Brakkkk......gedebuk.....ahhhh.....seorang laki-laki berlari dengan cepat menghindari bebatuan....semak-semak dan pepohonan yang menghalangi jalannya .Namun tetap kakinya tersandung akar pohon yang sangat besar....ada rona ketakutan diwajahnya....pemuda kampung yang menggunakan baju hitam yang telah robek dimana...wajahnya tampan berkulit kuning....dibalik wajahnya yang ketakutan tak dapat disembunyikan pula rasa sakit yang telah menjalari badan dan kakinya....
"tolong....tolong.....
dengan sekuat tenaga pemuda tampan itu berteriak kencang dan terus berlari tak menentu...tampak dibelakang pemuda itu seekor srigala berwarna putih mengejarnya....tak ada senjata yang dia pegang....arah larinya terus masuk kedalam hutan yan semakin gelap.
dan....dug....sekali lagi kakinya tersandung akar dan membuatnya terjatuh terpelanting..akhhhh
pemuda itu tak bisa lagi berharap banyak ketika srigala itu semakin dekat padanya dan berdiri satu meter didepannya......pemuda itu merangkak pelan mencoba untuk kembali bangkit....darah telah keluar dari kaki dan badannya yang terkena pohon dan duri yang ada di dalam hutan....srigala itu terus memperhatikan sang pemuda namun anehnya srigala itu tak menyerang langsung si pemuda dan hanya memperhatikan orang yang ada didepannya itu....tak ada tanda-tanda menyerang...tiba-tiba......................Auuuuuuuuuuuu.
Srigala putih itu melolong panjang, matanya merah menyala seakan hendak menyerang dan menerkam pemuda yang sudah tak berdaya dan hanya menyerahkan hidupnya pada Tuhan.....namun tetap tak ada tanda-tanda srigala itu akan menyerang....bahkan srigala itu duduk dengan santainya dan mengibas-ngibaskan ekornya laiknya seekor anjing yang telah jinak. Pemuda itu tampak begitu terheran-heran memperhatikan srigala yang ada didepannya. Sang srigala putih menatap tajam ke atas pemuda itu dan tanpa disadari si pemuda ada sebuah bayangan hitam diatas pohon yang sedang memperhatikannya dan....wus....wus....wus sekali melompat bayangan itu telah ada dihadapan si pemuda dan semakin membuatnya panik....
"Si....si...siapa kamu? jangan sakiti aku....aku cuma tersesat ke hutan ini tolong...
Pemuda itu sangat ketakutan dan memohon pada orang berpakaian ninja yang ada dihadapannya..
"Aku tidak akan pernah menyakiti kamu...mengapa kamu bisa tersesat dihutan ini?
Si pemuda sangat terkejut lagi ketika mengetahui bahwa suara orang yang berpakaian ninja ini adalah suara seorang wanita....
"Ka..ka..kamu?
"jawab saja pertanyaanku...engga usah bertele-tele...
"Aku...aku tersesat dihutan ini karena aku melarikan diri dari desa seberang hutan ini?
"Kenapa?
"Mereka menuduhku membunuh seorang gadis disana tapi demi Tuhan...aku...aku tidak melakukan hal itu..tapi mereka tetap saja tidak percaya. Wanita berpakaian ninja menatap serius pada pemuda yang ada dihadapannya. Sang pemuda tertunduk....seakan ada yang sedang dipikirkannya namun ketakutannya sudah mulai sirna kini karena dia yakin wanita yag ada dihadapannya ini tidak akan menyakitinya.
" Siapa namamu?
"Arya...namaku Arya..
"Baiklah Arya...kalau memang apa yang kamu katakan benar...kamu boleh ikut aku sementara...suiiittt....tiba-tiba wanita berpakaian ninja itu bersiul kencang dan srigala putih segera mengejar dan mengikuti dirinya sementara Arya sang pemuda desa mengikuti langkah mereka dari belakang....Tak berapa lama mereka tiba di sebuah gubuk yang cukup bersih dan tertata apik. Wanita berpakaian ninja lansung melepas penutup kepalanya dan nampaklah seorang gadis yang cantik....Arya tak berhenti memandangi gadis itu dan takjub akan kecantikannya..
"Kamu...kamu cantik sekali...oh ya siapa nama kamu? Arya memberanikan diri bertanya.
"Aurora...terimakasih atas pujianmu.
Gadis yang ternyata Aurora itu langsung masuk kedalam rumah dan mengambil sebuah kendi yang terbuat dari tanah dan memberikannya pada Arya....
"Aku yakin kamu sangat haus....minumlah
"Ya..ya terimakasih..
Glek...glek...glek...Arya segera meminum air putih yang diberikan oleh Aurora...rasa capainya segera hilang dan senyumnya yang menawan diberikannya pada Aurora...gadis yang ada dihadapannya..Aurora tampak begitu canggung ketika Arya terus menatapnya seakan melihat bidadari yang baru turun dari kayangan....
"Sudahalah....jangan menatapku seperti itu..
"Oh..ehm..maaf...maaf...aku cuma kagum dengan kecantikanmu dan sekaligus heran..
"Kenapa? ada yang aneh denganku..? Aurora balik bertanya atas ucapan Arya
"Ya..heran?ehm...mengapa ada gadis secantik kamu tinggal sendiri dihutan ini??
" Oh itu rupanya...hehe
Aurora tertawa kecil mendengar ucapan Arya
"Kok ketawa??
"Ya...engga ada yang aneh...terserah aku donk mau tinggal dimana....sudahlah engga usah dipertanyakan lagi, lain kali aku akan menceritakannya padamu.
Arya hanya diam dan mengangguk mengiyakan namun tetap saja hatinya bertanya tanya tentang gadis cantik yang ada dihadapannya ini.
Keesokan harinya pagi menampakan cahaya yang kemilaunya membuat hutan menjadi tempat yang nyaman untuk menenangkan diri dan mencari suasana yang benar-benar dapat mengisi segala kekosongan jiwa bagi orang-orang yang penat menghadapi masalah hidup yang tak henti-henti nya mendera. Embun berjatuhan diantara daun-daun yang bergerak lambat karena sentuhan angin yang berbisik pada dunia. Bunyi air yang jatuh ke sebuah telaga kecil membuat tenang orang yang mendengarnya. Arya tak sadar ketika pagi telah datang dan meyapanya dengan sentuhan matahari. Dia tertidur di dipan gubuk Aurora yang memang menyuruhnya untuk tidur disana karena memang tidak memungkinkan untuk tidur bersama di dalam gubuknya. Zeta si srigala putih tampak duduk dibatang sebuah akar yang besar dan menikmati hangatnya sinar matahari yang menerpa tubuhnya sementara terdengar sura gaduh kecil didalam gubuk dan nampak sekali bahwa Aurora sedang sibuk memasak air. Setelah matang maka dituangkannya air panas itu pada kendi yang terbuat dari tanah. Setelah selesai Ia segera keluar dari gubuknya dan pergi menuju telaga yang tak begitu jauh dari situ.....Dengan perlahan Aurora melangkahkan kakinya kedalam dinginnya air telaga dan perlahan-lahan membuka bajunya dan hanya mengenakan kain yang sangat tipis untuk segera mandi disana. Dinginnya air tak membuat Aurora kedinginan. Matanya memejam sambil menggosokan batu pada tubuhnya yang putih bersih...Air yang membasahai kain penutup tubuhnya kini telah basah dan membuat lekuk tubuhnya semakin terlihat. rambutnya yang panjang pun kini telah basah dan menunjukan kesan eksotisme yang tinggi....ikan-ikan ditelaga seakan menjadi temannya ketika dia mandi tak berapa lama Zeta muncul ditepi telaga namun nampaknya ia enggan untuk menuju air telaga yang dingin dan hanya memperhatikan tuannya yang sedang menikmati mandinya.
Aurora sangat menikmati dinginnya air yang membasahi seluruh tubuhnya. Dinginnya pagi dan hembusan angin gunung tak membuatnya cepat beranjak. Zeta memandangi tuannya dengan cermat seakan juga menikmati indah tubuh tuannya yang begitu mempesona seandainya ada orang yang memandangnya. Namun tiba-tiba Zeta menggeram... dia seakan tahu kalau ada orang lain yang menatap tuannya selain dirinya. Aurora menyadari hal itu namun dia tetap cuek karena dia telah mengetahui siapa yang bersembunyi di balik semak-semak.
"Arya...!!apakah itu cara kamu memperlakukan wanita...dengan mengintipnya mandi!!
Aurora berteriak kencang pada orang yang ada di semak-semak yang ternyata memang Arya.
Arya keluar dari persembunyiannya. Mukanya memerah menahan malu.
"Ma...ma..maaf...aku tadi hendak....
" Oh tidak...aku hanya ingin buang air kecil namun secara tidak sengaja aku melihat kamu mandi....ka...ka..kamu cantik sekali.
Aurora tersenyum simpul tak marah....
"Hm...sudahlah...kamu tak perlu memuji aku berlebihan Arya
"Tapi...aku sungguh-sungguh mengatakan hal itu pada kamu...Demi Tuhan kamu cantik sekali...
"Terimaksih kalau begitu...Sebaiknya kamu masuk...aku sudah membuatkan kamu teh manis....kamu bisa mandi setelah menikmati teh..oh ya...ada umbi bakar juga buat sarapan...maaf kalau itu terlalu sederhana..
"Oh..iya.terimakasih....itu sudah cukup bagiku
Arya bergegas meninggalkan Aurora yang masih menikmati dinginnya air pagi serta gemercik air tejun kecil di tengah telaga yang airnya berwarna hijau jernih. Tak berapa lama Aurora beranjak dari telaga itu...mengambil bajunya dan pergi ke atas sebuah batu besar dan merentangkan tangannya menikmati cahaya matahari pagi yang menerobos diantara lebatnya pepohonan yang ada dihutan kecil itu.......Zeta mengikutinya dari belakang dan menggesek-gesekan tubuhnya dengan manja pada Aurora....Aurora mengelus kepala Zeta dengan lembut dan bercanda dengannya sebentar...
"Zeta..ayo pulang...
Tak menunggu lama Aurora berkelebat dengan cepat tanpa terlihat oeh mata orang biasa sementara Zeta berlari menuju kemana tuannya pergi..
"Sudah selesai sarapannya...??
"Uekh..ukh..aduh....kamu bikin aku kaget Aurora...
" Gak apa-apa kan bikin kaget sekali kali ...biar kamu terlatih kelak dengan sesuatu yang tiba-tiba
" Tapi bukan begitu caranya..aku keselek nih...
Duk....tiba-tiba Aurora memukul tengkuk Arya
"Nah begitu sudah baikan bukan?
"Aduh...Eh iya..dah baikan...kok bisa?
"Cuma soal kecil Arya..semua penyakit pasti Tuhan memberikan cara mengobatinya kecuali...
"Kecuali apa?
"Yaaaa.....kecuali orang itu tidak mau berusaha..
