batu-batu itu."
"namun lontaran batu-batu mereka akan berjatuhan, lalu dihancurleburkan oleh peluru."
"peluru itu sudah habis sejak ditembakkan. tapi batu-batu mereka tetap abadi, karena bumi selalu setia menyimpan pecahan-pecahannya."
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil."
"benar. namun ketika mereka mulai menggenggam batu-batu, mereka bukan lagi anak kecil."
khayalan Albert lalu melayang jauh, kemudian dengan tiba-tiba ia kembali berucap, "semalam kamu menangis.mengapa?apa yang terjadi?"
"tak ada apa-apa. kecuali tulang belulang yang hancur remuk, sejumlah orang yang dikubur hidup-hidup, kepala-kepala yang terus menerus dihajar pentungan. tak ada apa-apa. kecuali hanya kematian. Yah, kematian tanpa harga."
"Saya ingin kamu kembali ke Amerika."
"Saya tidak akan meninggalkanmu seorang diri."
"Yakinlah, kamu tidak akan sanggup membawa beban lebih dari ini. mereka semua ketakutan. saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita jika kita membuat mereka marah?"
sebuat tatapan penolakan di layangkan Cathy kepada seaminya. sebentar kemudian ia mengingatkan,
"kebijakan tak pernah bisa berdampingan dengan ketakutan,Albert!"
"pekerjaan kita penuh bahaya. kuharap, kembalilah. perca...."
Albert tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. tiba-tiba ia berlari cepat, mengejar serdadu-serdadu Israel yang kembali menembakkan senjata dan menyemburkan gas air mata.
Seorang serdadu Israel yang takut melihat sorot matanya segera menangkapnya. mereka memukulinya ramai-ramai. Gadis kecil itu tampak begitu suci. Ia bahkan lebih suci dari cahaya fajar. yah, fajar yang di benci oleh serdadu-serdadu itu.
Pemandangan tadi membuat Albert kehilangan kesabaran. ia tak sanggup melanjutkan pemotretannya lagi. Ia tidak tahan lagi berdian diri bagaikan fokus kamera. seluruh kemarahannya tumpah dalam teriakannya:
"kalian akan membunuhnya!"
Seorang serdadu Israel menatapnya, dengan dendam. Ia kemudian mendorong Albert agar menjauh. Ia juga merampas kamera dari tangannya, menghempaskannya ke tanah dan menginjak-injaknya dengan kedua kakinya. Albert berusaha membela diri dan istrinya, yang telah menjadi pasangan hidupnya sejak ia menjadi wartawan. Namun serdadu Israel itu tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia bahkan memukul kepalanya. Ia mengucapkan begitu banyak kata tanpa arti yang jelas. Ia tampak begitu dendam bagai topan, tapi sekaligus takut bagai pasir.
Cathy segera manghampiri suaminya sembari berteriak sekeras-kerasnya. semua kata-kata busuk, yang mungkin dipakai mengata-ngatai serdadu-serdadu keparat itu, ia keluarkan, sambil membalut luka suaminya. Ia lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang malam Cathy duduk menunggui suaminya. pemandangan ini seperti menghidupkan luka-lukanya. Perlahan suaminya tampak mulai membuka matanya. seketika ia percaya bahwa musibah ini terasa akan lebih ramah.
dengan senyum yang dibuat-buat, Cathy berkata,"Saya tahu kamu belum akan mati. tenanglah. kita tak akan mendiamkan kejadian ini.Dunia pasti akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. tidak usah khawatir, saya telah membelikan kamera baru untukmu."
"Cathy, sayangku, demi aku kembalilah ke Amerika."
"setelah kejadian ini?mustahil!"
"mereka semua ketakutan."
"tidak, sebelum aku membelalakkan mata dunia dengan kenyataan yang sesungguhnya."
Albert terdiam sejenak. sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, ia berucap,"orang boleh menemukan kebenaran di setiap tempat. namun hanya di sini orang dapat merasakannya."
"Saya akan mengadukan serdadu-serdadu yang menyerangmu ke pengadilan,"ujar Cathy.
Albert kembali meraba kepalanya dengan kepalan tangan. Ia menyeringai, lalu tertawa dan berkata, "Jangan berbuat tolol."