Arya terdiam mendengar ucapan Aurora. Dia berfikir kenapa wanita secantik...setangguh...dan sepintar dia tinggal di hutan seperti ini...apa yang sedang dicarinya? Aurora berjalan menuju ke depan gubuknya dan duduk di rumput yang tumbuh subur ditemani Zeta srigala putih kesayangannya. Dibelainya Zeta dengan penuh kasih sayang dan Zeta pun terduduk merasakan belaian tuannya. Angin berhembus membelai rambut Aurora yang hitam sebahu. Tengkuknya yang tersibak dan putih membuat Arya semakin salah tingkah melihatnya. Arya segera mendekati Aurora yang terus asik bermain dengan Zeta.
"Aurora.....
Arya memanggil lirih setengah berbisik dan duduk disampingnya
"Hm...
Aurora menjawab pendek
"Apakah kamu punya saudara?
Aurora terdiam mendengar pertanyaan Arya. Dia kembali teringat dengan adiknya yang sebenarnya telah dia temukan...Azira...ya...selama ini dia telah mencarinya dan setelah pertemuan tak sengaja waktu itu dia selalu mengikuti Azira dari belakang dan berusaha untuk menjaganya dari jauh..."Oh....mengapa aku tak menemuinya saja dan mengatakan bahwa akulah kakaknya yang selama ini dia cari dan pasti Azira akan senang melihatnya...benar..aku harus menemuinya sekarang. Aurora berkata dalam hatinya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku Aurora....
"Hehh....
Aurora mendesah pendek namun tak berusaha menghilangkan mimik gundah diwajahnya.
"Ya...aku masih mempunyai saudara laki-laki
"Kenapa kamu tak bersamanya? Siapa namanya?
"Namanya Azira....aku tak bersamanya karena.....
"Karena apa?
"Aku berpisah denganya ketika Tsunami terjadi di Pangandaran...
"Ah...lalu....kamu tahu dimana adikmu sekarang?
"Ya aku tahu....aku akan menemuinya sekarang dan mengatakan bahwa akulah kakanya...
"Maksud kamu apa dengan mengatakan akulah kakaknya...apakah sebelumya kamu mengatakan bahwa kamu bukan kakaknya?
"Aku sebenarnya telah menemukannya namun aku masih belum berani bertemu dengannya secara langsung...
"Lho kenapa??
"Entahlah....waktu itu aku belum terlalu percaya kalau dia adikku yang waktu itu hilang....Arya...maukah kamu menemani aku pergi menemui dirinya?
"Tentu saja...dengan senang hati aku akan mengantarmu menemuinya....Kapan kita akan pergi menemuinya?
"Sekarang.
Sore itu.... tinggal sepenggal cerita tentang hidup yang sangat rumit tuk diatasi...hujan mulai mengguyur tubuh bumi dan mengairi selokan selokan yang penuh dengan sampah....air tak ada habisnya menerpa tiap jengkal kehidupan yang ada di bumi....Diteras sebuah rumah, Sheila dan Dias tampak duduk menikmati dinginnya angin yang tebawa air hujan. Sesekali Sheila menyentuh butiran-butiran air yang jatuh dari atap genting. Dias tampak berpangku tangan...puluhan batang rokok telah dihabiskannya untuk mengusir rasa dingin dan gundah yang mengaliri perasaannya. Tak berapa lama Azira datang dan segera duduk menemani mereka sementara Layla membawa minuman hangat yang setidaknya dapat mengusir rasa dingin yang menggigit.
Buliran air semakin kencang jatuh dari langit...suaranya seperti nyanyian alam yang merdu dan menghibur orang-orang yang sedang gundah dan masuk dalam setiap lamunan orang yang ada disitu. Kolam ikan telah penuh dengan air yang mengisinya....ikan-ikan tampak bergembira berenang kian kemari mensyukuri kenikmatan yang diberikan langit pada mereka.....pepohonan disekitar rumah menari tertiup angin yang kencang serta deraan air huajn yang kian kencang, namun tetap....Dias dan semuanya yang ada disitu tak beranjak dari teras dan masuk kedalam rumah. Semua menikmati alam yang sedang berpesta......
"Om...Sheila ...diminum tehnya.
Layla menawarkan teh yang dibuatnya pada Dias dan Sheila. Dias tersenyum padanya dan mengambil teh yang disodorkan Layla.
"Terimakasih....
Slurppppp....slurp....terdengar Dias yang meminum tehnya dan menikmati rasa hangat yang menjalar dalam tubuhnya.
"Om....kapan kita akan bertindak dan menuntaskan semua permasalahan ini?
Azira berkata datar pada Dias dan menanyakan masalah yang sedang mereka hadapi bersama.
"Kita harus menunggu saat yang tepat Zira....semuanya perlu perhitungan yang matang. Mereka sangat kuat sementara kita hanya kamu dan paman yang bisa diandalkan..
"Lalu apa yang harus kita perbuat?
"Entahlah...om tak tahu harus bagaimana......kita perlu bantuan orang yang lebih kuat agar kita tak mati sia-sia...
"Aku siap membantu om...
Tiba-tiba Sheila berkata pada mereka dan mengejutkan mereka semua
"Kamu.....engga...engga kamu engga bisa membantu kita....Om tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu Sheil...
"Lho...kalau kita bersatu kan aku yakin kita bisa mengalahkan Mr Chan dan yang lainnya
"Iya om tau tapi.....mereka sangat kuat Sheil...
Sheila berkeras dengan keinginannya membantu Azira dan Dias dan tentu saja Dias menolaknya karena Dias tahu kemampuan Sheila tidak seberapa dibanding Mr Chan dan anak buahnya.
Kini semuanya terdiam dalam hening...walau hujan terus memberikan irama kehidupan yang tak begitu jelas tapi semua itu memang harus dihadapi apapun resikonya. Azira berdiri sejenak dan berjalan menembus derasnya hujan. Semua yang ada disitu hanya memperhatikan tingkah laku Azira...baju Azira sudah mulai basah semua...badannya yang kekar tampak terlihat dibalik kausnya yang tipis....Azira menengadahkan tangannya ke langit seakan menyambut datangnya air hujan dan tiba-tiba berteriak
"Arrrrrggggggghhhhh.............................!!!!!
"Zira....!!
Layla dan Sheila berteriak berbarengan memanggil namanya...mereka saling pandang. Ada raut kecemburuan di muka Sheila dan dia segera memalingkan matanya ke tempat lain. Layla segera mengejar Azira dan memeluknya dari belakang....kedua insan itu berpelukan dalam dinginnya hujan dan teriakan halilintar yang terus menggema sepanjang hari....Layla berusaha menenangkan Azira yang tampak marah dengan keadaan yang diciptakan oleh Mr Chan. Sheila tak bisa lagi melihat apa yang ada didepannya dan segera lari menuju kamarnya sementara Dias tak bisa berbuat banyak dan tetap duduk tak bergeming....
Layla masih memeluk Azira dari belakang....airmatanya mengalir bercampur air hujan yang tak henti hentinya mengguyur tubuh bumi. Lampu taman mulai menyala....berusaha menerangi hari yang kian gelap.....tiba-tiba Azira bergerak dan menyuruh Layla pergi........Dias pun melihat gelagat yang aneh pada diri Azira....Dias melirik ke arah dimana mata Azira tertuju....dibalik derasnya hujan dan gelapnya malam tampak sosok seseorang bercaping berdiri tak jauh dari pintu gerbang.....Dias terkejut.
Tatapan orang itu begitu dingin tanpa ekspresi......Azira pun menatapnya dengan mata elangnya yang mampu menembus setiap relung hati yang ditatapnya. Namun......setengah capingnya menutupi wajahnya yang dingin membeku. Dia berdiri tegar tanpa bergerak dan terus menatap ke arahnya ..........................
"Nampaknya aku kenal laki-laki ini.
Azira bertanya tanya dalam hatinya. Melihat hal itu Dias langsung berdiri dan berlari menuju Azira menembus hujan yang tak juga reda.
"Siapa dia Zira? apa yang akan dia lakukan?
"Tenang om...saya yakin orang ini tidak akan melakukan apapun pada kita....
"Bagaimana....
Belum sempat Dias membalas perkataan Azira orang itu tiba-tiba memanggil namanya?
"Dias....apa kabar kamu orang?
Dias terkejut mendengar orang itu memanggil namanya dan dia merasa logat orang itu begitu dikenalnya.........
"Siapa kamu?Darimana kamu tahu nama saya?
"Mendekatlah Dias...
Dias ragu akan melangkah namun mengingat apa yang diucapkan oleh Azira, dengan berhati hati dan penuh kewaspadaan Dias mendekati orang itu. Azira hanya memperhatikan keduanya saling mendekat..
"Dias...apa kamu orang tidak mau memeluk aku..
Betapa terkejutnya Dias ketika dia melihat wajah orang itu....ada pancaran kebahagiaan tercurah diwajahnya. Dengan tanpak basa-basi lagi Dias langsung memeluk orang itu
"Tanaka....tanaka itu kamu....
Dias berkata lirih di telinga orang yang ternyata adalah Tanaka....
"Ya Dias...ini aku..sudah lama kita tidak bertemu hah...
"Kukira kamu...
"Sudah mati!!!
"Aku tak semudah itu mati ditangan Chan, Dias.
"Oh...syukurlah...
Azira tampak sangat terkejut ternyata Dias mengenal laki-laki bercaping itu. Darimana Dias mengenal orang itu? apakah ini yang pernah diucapkannya bahwa dia mempunyai seorang sahabat yang juga bermusuhan dengan Mr Chan......Layla berjalan dan kembali mendekati Azira.....
"Siapa itu Zira??
"Dia laki-laki bercaping yang pernah kita temui dipinggir sungai waktu itu..
"Hah...!!tak kalah kagetnya Layla sedikit berteriak
"Ta...ta...tapi....orang itu mengenal om kamu?
"Ya..akupun terkejut barusan.
Tak begitu lama Dias dan Tanaka mendekati mereka....
"Semuanya...........ini teman om...perkenalkan...namanya Tanaka........
"Tanaka? Azira terbengong tak percaya....
Azira tak bisa lagi menutupi rasa kagetnya sementara Dias dan Tanaka saling berpandangan tak mengerti...
"Azira...kenapa kamu terlihat kaget mendengar sahabat om ini...Apa kamu mengenal dia?
"Azira katamu Dias....kamu jangan bercanda
Kini giliran Tanaka yang kaget mendengar nama Azira disebut oleh Dias...
"Ya...namanya Azira..Lho...lho...kenapa kamu sekarang yang kaget Tanaka...?
Tanaka tak menjawab dan hanya memandang pada Azira dan begitu juga sebaliknya...mereka saling pandang tak percaya....tak ada yang bergerak...semuanya diam dalam gelapnya malam dan guyuran hujan. Tiba-tiba Azira berbicara memecah kesunyian namun ucapannya membuat semua yang ada disitu kaget.....
"Ayah.....mengapa ayah dulu meninggalkan aku dan kakak...? jawab ayah!
Azira berkata pelan namun tegas dan bergetar.....Dias dan Layla hanya memandang pada Tanaka tidak percaya bahwa orang yang ada dihadapan mereka adalah ayah dari Azira....
"Ayah tidak pernah meninggalkan kamu Azira......
Tanaka pun menjawab dengan tenang namun getarannya mampu menusuk hati Azira
"Hanya Dias yang tahu kejadiannya....ayah ak pernah meninggalkan kamu dan kakak kamu
"Tapi...tapi ayah meninggalkan kami bertahun-tahun tanpa kabar...
"Maafkan ayah Zira...ayah telah mencari kamu kemana-mana.....hati ayah hancur ketika kembali dan menemukan tempat dan rumah kita telah hancur oleh tsunami....bertahun-tahun ayah mencari kamu dan kini...kini ayah menemukan kamu anakku.
Suara Tanaka semakin bergetar menahan kerinduan dan kebahagian yang kini telah diraihnya karena telah menemukan anaknya kembali...tiba-tiba dengan cepat Azira bergerak dan memeluk Tanaka....ayah dan anak yang telah lama tak bertemu ini saling memeluk erat dan menangis bahagia....
"Zira....maafkan ayah....maafkan ayah anakku...
"Zira juga minta maaf ayah....Zira telah menyangka ayah yang bukan-bukan
Akhirnya mereka melepaskan semua rindu yang terpendam ...Layla dan Dias tersenyum melihat kebahagian mereka.....hujan sudah mulai reda ....bintang-bintang mulai bermunculan walau masih terhalang awan hitam.......
"Ayo semuanya masuk kedalam...Tanaka...ajak anakmu masuk...kita ngobrol sambil ngopi pasti enak...ayoo
Lalu semuanya masuk kedalam rumah Dias. Sementara Sheila yang telah masuk dari tadi merasa agak terganggu mendengar suara ribut-ribut di luar dan berusaha menerka apa yang sedang terjadi.
"Siapa lelaki itu? Mengapa dia begitu akrab dengan om Dias dan Azira?
Sheila lalu membuka sedikit tirai jendela dan mengintipnya dari sana..tapi betapa terkejutnya Sheila ternyata orang yang diintipnya sedang menatapnya dan tersenyum padanya...bagaimana dia tahu?
Ditempat lain...........Seorang wanita cantik dan lelaki yang cukup menawan berjalan beriringan dipinggiran sebuah desa....tak ada yang berbicara diantara mereka....banyak orang yang berusaha menggoda si wanita namun tak mereka tanggapi.
"Neng...mampir dulu neng heheheh duh cantiknya si Neng...abang mau deh jadi yang kedua heheh
seorang lelaki jahil berteriak dari daam sebuah warung makan...lelaki yang berada di samping wanita itu tampak memerah menahan amarah namun kode yang diberikan si wanita membuatnya terdiam.
"Kenapa kita terus berdiam diri Aurora?
"Ingat Arya....kita pergi untuk menemui adikku bukan mencari gara-gara dengan orang lain
"Baiklah aku mengerti..
Aurora dan Arya pun melanjutkan perjalanannya tampa lagi memperdulikan orang yang iseng dengan mereka. Ditepian desa mereka beristirahat sebentar di sebuah dangau petani tak jauh dari sungai....Aurora tib-tiba menjentikan tangannya dan ssssssssssst.........sebuah batu kecil melayang dari tangannya...menumbuk buah kelapa dan membuatnya jatuh....Arya terkagum-kagum melihat hal itu dan membuatnya semakin suka pada gadis yang ada didepannya itu. Dengan cepat Arya berlari mengambil buah kelapa dan mengupas kulitnya dengan pisau yang dibawanya. Setelah selesai diberikannya kelapa itu pada Aurora. Glek...glek...glek....Aurora sangat menikmati air buah kelapa yang diminumnya. Setelah merasa puas diberinya kelapa itu pada Arya.
Sejauh mata memandang hamparan sawah yang menghijau membuat pandangan mereka menjadi lebih segar. Angin berhembus perlahan menyapu wajah wajah mereka yang terlihat sangat lelah
"Aurora...apa kamu tahu dimana adikmu berada?
"Ya ...aku tahu....aku pernah mengikutinya hingga ketempat dimana dia tinggal
"Oh...syukurlah, berarti kita tak cape-cape lagi mencari dia
"Ya...tapi perjalanan kita masih jauh Arya...apa kamu punya ide?
"Aku sudah memikirkannya sejak tadi...sebaiknya kita ikut mobil saja yang menuju kota biar lebih cepat.
"Tapi kita engga punya uang Arya....
"Itu soal gampang...kita ikut saja mobil sayur yang menuju kota...mereka mau kok bawa kita
"Kamu yakin???
"Tentu..aku dulu sopirnya hahahahah
"Huuh becanda kamu
"Eh...itu bukan becanda tau...beneran
"Oh beneran toh...ya udah nanti kamu yang berhentiin mobilnya,aku tinggal ikut aja
"Ok..siap nona cantik...
Arya tersenyum penuh arti pada Aurora. Aurora tahu arti senyum itu namun dia berusaha mengalihkan pandangannya ketempat lain dan pur-pura tak melihatnya....................bersambung ke episode 7
Kamis, 30 Juli 2009
Minggu, 21 Juni 2009
The Savior (Episode 5)
Pagi sangat indah terasa,matahari memberikan kehangatan bagi semua insan dunia. Bunga-bunga tlah bermekaran dan manusia mencari kodratnya dintara riuhnya jalan-jalan yang penuh dengan lalu lalang mobil.
Di sebuah rumah yang tak begitu besar namun sangat asri terasa. Rumahnya di kelilingi pagar yang tinggi dan di penuhi tanaman dan bunga yang menambah kesan cantik. Seorang wanita cantik duduk di bangku taman sambil menikmati angin dan minuman yang disediakan oleh pembantunya. Matanya terus memandang ke pintu gerbang seakan akan sedang menunggu seseorang....tiupan angin terus membelai rambutnya yang panjang....seekor kupu-kupu terbang diatas mejanya dan hinggap di bibir gelas minuman si gadis.....gadis itu hanya tersenyum memandangnya dan tidak berusaha mengusirnya. Ditatapnya kupu-kupu itu lekat-lekat....dan dia berusaha menangkapnya. Sebelum tangannya sampai.....kupu-kupu itu telah terbang dan lalu hinggap di bunga mawar putih yang sedang mekar....
"Kupu kupu...kapan dia akan kembali...hehhh...aku kangen dia.
Gadis itu mengguman seakan berbicara dengan kupu-kupu yang menemaninya itu...Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil BMW melaju masuk ke dalam dan berhenti persis di samping gadis itu duduk
" Sheila....sedang apa kamu disitu..???
Seseorang membuka kaca mobil dan menegurnya.
"Ah paman Dias, aku cuma...cuma cari angin saja paman
"Mau paman antar pergi...kemana gitu??
"Terimakasih paman...aku lebih suka disini
"Ya sudah...paman masuk dulu ya, nanti temani paman sarapan ya ok
"Ya paman..terimakasih
Mobil Dias kembali berlalu pergi meninggalkan Sheila yang kembali menikmati kesendiriannya
Ditatapnya pamannya yang masuk rumah sambil membawa tasnya.
"Kasihan paman....hanya aku yang selalu menemaninya kini...Heuhhh...Azira...dimana kamu??? Aku dan paman selalu menunggu kamu Zira...
Sheila tak dapat menyembunyikan kesedihannya...matanya berlinang mengingat orang-orang yang sangat dicintainya...Pamannya dan Azira.
"Sheila...!! masuklah...katanya mau temani paman sarapan
Terdengar Dias memanggilnya...Sheila masih enggan beranjak dari tempat duduknya namun ia tak kuasa membiarkan pamannya makan sendiri.
"Ya paman...tunggu sebentar.
Sheila segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui Dias. Begitu masuk ke dalam rumah tampak Dias sedang menunggunya di meja makan dan menyuruhnya untuk duduk. Sheila segera menggeser tempat duduk dan duduk di depan pamannya yang kelihatan sangat tegar walaupun sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintainya
"Sheil....apa kamu masih mau tinggal disini??? mama kamu dah panggil kamu tuk pulang tuh...katanya dia kangen sama kamu.
"Paman....aku masih mau menemani paman disini...nanti aku telepon mama, pasti mama mengerti dengan alasan Sheila.
"Heh..ya sudah kalau kamu bersikeras seperti itu, tapi lain kali temuilah mama-mu
Dias mendesah lalu mengambilkan Sheila sepiring nasi
"Terima kasih paman
Sheila menerima nasi yang diambil Dias dan mulai mengambil lauk yang sudah tersedia diatas meja. Sambil makan Dias mereka saling bercakap-cakap dan kadang-kadang mereka saling tertawa ketika ada cerita yang dirasa lucu.
"Paman....
"Ya..
"Azira...Azira kapan pulang ya paman??
Sheila bertanya ragu-ragu dan agak malu pada Dias
"Entahlah....paman pun tidak tau dimana dia berada, terakhir paman telepon dia..dia ada di puncak tapi.....
Dias tidak melanjutkan kata-katanya, hal itu tentu saja membuatnya penasaran dan gelisah ingin tahu apa yang sedang terjadi
"hehh......ketika...ketika paman menuju villanya di puncak...
"Kenapa paman..apa yang terjadi pada Azira???
Sheila tak sabar menunggu ucapan Dias selanjutnya
"Paman tak tahu apa yang terjadi dengan Azira tapi....tapi paman menemukan villanya telah hancur berantakan dan banyak mayat bergelimpanagan disana. Tampaknya Azira telah berkelahi dengan orang-orangnya Mr Chan. Paman tak melihat Azira disana Sheil, paman juga tidak tahu dimana dia berada sekarang
"Paman...paman tidak sedang bercanda kan???
Mimik Sheila menunjukan takut yang amat sangat. Takut kehilangan orang-orang yang sedang diam-diam dicintainya itu
"Apa paman terlihat sedang bercanda Sheil...?? Paman pun takut sesuatu sedang terjadi padanya...paman dan anak buah paman sedang mencarinya kemana-mana...tapi...sampai saat ini paman belum menemukan dimana jejak Azira.
"Kenapa...kenapa paman baru memberitahu Sheila sekarang paman!!
"Sheil...kenapa kamu marah??? Paman tidak memberitahu kamu karena paman tidak ingin kamu ikut-ikutan panik seperti paman...kamu begitu panik....jangan-jangan kamu mulai mencintanya Sheil..?
Kepanikan Sheila dapat dibaca oleh Dias....Sheila tak ingin diketahui oleh Dias dan dengan cepat dia berdiri dan berlari menuju kamarnya dan membiarkan Dias duduk sendiri di meja makannya.
Dikamarnya Sheila tak dapat membendung kepedihannya....perasaannya takut....galau....resah...semuanya berkecamuk menjadi satu...air matanya tak bisa lagi tertahan.Sheila menutupi mukanya dengan bantal dan terduduk di pojok ruangan yang sepi dan hanya terdengar suara isak tangisnya saja.