"Kamu mulai latah, Albert."
"Saya telah merenung begitu lama hingga akhirnya saya bisa memahami misteri permainan ini."
"Wah, boleh juga punya suami folosof."
Air mukanya tiba-tiba berubah seketika seakan-akan mengingat sesuatu, kemudian ia bertanya,
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?"
"serdadu-serdaduIsrael memasuki rumah-rumah penduduk dan memukili mereka tanpa ampun, lalu merampasi harta benda mereka."
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?" Albert mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi.
"ia tewas!"
Mendengarnya Albert langsung berdiri dari tempat tidurnya. Ia merasa begitu sedih dan murung. Ia menatap ke kejauhan, menatap kekosongan. Ia mendesis,"tak seorang pun menolongnya."
"Mereka mengikutinya sampai ke rumah sakit. tapi kemudian mereka membunuhnya di sana," ujar Cathy.
"sendiri?" tanya Albert.
"Orang-orang Israel itu tidak percaya pada jumlah yang kecil."
Cathy terdiam sejenak. lalu dengan nada suara tinggi ia mengatakan, " mereka harus membayar harga kegilaan mereka akan darah yang tercurah."
kemudian Cathy keluar dari ruangan itu. Air matanya tumpah. setiap detik beralu begitu bengis, sebengis wajah serdadu-serdadu Israel yang berkeliaran di jalan-jalan. begitu menyakitkan! pahit seperti darah bocah-bocah cilik itu.
Cathy kembali menenteng kameranya, menelusuri jalan-jalan palestina. Ia mencari kisah baru, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan kemenangan untuk sebuah perang yang belum dimulai, tentang seorang bocah yang mengancungkan tangan demi cinta, dan perang!
seorang bocah kecil, yang sedang mencari mimpi-mimpi kepahlawanan, mendekati seorang serdadu Israel, lalu melemparnya dengan sebuah batu kecil. matanya nyalang dan menyala. sama sekali tak ada ketakutan terpancar dari sorot matanya. di matanya, masa kanak-kanaknya tampak seperti sebuah makhluk baru, tempat segala sesuatu lebur menjadi satu, kemudian dengan tiba-tiba menemukan betapa tidak berartinya tatapan matamu padanya, betapa tiada bertepinya tepat bersandar seluruh angan-anganmu. masa kanak-kanak di matanya bagai garis-garis tanpa warna yang salig bersilangan. dan kau tahu, setiap bocah Pelestina membawa makhluk seperti ini dalam bola matanya.
Serdadu itu berusaha menangkapnya. namun tubuhnya yang ringan membuat si serdadu gagal menghisap darahnya dan meremuk-remuk tulang belulangnya yang masih rawan.
Cathy segera menjepret adegan yang begitu berani yang diperagakan bocah tersebut. kebahagiaan terbayang jelas di wajahnya melihat bocah kecil itu berhasil lolos dari kejaran serdadu Israel. Kini ia tahu, bukan hanya orang-orang Indian yang pandai menguliti kepala manusia! akan tetapi ia masih bisa menemukan sejumlah alasan yang mungkin membenarkan oran-orang Indian itu melakukannya.
Serdadu Israel itu segera sadar akan kehadiran Cathy. Amarahnya meledak. Ia berusaha mengusir Cathy dengan kasar. Namun, sebuath batu, yang tiba-tiba dilemparkan si bocah untuk kedua kalinya, memaksa serdadu Israel itu meninggalkannya. Ia segera memburu kencang, sangat kencang, mengejar si bocah sembari berteriak mengancam akan membunuhnya.
Serdadu itu menebarkan peluru senapannya ke segala arah. akan tetapi tubuh bocah kecil itu enggan disasari peluru.
Cathy berusaha mendekati bocah-bocah pembangkang tersebut. Ia melihat seorang bocah yang sejak tadi mengawasinya. Si bocah tampak bingung. Cathy mendekatinya dengan hati-hati. Cathy sama sekali tidak merasa kalu bocah itu takut atau ragu padanya. Ia lalu memegang kedua tangan kurusnya yang berlumuran darah dan debu bebatuan. dan dengan hangat ia mendaratkan sebuah ciuman ke jidatnya. Oh, betapa ia merasa begitu kerdil di depan sang pembangkang kecil.