Pikirannya terus melayang pada sosok laki-laki yang selalu hadir dalam benaknya.....dimana dia berada?? pertanyaan pertanyaan itu terus bermain dalam hatinya.....tok...tok...tok...
terdengar suara pintu diketuk dan suara Dias memanggil Sheila
"Sheil....boleh paman masuk ??
Sheila tak langsung menjawab, Sheila masih sangat kesal karena Dias tak segera memberitahukan bahwa telah terjadi sesuatu dengan Azira
"Sheil....boleh paman masuk Sheil..??
Kembali terdengar Dias memanggil namanya namun kali ini Sheila menjawab panggilan Dias.
" Masuk paman...pintunya engga Sheila kunci
Terdengar suara Dias membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki Dias langsung mendekati Sheila yang masih duduk di pojok ruangan.....
"Sheil....maafkan paman telah menyembunyikan semua ini pada kamu tapi.....paman yakin ini adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus paman lakukan agar kamu tidak terlalu cemas memikirkan dia. Namun....paman juga engga bisa menyembunyikan semua itu sama kamu karena lambat laun kamu juga pasti tahu dan kamu makin membenci paman....maafkan paman Sheil.
Suara Dias terdengar lirih dan penuh rasa cinta pada Sheila.....tangis Sheila semakin menjadi-jadi...Sheila tak sanggup menyakiti hati pamannya yang kini hidup menyendiri. Dan menyakiti hatinya sama saja dia menyakiti kedua orang tuanya. Dengan cepat Sheila memeluk Dias dan menangis dibahunya...tak ada kata-kata yang terucap....hanya isaknya yang terdengar di seluruh ruangan. Dengan lembut Dias membelai tubuk keponakannya itu dan menghapus airmatanya.
"Sheil....besok kita coba cari Azira bersama-sama ya...Paman berharap kita dapat menemukannya dalam keadaan baik-baik saja.
Sheila tak menjawab...hanya anggukan kepalanya yang mengiyakan ucapan Dias. Tangis Sheila semakin kencang....Dias tak ingin menghentikannya...biar tangis itu menjadi curahan hatinya dan setelah itu dia akan kembali dengan Sheila yang dapat menghadapi hidup dengan kepercayaan diri yang tinggi dan tanpa keputus asaan menggapai semua mimpi-mimpinya....mimpi tentang orang yang sangat dicintainya dan mimpi tentang hari esok yang lebih baik.
Ditempat lain
"Chan.....!!!! aku sudah bialang sama kamu jangan pernah menyepelekan orang....
" Maafkan aku kakak Lee....tapi....
"Tapi apa lagi..!!! apa kamu mau mengelak tentang kegagalan kamu ini hah!!
"Kakak Lee...memang benar apa yang dikatakan oleh Chan kita hampir membunuh Azira....
Takeshi yang berada dekat Mr Chan berusaha membela Mr Chan dihadapan Lee namun nampaknya hal itu semakin membuat Lee marah besar
"Kamu juga !! kamu terlalu meremehkan orang!! sama seperti Chan...kalian berdua tak ada gunanya sama sekali!! Chan..!!! Takeshi...!!! aku perintahkan kalian mencari Azira dan ninja sialan yang menolongnya!!
Lee menarik baju Chan dan Takeshi bersamaan dan......Plak....plak Lee menampar wajah Chan dan Takeshi bersamaan. Walaupun tamparan Lee tak nampak kencang namun tamparanya membuat kedua orang itu terpental beberapa kaki dan langsung mengeluarakan darah segar dari hidung mereka.
"ayo serang aku!! ayooooo!! aku ingin tahu seberapa besar kekuatan kalian sehingga bisa dikalahkan mereka!!!
Chan dan Takeshi saling pandang, mereka ragu untuk menyerang Lee.
"Ayo cepat serang aku!!!
Kembali Lee memaksa mereka untuk menyerangnya. Mendapat tekanan yang begitu besar dari Lee...Mr Chan dan Takeshi langsung memasang kuda-kuda dan menyerang Lee dengan kecepatan tinggi tapi......Lee tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri dan sama sekali tak menghindari serangan mereka dan....duk.....duk,......duk....duk......pukulan dan tendangan mendarat telak di wajah dan tubuh Lee namun..............Lee tak bergerak sedikitpun dan merasa kesakitan....Lee hanya tersenyum sinis memandang mereka.
"heh...cuma segini kekuatan kalian......pantas mereka dengan mudah mengalahkan kalian...ayo tunjukan kekuatan kalian yang paling besarrrr!!!
Mr Chan dan Takeshi melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Mereka tak menyangka kekuatan Lee telah bertambah walaupun dia tak lagi memimpin oraganisasi hitamnya. Mr Chan dan Takeshi penasaran dengan kekuatan Lee. Dengan cepat mereka menghimpun kekuatan yang lebih besar....otot-otot tampak keluar daritangan dan kaki mereka. Kekuatan yang besar itu bisa saja membawa seseorang yang terkenanya langsung ke ujung maut
"Hiatttttttttttt!!!!!
"Hiaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!
keduanya menyerang kembali Lee dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Lee tetap seperti biasa....matanya tajam ke arah serangan yang dilancarkan oleh Mr Chan dan Takeshi dan....
ketika tangan dan kaki Mr Chan dan Takeshi hampir mengenai mereka dengan cepat Lee merubah kuda kudanya dan menampar kaki dan tangan mereka...akibatnya sangat luar biasa.....Mr Chan dan Takeshi langsung terpental 10 kaki kebelakang dan membentur pohon dan tembok yang ada disitu hingga bergetar hebat dan hancur.
"Akhhhh........
"Akhhhhh.......
Mr Chan dan Takeshi terkapar tak berdaya dan kembali mengeluarkan darah segar. Lee hanya menyeringai melihat keduanya jatuh akibat tamparannya yang seakan-akan tidak bertenaga namun mempuyai daya hancur yang sangat luar biasa.
Di tempat lain nun jauh dari kota.........sungai mengalir dengan derasnya sehingga riaknya mampu menerjang apapun yang ada didepannya......kilauan kejernihannya bak permata yang tak pernah redup....diantara riaknya air batu-batu dengan kokohnya berdiri diantara jalur-jalur yang dilalui oleh air dan menghadang lajunya......hamparan sawah menghijau laiknya permadani yang mampu membuat orang tertidur di atasnya dengan nyaman......burung-burung berterbangan mencari pasangannya......Diatas sebuah batu yang cukup besar, seorang laki-laki bercaping duduk diatasnnya dan memandangi derasnya air dengan matanya yang sipit dan tajam. Tubuhnya telah menghitam, namun dapat dipastikan laki-laki itu bukanlah orang biasa. Sesekali ia menjentikan tanganya ke arah sungai dan menimbulkan riakan air yang cukup besar...
"Hm...kemana lagi aku harus mencari mereka?
Laki-laki itu berguman lirih sambil terus menjentikan jarinya..ditatapnya hamparan sawah yang ada didepannya. Tampak olehnya beberapa petani yang sedang membajak sawahnya ditemani kerbaunya yang sudah terlihat kelelahan. Laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan langsung membuka bajunya dan terjun ke air sungai yang cukup dalam dan mandi disana, sesekali ia menyelam dan ketika dia keluar dari permkaan kedua tangannya telah menggenggam dua ekor ikan mas yang lumayan besar. Lalu dilemparnya ikan itu ke tempat dia tadi menyimpan bajunya....Dengan pelan dia menggosok-gosok tubuhnya yang kekar dan menghitam dengan batu sungai yang bersih lalu menyelam lagi. Ketika dia muncul di permukaan air, dia merasakan ada orang yang sedang memperhatikan dirinya.....dengan cepat dia menoleh.....
"Maaf pak.....apa saya mengganggu kegiatan anda??
Seorang laki-laki yang ditemani teman wanitanya langsung menegur laki-laki bercaping yang sedang asik mandi dan menangkap ikan. Laki-laki itu tak menjawab dan hanya menatap mereka dengan tajam.
"Zira....sebaiknya kita tak mengganggu bapak ini, ayo kita pergi...
"Tunggu Layla...aku ingin bertanya padanya tentang sesuatu hal
Kedua orang itu ternyata Azira dan Layla yang memang sedang melewati tempat itu dan tidak sengaja melihat si lelaki bercaping mandi...
"Pak...boleh saya bertanya tentang sesuatu hal pada anda?
Lelaki itu tak juga menjawab pertanyaan Azira dan hanya menoleh pada Layla dengan tajam.
"Baiklah jika anda tak mau menjawab pertanyaan saya dan anda merasa terganggu...tapi saya...saya sangat penasaran dengan anda. Waktu saya sedang bertarung di villa saya di puncak...saya melihat anda di atas dahan pohon...apa anda yang menolong saya dari Chan dan Takeshi...mengapa anda menolong saya?
"Zira...Zira sudahlah....bapak ini tak tau apa-apa..ayo kita pergi.
"Layla...kamu bilang orang yang menolong kita adalah orang bertopeng dan kamu tak mengenalnya...mengapa kamu yakin bukan dia yang menolong kita? Dan aku tahu bapak ini ada disana waktu aku bertarung dengan Can dan Takeshi...
Laki-laki bercaping sedikit terkejut dan kagum dengan penglihatan Azira yang mampu mendeteksi keberadaan dirinya....
"Zira...aku...aku hanya menebak saja dan aku yakin karena tidak mungkin bapak ini beraroma mawar....
"Beraroma mawar...? kenapa kamu baru memberitahuku sekrang Layla.!
Azira meninggikan nada suaranya tanda kesal
"Aku baru saja mengingatnya Zira...karena sebelum pingsan aku sempat mencium aroma tubuhnya...maafkan aku Zira
Layla berusa menyembunyikan rahasia yang dia ketahui tentang wanita berpakaian ninja dan lelaki bercaping yang ada didepannya ini. Melihat Azira dan Layla saling beragumen lelaki ini langsung pergi mengambil pakaian dan ikan yang didapatnya dan pergi meningalkan mereka berdua. Azira dan Layla hanya menatap kepergian lelaki itu dan tak bisa mencegahnya tuk pergi...namun....masih ada yang mengganjal dihati Azira tentang laki2 bercaping itu.
"Pak tunggu......!!
"Pak....!!
Lelaki itu tetap berjalan walaupun Azira telah memanggilnya bahkan dengan gerakan yang ringan dan sangat cepat laki-laki bercaping loncat dari satu pohon ke pohon yang lain. Azira tak lagi mengejarnya walaupun dia tahu bahwa diapun dapat mengejarnya dengan cepat.
"Azira...aku yakin bapak itu tak mau diganggu dan itu salah kita mengganggu dia..baiknya kita pergi dari sini Azira dan menemui paman kamu...aku yakin dia sedang menunggu kamu
"Iya....baiklah..mari kita lanjutkan perjalanan kita..
Azira lalu mengajak Layla melanjutkan perjalannya, memegang tangannya sambil tatapannya masih mengarah pada arah dimana lelaki bercaping itu pergi.
"Layla..kamu yakin bukan bapak itu yang menolong kita ketika aku bertarung dengan Chan dan Takeshi.
"Ya aku yakin sekali Zira....orang yang menolong kita pastilah wanita karena aroma mawar yang berasal dari tubuhnya...
Layla berusaha menyembunyikan apa yang telah diketahuinya tentang laki-laki bercaping yang memberinya pil hingga Azira bisa diselamatkan dan Aurora..wanita berpakaian ninja yang masih menyimpan sejuta misteri karena wanita itu kenal dengan Azira...Layla menebak nebak tentang wanita itu..."Apakah dia orang yang sama seperti dirinya yang sangat mencintai Azira dimasa lalu Azira ataukah orang yang memang dekat dengannya dalam hubungan keluarga.
"Layla...lain kali jika kamu mengetahui tentang suatu hal ada baiknya kamu katakan padaku.
"Iya Zira...maafkan aku..
Mereka terus berjalan menyusuri pematang sawah...kebun.....sungai...hingga akhirnya menemukan jalan raya dan berusaha menghentikan laju mobil sayuran yang akhirnya membawa mereka menuju kediaman Dias. Azira terus bertanya-tanya tentang laki-laki bercaping dan wanita yang menolongnya hingga membuatnya kembali segar walaupun telah terkena racun yang sangat membahayakan jiwanya. Kini Azira berusaha menenangkan hatinya mengingat Dias yang mungkin menganggapnya telah mati.
Di tempat Dias.....
"Sheil.....kamu terlihat sangat kurus...apa kamu sakit?
"Eh,,ehm...engga paman...aku cuma lagi males makan aja. Sheila menjawab pertanyaan Dias sekenanya. pandangannya kosong tak menatap pamannya itu tetapi menatap jauh ke taman dan pintu gerbang yang sejak tadi tertutup karena tak ada angan tuk keluar rumah
"Apa kamu masih memikirkan Azira Sheil..?
"Ehm...Entahlah paman....ketika aku memikirkannya...dia menjauh dalam pikiranku tapi...ketika aku tak memikirkannya dia selalu ada mendekatiku...Sheila capek.
Dias menatap keponakannya dengan rasa pilu berusaha memahami perasaannya. Didekatinya Sheila dan dipelukya dengan rasa hangat laiknya seorang ayah yang sedang mencoba menentramkan anaknya tercinta. Sheila menangis dipelukan Dias...tak ada yang terucap dari bibirnya hanya isak tangisnya saja yang semakin terdengar keras. Dias berusaha menenangkan Sheila dengan membelainya dan mengucapkan kata-kata semangat padanya.
"Sheil....sudahlah...jika kamu berjodoh dengannya...paman yakin dia akan kembali pada kita dan menemui kamu Sheil. Sekarang...hapus air mata kamu Sheil dan tersenyumlah buat paman agar pamanmu yang sudah renta ini tidak ikut-ikutan bersedih..Senyumlah buat pamanmu ini Sheil...
Sheila berusaha menghentikan isak tangisnya dan menatap orang yang ada dihadapnnya itu dan berusaha tersenyum untuknya.
"Nah...begitu lebih baik kan...kamu terlihat lebih cantik jika tersenyum. Sheil...paman sayang kamu..paman harap kamu bisa seperti dahulu dan menemani paman seperti dahulu Renata yang selalu ada buat paman.
"Iya paman...Sheila minta maaf kalau selama ini Sheila selalu merepotkan paman
"Ti....
Belum sempat Dias melanjutakan kata-katanya pintu gerbang dibuka oleh seorang anak buahnya dan.......
Tampak seorang lelaki dan wanita memasuki rumah Dias dengan pakaiannya yang acak-acakan dan rambut yang tak terurus namun Dias dapat mengenali sosok laki-laki yang berjalan menuju dirinya dan Sheila...
"Paman...aku pulang
Hanya sepenggal kata yang terucap dari bibir laki-laki yang ternyata Azira. Dias begitu tak percaya dengan yang dilihatnya. Azira...orang yang selalu dicari-carinya kini tepat berada dihadapannya.
"Zira...Zira...betulkah itu kamu??
Sheila tak bisa lagi menutupi rasa kangen dan gembiranya melihat orang yang dicintainya pulang dalam keadaan selamat. Dengan cepat dia menghambur dan memeluk Azira yang begitu terlihat lelah namun masih bisa memberikan senyum pada Dias da Sheila. Layla menarik nafas panjang ketika dilihatnya Sheila begitu erat memeluk Azira. Azira menyadari hal itu dan dengan lembut berusaha melepaskan pelukan Sheila dan memeluk Dias yang cuma terdiam terpaku.
"Kamu kemana saja Azira, om sangat kehilangan kamu....dan..
Dias menatap Layla dengan penuh penasaran. Layla pun tersenyum pada Dias.
"Siapa dia Azira....apakah dia teman wanita kamu?
"Oh ya om...Ini Layla...dia orang yang telah merawatku selama ini
Dias menyodorkan tangannya mengajak bersalaman pada Layla dan Layla menerimanya dengan rasa hangat. "Layla....
"Dias...
Layla dan Dias saling berkenalan. Sheila yang melihat kejadian itu terpaksa bersalaman dengan Layla dan memperkenalkan dirinya namun dapat dilihat sinar kecemburuan yang dalam dari matanya ketika melihat Azira dan Layla terliihat begitu dekat.
"Mari masuk semuanya, Zira dan Layla...om yakin kalian sangat letih...silahkan masuk dan mandilah dulu lalu setelah itu makan dan istirahat, nanti om ingin sekali mendengarkan cerita kalian berdua dan apa yang telah terjadi selama ini pada kalian oke.
"Terimaksih om
Azira dan Layla mengucapkan rasa terimaksihnya bersamaan dan langsung masuk kedalam diikuti Dias dan Sheila.........
Dimeja makan setelah semuanya telah siap.
Azira duduk bersebelahan dengan Layla sementara Dias bersebelahan dengan Layla. Sheila tak habis-habisnya memandangi Layla.....perasaan cemburunya berkecamuk dan dia berusaha menahannya dan menunjukan perasaannya pada siapapun. Hanya Azira yang dapat merasakan pebedaan itu....tatapan Sheila sangat berbeda dengan Sheila yang dulu yang sedikitpun pernah khawatir akan dirinya walaupun Azira tak mengetahui perasaan Sheila yang sesungguhnya. Dias sangat mengerti situasi yang membuat semuanya serba kaku oleh karena itu ia berusaha mencairkan suasana di meja makannya.
"Sheila....katannya kamu kangen sama Azira...kok sekarang kamu diem aja sih hehehe
Dias berusaha bercanda dengan keponakannya itu.
"Iih paman....aku engga bilang begitu kok...paman bikin malu Sheila aja
Wajah Sheila memerah dengan perasaan yang tak menentu. Azira hanya tersenyum simpul melirik pada Sheila yang tertunduk memandangi nasinya sambil memainkan sendok dan garpu tak tahu apa yang harus diperbuat.
"Om....bagimana bisnis kita...apa semuaanya berjalan lancar??
"Ah...Zira...jangan membicarakan bisnis dulu...semuanya aman dan terkendali, om tahu apa yang harus om lakukan. Kamu tenang aja, justru om ingin tahu apa yang telah terjadi dengan kamu dan Layla?
"Aku diserang oleh Chan dan seseorang yang bernama Takeshi Om...mereka hampir saja membunuhku jika tidak sesorang datang dan menolongku....
"Takeshi.....? Jadi dia sudah kembali???
"Apa paman mengenal dia?? Azira bertanya heran.
"Tentu saja....Chan dan Takeshi adalah orang yang telah menghancurkan hidup sahabat paman. Mereka tak habis-habisnya membenci usaha paman untuk menjadi orang yang hidup di jalur yang benar...
"Maksud paman...??
Dias tak langsung menjawab....ditaruhnya sendok dan garpunya seakan tak lagi berselera makan.
"Dulu............
Dias terdiam sebentar seakan ragu akan melanjutkan ceritanya pada Azira...
"Kenapa om...mengapa om tak menceritakan semuanya pada Zira hingga Zira bisa mengerti persoalan yang sedang dihadapi om. Om....Zira tak ingin berlanjut seperti ini terus..
" Sebenarnya urusan Om dengan Chan bukan hanya terkait dengan Layla saja....Layla adalah urusan kamu dengan Chan karena kamu telah mengambilnya dari Chan
Dias terdiam sebentar sambil melirik Layla yang tertunduk mendengarkan cerita Dias yang mengaitkan dirinya dengan Chan.
"Om harap Layla tak tersinggung....ini benar urusan om dengan Chan...walaupun kamu terkait didalamnya namun itu bukan soal yang berarti bagi om dan Chan. Dulu om dan Chan adalah sahabat dekat yang mengembangkan berbagai bisnis di seluruh Indonesia, namun pada akhirnya Chan menjadi sangat rakus dan berambisi sehingga dia membelot pada musuh kita berdua Lee. Lee mengembangakan bisnis ilegal....penyelundupan....narkoba hingga human trafficking Chan terlibat dalam usaha itu dan meninggalkan bisnis om yang sudah goyah karena uang hasil usaha om seluruhnya di ambil alih Chan. Hingga pada akhirnya paman ditolong oleh seorang pengusaha jepang yang lalu menjadi sahabat paman.
"Lalu om
Zira memotong cerita Dias dan tampak tak sabar dengan kelanjutan ceritanya.
"Heh.....Sudahlah, om tak mau melanjutkan cerita ini...sangat menyedihkan dan om tak mau lagi mengingat semuanya...........lain kali kalau sudah waktunya om akan menceritakan semuanya pada kamu Zira, yang penting sekarang kita harus berhati hati dan mencegah segala kemungkinan yang akan di perbuat Chan pada kita.Azira terhening tak bermaksud memaksa Dias. Karena Dias adalah orang yang sangat dihormatinya.
Disebuah perbatasan kota.
Langit begitu terang bercahaya....panas.....debu berterbangan kemana-mana. Seorang anak kecil menangis dipinggir jalan bersama ibunya yang dengan bersusah payah menenangkan anaknya dan memberinyan air agar tidak kepanasan. Beberapa pengamen bercanda dengan temannya saling ejek dan kejar-kejaran. Mereka seakan tak merasakan teriknya matahari yang membakar bumi.
"Minta air bisa ibu?
"Oh bisa..bisa. Silahkan duduk tuan. Apa tuan mau makan juga?
Disebuah warung yang ramai dengan pengunjung seseorang laki-laki yang memakai caping memesan air minum...
"Ya..ya..sama makan mau juga.
"Mau pakai apa tuan, telur atau daging ayam?
"Telur saja....
"Dari logatnya tuan pasti bukan orang sini?Tuan hendak kemana?
Laki-Laki bercaping mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menunjukan sebuah foto pada si pedagang warung.