Kemudian dilepaskan kalung kesayangan yang selama ini dipakainya. Ia merasa kalung itulah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Ia lalu memasangkannya ke leher bocah, dan menatapnya sendu.
Pelan-pelan anak itu menjauhi Cathy, kemudian memungut sebuah batu kecil dari tanah dan menyerahkannya padanya. Itulah hadiah termahal dari bocah pembangkang. barangkali bocah tersebut belum terlalu memahami makna tindakan wartawati Barat itu padanya. namun ia agaknya merasa bahwa si wartawati tidak berbeda jauh dengan ibunya yang selalu menunjukinya tempat-tempat yang banyak menyimpan pecahan batu.
Cathy menggenggam batu kecil itu. Ia merenunginya dalam-dalam. Ia kemudian pergi seorang diri. Mata bocah pembangkang tadi masih terus memandangi kepergiannya. Hingga akhirnya Cathy menjauh bersama hadiah termahalnya. dan si bocah pun kembali memungut batunya, kembali bergelut dengan serdadu-serdadu yang terus memburu dengan rasa haus akan kucuran darahnya.
Dari kejauhan Cathy kembali menatap si bocah kecil. semua peristiwa di masa lalu kembali terekam cepat dalam ingatannya. kini semua menjadi jelas. sekaligus mengerikan. masa kanak-kanak tidak mungkin sirna di tengah negeri perdamaian dan anak-anak. Cathy masih menatap anak tadi seakan hendak menyimpannya dalam matanya, selamanya.
Bocah kecil itu berlari bagai anak panah, melemparkan batu kecilnya, dan meneriakkan kata-kata yang tak dapat dipahami Cathy. Sekalipun ia yakin bahwa kata-kata itulah yang menghidupkan revolusi pada kedua bola mata mereka, pada telapak kaki mereka.
Si bocah terus meneriakkan "Allahu Akbar". Namun tiba-tiba saja serdadu Israel menggilasnya dengan kendaraan lapis baja. Bocah kecil itu berusaha berlari dan menghindar. Ia berusaha mencari dada ibunya.(dia bocah kecil. mengapa mobil berlapis baja harus menjadikan tubuhnya yang masih hijau sebagai batu-batu jalanan?)
Seakan kesurupan Cathy menghampirinya. Ia berteriak, "tidak!tidak!tidak!" Namun teriakannya takkan pernah sampai ke telinga siapa pun. kendaraan lapis baja mengubah tubuh kecil yang masih hijau itu sebagai mimpi yang tak sempat menjadi kenyataan.
Cathy melemparkan dirinya yang remuk redam ke atas tanah. Dipeluknya erat-erat bocah yang masih berlumuran darah itu. Si bocah masih mengenakan kalung pemberiannya. Dan tersenyum seperti bocah lainnya.
Itu wajah seorang bocah. Mengapa mereka mengotorinya dengan darah? Bahaya apakah yang mungkin ditimbulkan oleh sebuat batu kecil, dari seorang bocah kecil, bagi para serdadu bersenjata api otomatis itu?
Cathy menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Ia berusaha membangunkannya. bocah itu terlalu lembut. Mengapa ia harus mati? Umurnya pasti belum sampai enam tahun. akan tetapi mengapa ia harus mati begitu cepat?
Cathy menatap gusar ceceran darah yang mengucur ke bumi. kemudian ia menatap tangannya sendiri yang maish menggenggam hadiah termahal dari si bocah. ia merasa seperti dihentakkan oleh kesedihan dan kemarahan. lalu tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya, dibangkitkan oleh kekuatan yang tidak dibawa bocah-bocah pembangkang di tanah jajahan,"Tidak!tidak!tidak!" dan serta merta hadiah si bocah kecil ia lontarkan sekuat tenaga ke arah serdadu-serdadu Israel.
Cathy terus berteriak, terus memungut batu-batu bersama bocah-bocah lainnya, dan melemparkannya ke tentara Israel itu. Ia terus dan terus membalaskan dendam demi darah suaminya dan darah bocah kecil itu.
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Langganan:
Komentar (Atom)
Me lagi
Bergembira