"Ya saya memang bukan dari sini orang, Apa anda mengenal orang ini?
Si pedagang menatap foto yang diberikan oleh laki-laki tersebut dan menggerenyitkan dahinya seakan sedang berfikir keras untuk mengenali orang tersebut.
"Ini saya dan...yang satu ini teman saya....dia dulu tinggal disekitar sini apa anda kenal??
"Orang ini.....? Ya..ya..ya..saya kenal orang ini. tapi.....kayaknya dia telah meninggalkan kota ini..
"Jadi anda kenal dan dia telah meninggalkan kota ini?
"Ya..semenjak rumahnya terbakar, rumahnya tak lagi ditempati....
"terbakar?...apa yang terjadi?
"Entahlah tuan.....semuanya terjadi begitu cepat...tak ada yang tahu apa yeng telah terjadi disana. Oh ya ini minum dan makannya tuan...silahkan menikmati
Si pedagang memberikan minum dan makananan yang laki2 bercaping pesan. Sambil makan dan minum laki2 terus berfikir tentang apa yang telah terjadi dengan orang yang bersamanya didalm foto itu.
Setelah selesai menyantap makanan yang disediakan laki-laki bercaping segera membayar makannya dan pergi meningggalkan warung itu dengan cepat sambil sebelumnya bertanya tentang rumah temannya yang ada di foto itu. Langkahnya dengan cepat mengarah ke rumah yang ditunjukan oleh si pedagang padanya. Tak lama setelah itu tibalah ia di depan sebuah rumah yang menyisakan puing-puing yang hanya menyisakan kayu yang telah menjadi arang yang menghitam....ditelusurinya rumah itu dengan cermat dan memperhatikan setiap jengkal rumah itu dengan tajam mengharapkan ada sesuatu yang dapat dia ketahui dari sisa-sisa barang atau apapun yang dapat mengantarnya pada titik temu tentang temannya yang selama ini dicarinya.
tiba-tiba....
"Ada yang bisa saya bantu tuan...?
Suara serak dan kasar menyapanya dan sedikit membuatnya kaget.
"Oh..eh..tidak...ehm siapa kamu?
"Saya Watno tuan...penjaga rumah ini,apa anda sedang mencari sesuatu?
Penjaga rumah yang mengaku bernama watno bertanya pada laki-laki itu dengan rasa curiga
"Ehm...kalau boleh saya tahu....siapa pemillik rumah ini?
"Pemiliknya...? ada hubungan apa tuan dengan tuan Dias..
"Ja..jadi...kamu tahu dia?
"Tentu saja..saya kan sudah bilang bahwa saya yang menjaga rumah ini sebelumnya.
Watno berkerut dan memandang tajam pada laki-laki yang ada didepannya itu.
"Ya...ya....apakah ini dia orangnya??
laki-laki bercaping mengeluarkan foto dari balik bajunya dan menunjukannya pada Watno...
Watno sedikit terkejut melihat foto Dias ada pada laki-laki itu. Dipandanginya terus laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan teliti sekan tak percaya pada orang yang ada dihadapannya itu.
"Ya..ini tuan Dias...mengapa foto ini ada pada tuan? siapa tuan sebenarnya?
"Saya...teman Dias dulu....saya Tanaka....bisa kamu orang bawa saya pada dia?
"Tentu saja tapi....
"Tapi kenapa???
"Saya masih belum percaya pada tuan...apa jaminan tuan untuk tidak menyakiti tuan Dias?
"Kamu harus percaya saya orang...kamu orang kan sudah lihat foto saya bersamanya...sekarang tunjukan dimana dia tinggal!
"Baiklah...tapi jika tuan berbuat macam-macam pada tuan saya...saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi anda tuan!
"Terserah kamu..kamu harus percaya saya...saya orang tidak akan menyakiti tuan anda.
"Ok..sekarang ikuti saya..
Watno mulai percaya pada laki-laki yang mengaku temannya Dias..dengan cepat dia berjalan dan Tanaka segera mengikutinya dari belakang......................bersambung ke episode 6
Di sebuah rumah yang tak begitu besar namun sangat asri terasa. Rumahnya di kelilingi pagar yang tinggi dan di penuhi tanaman dan bunga yang menambah kesan cantik. Seorang wanita cantik duduk di bangku taman sambil menikmati angin dan minuman yang disediakan oleh pembantunya. Matanya terus memandang ke pintu gerbang seakan akan sedang menunggu seseorang....tiupan angin terus membelai rambutnya yang panjang....seekor kupu-kupu terbang diatas mejanya dan hinggap di bibir gelas minuman si gadis.....gadis itu hanya tersenyum memandangnya dan tidak berusaha mengusirnya. Ditatapnya kupu-kupu itu lekat-lekat....dan dia berusaha menangkapnya. Sebelum tangannya sampai.....kupu-kupu itu telah terbang dan lalu hinggap di bunga mawar putih yang sedang mekar....
"Kupu kupu...kapan dia akan kembali...hehhh...aku kangen dia.
Gadis itu mengguman seakan berbicara dengan kupu-kupu yang menemaninya itu...Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil BMW melaju masuk ke dalam dan berhenti persis di samping gadis itu duduk
" Sheila....sedang apa kamu disitu..???
Seseorang membuka kaca mobil dan menegurnya.
"Ah paman Dias, aku cuma...cuma cari angin saja paman
"Mau paman antar pergi...kemana gitu??
"Terimakasih paman...aku lebih suka disini
"Ya sudah...paman masuk dulu ya, nanti temani paman sarapan ya ok
"Ya paman..terimakasih
Mobil Dias kembali berlalu pergi meninggalkan Sheila yang kembali menikmati kesendiriannya
Ditatapnya pamannya yang masuk rumah sambil membawa tasnya.
"Kasihan paman....hanya aku yang selalu menemaninya kini...Heuhhh...Azira...dimana kamu??? Aku dan paman selalu menunggu kamu Zira...
Sheila tak dapat menyembunyikan kesedihannya...matanya berlinang mengingat orang-orang yang sangat dicintainya...Pamannya dan Azira.
"Sheila...!! masuklah...katanya mau temani paman sarapan
Terdengar Dias memanggilnya...Sheila masih enggan beranjak dari tempat duduknya namun ia tak kuasa membiarkan pamannya makan sendiri.
"Ya paman...tunggu sebentar.
Sheila segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui Dias. Begitu masuk ke dalam rumah tampak Dias sedang menunggunya di meja makan dan menyuruhnya untuk duduk. Sheila segera menggeser tempat duduk dan duduk di depan pamannya yang kelihatan sangat tegar walaupun sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintainya
"Sheil....apa kamu masih mau tinggal disini??? mama kamu dah panggil kamu tuk pulang tuh...katanya dia kangen sama kamu.
"Paman....aku masih mau menemani paman disini...nanti aku telepon mama, pasti mama mengerti dengan alasan Sheila.
"Heh..ya sudah kalau kamu bersikeras seperti itu, tapi lain kali temuilah mama-mu
Dias mendesah lalu mengambilkan Sheila sepiring nasi
"Terima kasih paman
Sheila menerima nasi yang diambil Dias dan mulai mengambil lauk yang sudah tersedia diatas meja. Sambil makan Dias mereka saling bercakap-cakap dan kadang-kadang mereka saling tertawa ketika ada cerita yang dirasa lucu.
"Paman....
"Ya..
"Azira...Azira kapan pulang ya paman??
Sheila bertanya ragu-ragu dan agak malu pada Dias
"Entahlah....paman pun tidak tau dimana dia berada, terakhir paman telepon dia..dia ada di puncak tapi.....
Dias tidak melanjutkan kata-katanya, hal itu tentu saja membuatnya penasaran dan gelisah ingin tahu apa yang sedang terjadi
"hehh......ketika...ketika paman menuju villanya di puncak...
"Kenapa paman..apa yang terjadi pada Azira???
Sheila tak sabar menunggu ucapan Dias selanjutnya
"Paman tak tahu apa yang terjadi dengan Azira tapi....tapi paman menemukan villanya telah hancur berantakan dan banyak mayat bergelimpanagan disana. Tampaknya Azira telah berkelahi dengan orang-orangnya Mr Chan. Paman tak melihat Azira disana Sheil, paman juga tidak tahu dimana dia berada sekarang
"Paman...paman tidak sedang bercanda kan???
Mimik Sheila menunjukan takut yang amat sangat. Takut kehilangan orang-orang yang sedang diam-diam dicintainya itu
"Apa paman terlihat sedang bercanda Sheil...?? Paman pun takut sesuatu sedang terjadi padanya...paman dan anak buah paman sedang mencarinya kemana-mana...tapi...sampai saat ini paman belum menemukan dimana jejak Azira.
"Kenapa...kenapa paman baru memberitahu Sheila sekarang paman!!
"Sheil...kenapa kamu marah??? Paman tidak memberitahu kamu karena paman tidak ingin kamu ikut-ikutan panik seperti paman...kamu begitu panik....jangan-jangan kamu mulai mencintanya Sheil..?
Kepanikan Sheila dapat dibaca oleh Dias....Sheila tak ingin diketahui oleh Dias dan dengan cepat dia berdiri dan berlari menuju kamarnya dan membiarkan Dias duduk sendiri di meja makannya.
Dikamarnya Sheila tak dapat membendung kepedihannya....perasaannya takut....galau....resah...semuanya berkecamuk menjadi satu...air matanya tak bisa lagi tertahan.Sheila menutupi mukanya dengan bantal dan terduduk di pojok ruangan yang sepi dan hanya terdengar suara isak tangisnya saja.
Pikirannya terus melayang pada sosok laki-laki yang selalu hadir dalam benaknya.....dimana dia berada?? pertanyaan pertanyaan itu terus bermain dalam hatinya.....tok...tok...tok...
terdengar suara pintu diketuk dan suara Dias memanggil Sheila
"Sheil....boleh paman masuk ??
Sheila tak langsung menjawab, Sheila masih sangat kesal karena Dias tak segera memberitahukan bahwa telah terjadi sesuatu dengan Azira
"Sheil....boleh paman masuk Sheil..??
Kembali terdengar Dias memanggil namanya namun kali ini Sheila menjawab panggilan Dias.
" Masuk paman...pintunya engga Sheila kunci
Terdengar suara Dias membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki Dias langsung mendekati Sheila yang masih duduk di pojok ruangan.....
"Sheil....maafkan paman telah menyembunyikan semua ini pada kamu tapi.....paman yakin ini adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus paman lakukan agar kamu tidak terlalu cemas memikirkan dia. Namun....paman juga engga bisa menyembunyikan semua itu sama kamu karena lambat laun kamu juga pasti tahu dan kamu makin membenci paman....maafkan paman Sheil.
Suara Dias terdengar lirih dan penuh rasa cinta pada Sheila.....tangis Sheila semakin menjadi-jadi...Sheila tak sanggup menyakiti hati pamannya yang kini hidup menyendiri. Dan menyakiti hatinya sama saja dia menyakiti kedua orang tuanya. Dengan cepat Sheila memeluk Dias dan menangis dibahunya...tak ada kata-kata yang terucap....hanya isaknya yang terdengar di seluruh ruangan. Dengan lembut Dias membelai tubuk keponakannya itu dan menghapus airmatanya.
"Sheil....besok kita coba cari Azira bersama-sama ya...Paman berharap kita dapat menemukannya dalam keadaan baik-baik saja.
Sheila tak menjawab...hanya anggukan kepalanya yang mengiyakan ucapan Dias. Tangis Sheila semakin kencang....Dias tak ingin menghentikannya...biar tangis itu menjadi curahan hatinya dan setelah itu dia akan kembali dengan Sheila yang dapat menghadapi hidup dengan kepercayaan diri yang tinggi dan tanpa keputus asaan menggapai semua mimpi-mimpinya....mimpi tentang orang yang sangat dicintainya dan mimpi tentang hari esok yang lebih baik.
Ditempat lain
"Chan.....!!!! aku sudah bialang sama kamu jangan pernah menyepelekan orang....
" Maafkan aku kakak Lee....tapi....
"Tapi apa lagi..!!! apa kamu mau mengelak tentang kegagalan kamu ini hah!!
"Kakak Lee...memang benar apa yang dikatakan oleh Chan kita hampir membunuh Azira....
Takeshi yang berada dekat Mr Chan berusaha membela Mr Chan dihadapan Lee namun nampaknya hal itu semakin membuat Lee marah besar
"Kamu juga !! kamu terlalu meremehkan orang!! sama seperti Chan...kalian berdua tak ada gunanya sama sekali!! Chan..!!! Takeshi...!!! aku perintahkan kalian mencari Azira dan ninja sialan yang menolongnya!!
Lee menarik baju Chan dan Takeshi bersamaan dan......Plak....plak Lee menampar wajah Chan dan Takeshi bersamaan. Walaupun tamparan Lee tak nampak kencang namun tamparanya membuat kedua orang itu terpental beberapa kaki dan langsung mengeluarakan darah segar dari hidung mereka.
"ayo serang aku!! ayooooo!! aku ingin tahu seberapa besar kekuatan kalian sehingga bisa dikalahkan mereka!!!
Chan dan Takeshi saling pandang, mereka ragu untuk menyerang Lee.
"Ayo cepat serang aku!!!
Kembali Lee memaksa mereka untuk menyerangnya. Mendapat tekanan yang begitu besar dari Lee...Mr Chan dan Takeshi langsung memasang kuda-kuda dan menyerang Lee dengan kecepatan tinggi tapi......Lee tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri dan sama sekali tak menghindari serangan mereka dan....duk.....duk,......duk....duk......pukulan dan tendangan mendarat telak di wajah dan tubuh Lee namun..............Lee tak bergerak sedikitpun dan merasa kesakitan....Lee hanya tersenyum sinis memandang mereka.
"heh...cuma segini kekuatan kalian......pantas mereka dengan mudah mengalahkan kalian...ayo tunjukan kekuatan kalian yang paling besarrrr!!!
Mr Chan dan Takeshi melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Mereka tak menyangka kekuatan Lee telah bertambah walaupun dia tak lagi memimpin oraganisasi hitamnya. Mr Chan dan Takeshi penasaran dengan kekuatan Lee. Dengan cepat mereka menghimpun kekuatan yang lebih besar....otot-otot tampak keluar daritangan dan kaki mereka. Kekuatan yang besar itu bisa saja membawa seseorang yang terkenanya langsung ke ujung maut
"Hiatttttttttttt!!!!!
"Hiaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!
keduanya menyerang kembali Lee dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Lee tetap seperti biasa....matanya tajam ke arah serangan yang dilancarkan oleh Mr Chan dan Takeshi dan....
ketika tangan dan kaki Mr Chan dan Takeshi hampir mengenai mereka dengan cepat Lee merubah kuda kudanya dan menampar kaki dan tangan mereka...akibatnya sangat luar biasa.....Mr Chan dan Takeshi langsung terpental 10 kaki kebelakang dan membentur pohon dan tembok yang ada disitu hingga bergetar hebat dan hancur.
"Akhhhh........
"Akhhhhh.......
Mr Chan dan Takeshi terkapar tak berdaya dan kembali mengeluarkan darah segar. Lee hanya menyeringai melihat keduanya jatuh akibat tamparannya yang seakan-akan tidak bertenaga namun mempuyai daya hancur yang sangat luar biasa.
Di tempat lain nun jauh dari kota.........sungai mengalir dengan derasnya sehingga riaknya mampu menerjang apapun yang ada didepannya......kilauan kejernihannya bak permata yang tak pernah redup....diantara riaknya air batu-batu dengan kokohnya berdiri diantara jalur-jalur yang dilalui oleh air dan menghadang lajunya......hamparan sawah menghijau laiknya permadani yang mampu membuat orang tertidur di atasnya dengan nyaman......burung-burung berterbangan mencari pasangannya......Diatas sebuah batu yang cukup besar, seorang laki-laki bercaping duduk diatasnnya dan memandangi derasnya air dengan matanya yang sipit dan tajam. Tubuhnya telah menghitam, namun dapat dipastikan laki-laki itu bukanlah orang biasa. Sesekali ia menjentikan tanganya ke arah sungai dan menimbulkan riakan air yang cukup besar...
"Hm...kemana lagi aku harus mencari mereka?
Laki-laki itu berguman lirih sambil terus menjentikan jarinya..ditatapnya hamparan sawah yang ada didepannya. Tampak olehnya beberapa petani yang sedang membajak sawahnya ditemani kerbaunya yang sudah terlihat kelelahan. Laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan langsung membuka bajunya dan terjun ke air sungai yang cukup dalam dan mandi disana, sesekali ia menyelam dan ketika dia keluar dari permkaan kedua tangannya telah menggenggam dua ekor ikan mas yang lumayan besar. Lalu dilemparnya ikan itu ke tempat dia tadi menyimpan bajunya....Dengan pelan dia menggosok-gosok tubuhnya yang kekar dan menghitam dengan batu sungai yang bersih lalu menyelam lagi. Ketika dia muncul di permukaan air, dia merasakan ada orang yang sedang memperhatikan dirinya.....dengan cepat dia menoleh.....
"Maaf pak.....apa saya mengganggu kegiatan anda??
Seorang laki-laki yang ditemani teman wanitanya langsung menegur laki-laki bercaping yang sedang asik mandi dan menangkap ikan. Laki-laki itu tak menjawab dan hanya menatap mereka dengan tajam.
"Zira....sebaiknya kita tak mengganggu bapak ini, ayo kita pergi...
"Tunggu Layla...aku ingin bertanya padanya tentang sesuatu hal
Kedua orang itu ternyata Azira dan Layla yang memang sedang melewati tempat itu dan tidak sengaja melihat si lelaki bercaping mandi...
"Pak...boleh saya bertanya tentang sesuatu hal pada anda?
Lelaki itu tak juga menjawab pertanyaan Azira dan hanya menoleh pada Layla dengan tajam.
"Baiklah jika anda tak mau menjawab pertanyaan saya dan anda merasa terganggu...tapi saya...saya sangat penasaran dengan anda. Waktu saya sedang bertarung di villa saya di puncak...saya melihat anda di atas dahan pohon...apa anda yang menolong saya dari Chan dan Takeshi...mengapa anda menolong saya?
"Zira...Zira sudahlah....bapak ini tak tau apa-apa..ayo kita pergi.
"Layla...kamu bilang orang yang menolong kita adalah orang bertopeng dan kamu tak mengenalnya...mengapa kamu yakin bukan dia yang menolong kita? Dan aku tahu bapak ini ada disana waktu aku bertarung dengan Can dan Takeshi...
Laki-laki bercaping sedikit terkejut dan kagum dengan penglihatan Azira yang mampu mendeteksi keberadaan dirinya....
"Zira...aku...aku hanya menebak saja dan aku yakin karena tidak mungkin bapak ini beraroma mawar....
"Beraroma mawar...? kenapa kamu baru memberitahuku sekrang Layla.!
Azira meninggikan nada suaranya tanda kesal
"Aku baru saja mengingatnya Zira...karena sebelum pingsan aku sempat mencium aroma tubuhnya...maafkan aku Zira
Layla berusa menyembunyikan rahasia yang dia ketahui tentang wanita berpakaian ninja dan lelaki bercaping yang ada didepannya ini. Melihat Azira dan Layla saling beragumen lelaki ini langsung pergi mengambil pakaian dan ikan yang didapatnya dan pergi meningalkan mereka berdua. Azira dan Layla hanya menatap kepergian lelaki itu dan tak bisa mencegahnya tuk pergi...namun....masih ada yang mengganjal dihati Azira tentang laki2 bercaping itu.
"Pak tunggu......!!
"Pak....!!
Lelaki itu tetap berjalan walaupun Azira telah memanggilnya bahkan dengan gerakan yang ringan dan sangat cepat laki-laki bercaping loncat dari satu pohon ke pohon yang lain. Azira tak lagi mengejarnya walaupun dia tahu bahwa diapun dapat mengejarnya dengan cepat.
"Azira...aku yakin bapak itu tak mau diganggu dan itu salah kita mengganggu dia..baiknya kita pergi dari sini Azira dan menemui paman kamu...aku yakin dia sedang menunggu kamu
"Iya....baiklah..mari kita lanjutkan perjalanan kita..
Azira lalu mengajak Layla melanjutkan perjalannya, memegang tangannya sambil tatapannya masih mengarah pada arah dimana lelaki bercaping itu pergi.
"Layla..kamu yakin bukan bapak itu yang menolong kita ketika aku bertarung dengan Chan dan Takeshi.
"Ya aku yakin sekali Zira....orang yang menolong kita pastilah wanita karena aroma mawar yang berasal dari tubuhnya...
Layla berusaha menyembunyikan apa yang telah diketahuinya tentang laki-laki bercaping yang memberinya pil hingga Azira bisa diselamatkan dan Aurora..wanita berpakaian ninja yang masih menyimpan sejuta misteri karena wanita itu kenal dengan Azira...Layla menebak nebak tentang wanita itu..."Apakah dia orang yang sama seperti dirinya yang sangat mencintai Azira dimasa lalu Azira ataukah orang yang memang dekat dengannya dalam hubungan keluarga.
"Layla...lain kali jika kamu mengetahui tentang suatu hal ada baiknya kamu katakan padaku.
"Iya Zira...maafkan aku..
Mereka terus berjalan menyusuri pematang sawah...kebun.....sungai...hingga akhirnya menemukan jalan raya dan berusaha menghentikan laju mobil sayuran yang akhirnya membawa mereka menuju kediaman Dias. Azira terus bertanya-tanya tentang laki-laki bercaping dan wanita yang menolongnya hingga membuatnya kembali segar walaupun telah terkena racun yang sangat membahayakan jiwanya. Kini Azira berusaha menenangkan hatinya mengingat Dias yang mungkin menganggapnya telah mati.
Di tempat Dias.....
"Sheil.....kamu terlihat sangat kurus...apa kamu sakit?
"Eh,,ehm...engga paman...aku cuma lagi males makan aja. Sheila menjawab pertanyaan Dias sekenanya. pandangannya kosong tak menatap pamannya itu tetapi menatap jauh ke taman dan pintu gerbang yang sejak tadi tertutup karena tak ada angan tuk keluar rumah
"Apa kamu masih memikirkan Azira Sheil..?
"Ehm...Entahlah paman....ketika aku memikirkannya...dia menjauh dalam pikiranku tapi...ketika aku tak memikirkannya dia selalu ada mendekatiku...Sheila capek.
Dias menatap keponakannya dengan rasa pilu berusaha memahami perasaannya. Didekatinya Sheila dan dipelukya dengan rasa hangat laiknya seorang ayah yang sedang mencoba menentramkan anaknya tercinta. Sheila menangis dipelukan Dias...tak ada yang terucap dari bibirnya hanya isak tangisnya saja yang semakin terdengar keras. Dias berusaha menenangkan Sheila dengan membelainya dan mengucapkan kata-kata semangat padanya.
"Sheil....sudahlah...jika kamu berjodoh dengannya...paman yakin dia akan kembali pada kita dan menemui kamu Sheil. Sekarang...hapus air mata kamu Sheil dan tersenyumlah buat paman agar pamanmu yang sudah renta ini tidak ikut-ikutan bersedih..Senyumlah buat pamanmu ini Sheil...
Sheila berusaha menghentikan isak tangisnya dan menatap orang yang ada dihadapnnya itu dan berusaha tersenyum untuknya.
"Nah...begitu lebih baik kan...kamu terlihat lebih cantik jika tersenyum. Sheil...paman sayang kamu..paman harap kamu bisa seperti dahulu dan menemani paman seperti dahulu Renata yang selalu ada buat paman.
"Iya paman...Sheila minta maaf kalau selama ini Sheila selalu merepotkan paman
"Ti....
Belum sempat Dias melanjutakan kata-katanya pintu gerbang dibuka oleh seorang anak buahnya dan.......
Tampak seorang lelaki dan wanita memasuki rumah Dias dengan pakaiannya yang acak-acakan dan rambut yang tak terurus namun Dias dapat mengenali sosok laki-laki yang berjalan menuju dirinya dan Sheila...
"Paman...aku pulang
Hanya sepenggal kata yang terucap dari bibir laki-laki yang ternyata Azira. Dias begitu tak percaya dengan yang dilihatnya. Azira...orang yang selalu dicari-carinya kini tepat berada dihadapannya.
"Zira...Zira...betulkah itu kamu??
Sheila tak bisa lagi menutupi rasa kangen dan gembiranya melihat orang yang dicintainya pulang dalam keadaan selamat. Dengan cepat dia menghambur dan memeluk Azira yang begitu terlihat lelah namun masih bisa memberikan senyum pada Dias da Sheila. Layla menarik nafas panjang ketika dilihatnya Sheila begitu erat memeluk Azira. Azira menyadari hal itu dan dengan lembut berusaha melepaskan pelukan Sheila dan memeluk Dias yang cuma terdiam terpaku.
"Kamu kemana saja Azira, om sangat kehilangan kamu....dan..
Dias menatap Layla dengan penuh penasaran. Layla pun tersenyum pada Dias.
"Siapa dia Azira....apakah dia teman wanita kamu?
"Oh ya om...Ini Layla...dia orang yang telah merawatku selama ini
Dias menyodorkan tangannya mengajak bersalaman pada Layla dan Layla menerimanya dengan rasa hangat. "Layla....
"Dias...
Layla dan Dias saling berkenalan. Sheila yang melihat kejadian itu terpaksa bersalaman dengan Layla dan memperkenalkan dirinya namun dapat dilihat sinar kecemburuan yang dalam dari matanya ketika melihat Azira dan Layla terliihat begitu dekat.
"Mari masuk semuanya, Zira dan Layla...om yakin kalian sangat letih...silahkan masuk dan mandilah dulu lalu setelah itu makan dan istirahat, nanti om ingin sekali mendengarkan cerita kalian berdua dan apa yang telah terjadi selama ini pada kalian oke.
"Terimaksih om
Azira dan Layla mengucapkan rasa terimaksihnya bersamaan dan langsung masuk kedalam diikuti Dias dan Sheila.........
Dimeja makan setelah semuanya telah siap.
Azira duduk bersebelahan dengan Layla sementara Dias bersebelahan dengan Layla. Sheila tak habis-habisnya memandangi Layla.....perasaan cemburunya berkecamuk dan dia berusaha menahannya dan menunjukan perasaannya pada siapapun. Hanya Azira yang dapat merasakan pebedaan itu....tatapan Sheila sangat berbeda dengan Sheila yang dulu yang sedikitpun pernah khawatir akan dirinya walaupun Azira tak mengetahui perasaan Sheila yang sesungguhnya. Dias sangat mengerti situasi yang membuat semuanya serba kaku oleh karena itu ia berusaha mencairkan suasana di meja makannya.
"Sheila....katannya kamu kangen sama Azira...kok sekarang kamu diem aja sih hehehe
Dias berusaha bercanda dengan keponakannya itu.
"Iih paman....aku engga bilang begitu kok...paman bikin malu Sheila aja
Wajah Sheila memerah dengan perasaan yang tak menentu. Azira hanya tersenyum simpul melirik pada Sheila yang tertunduk memandangi nasinya sambil memainkan sendok dan garpu tak tahu apa yang harus diperbuat.
"Om....bagimana bisnis kita...apa semuaanya berjalan lancar??
"Ah...Zira...jangan membicarakan bisnis dulu...semuanya aman dan terkendali, om tahu apa yang harus om lakukan. Kamu tenang aja, justru om ingin tahu apa yang telah terjadi dengan kamu dan Layla?
"Aku diserang oleh Chan dan seseorang yang bernama Takeshi Om...mereka hampir saja membunuhku jika tidak sesorang datang dan menolongku....
"Takeshi.....? Jadi dia sudah kembali???
"Apa paman mengenal dia?? Azira bertanya heran.
"Tentu saja....Chan dan Takeshi adalah orang yang telah menghancurkan hidup sahabat paman. Mereka tak habis-habisnya membenci usaha paman untuk menjadi orang yang hidup di jalur yang benar...
"Maksud paman...??
Dias tak langsung menjawab....ditaruhnya sendok dan garpunya seakan tak lagi berselera makan.
"Dulu............
Dias terdiam sebentar seakan ragu akan melanjutkan ceritanya pada Azira...
"Kenapa om...mengapa om tak menceritakan semuanya pada Zira hingga Zira bisa mengerti persoalan yang sedang dihadapi om. Om....Zira tak ingin berlanjut seperti ini terus..
" Sebenarnya urusan Om dengan Chan bukan hanya terkait dengan Layla saja....Layla adalah urusan kamu dengan Chan karena kamu telah mengambilnya dari Chan
Dias terdiam sebentar sambil melirik Layla yang tertunduk mendengarkan cerita Dias yang mengaitkan dirinya dengan Chan.
"Om harap Layla tak tersinggung....ini benar urusan om dengan Chan...walaupun kamu terkait didalamnya namun itu bukan soal yang berarti bagi om dan Chan. Dulu om dan Chan adalah sahabat dekat yang mengembangkan berbagai bisnis di seluruh Indonesia, namun pada akhirnya Chan menjadi sangat rakus dan berambisi sehingga dia membelot pada musuh kita berdua Lee. Lee mengembangakan bisnis ilegal....penyelundupan....narkoba hingga human trafficking Chan terlibat dalam usaha itu dan meninggalkan bisnis om yang sudah goyah karena uang hasil usaha om seluruhnya di ambil alih Chan. Hingga pada akhirnya paman ditolong oleh seorang pengusaha jepang yang lalu menjadi sahabat paman.
"Lalu om
Zira memotong cerita Dias dan tampak tak sabar dengan kelanjutan ceritanya.
"Heh.....Sudahlah, om tak mau melanjutkan cerita ini...sangat menyedihkan dan om tak mau lagi mengingat semuanya...........lain kali kalau sudah waktunya om akan menceritakan semuanya pada kamu Zira, yang penting sekarang kita harus berhati hati dan mencegah segala kemungkinan yang akan di perbuat Chan pada kita.Azira terhening tak bermaksud memaksa Dias. Karena Dias adalah orang yang sangat dihormatinya.
Disebuah perbatasan kota.
Langit begitu terang bercahaya....panas.....debu berterbangan kemana-mana. Seorang anak kecil menangis dipinggir jalan bersama ibunya yang dengan bersusah payah menenangkan anaknya dan memberinyan air agar tidak kepanasan. Beberapa pengamen bercanda dengan temannya saling ejek dan kejar-kejaran. Mereka seakan tak merasakan teriknya matahari yang membakar bumi.
"Minta air bisa ibu?
"Oh bisa..bisa. Silahkan duduk tuan. Apa tuan mau makan juga?
Disebuah warung yang ramai dengan pengunjung seseorang laki-laki yang memakai caping memesan air minum...
"Ya..ya..sama makan mau juga.
"Mau pakai apa tuan, telur atau daging ayam?
"Telur saja....
"Dari logatnya tuan pasti bukan orang sini?Tuan hendak kemana?
Laki-Laki bercaping mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menunjukan sebuah foto pada si pedagang warung.
"Ya saya memang bukan dari sini orang, Apa anda mengenal orang ini?
Si pedagang menatap foto yang diberikan oleh laki-laki tersebut dan menggerenyitkan dahinya seakan sedang berfikir keras untuk mengenali orang tersebut.
"Ini saya dan...yang satu ini teman saya....dia dulu tinggal disekitar sini apa anda kenal??
"Orang ini.....? Ya..ya..ya..saya kenal orang ini. tapi.....kayaknya dia telah meninggalkan kota ini..
"Jadi anda kenal dan dia telah meninggalkan kota ini?
"Ya..semenjak rumahnya terbakar, rumahnya tak lagi ditempati....
"terbakar?...apa yang terjadi?
"Entahlah tuan.....semuanya terjadi begitu cepat...tak ada yang tahu apa yeng telah terjadi disana. Oh ya ini minum dan makannya tuan...silahkan menikmati
Si pedagang memberikan minum dan makananan yang laki2 bercaping pesan. Sambil makan dan minum laki2 terus berfikir tentang apa yang telah terjadi dengan orang yang bersamanya didalm foto itu.
Setelah selesai menyantap makanan yang disediakan laki-laki bercaping segera membayar makannya dan pergi meningggalkan warung itu dengan cepat sambil sebelumnya bertanya tentang rumah temannya yang ada di foto itu. Langkahnya dengan cepat mengarah ke rumah yang ditunjukan oleh si pedagang padanya. Tak lama setelah itu tibalah ia di depan sebuah rumah yang menyisakan puing-puing yang hanya menyisakan kayu yang telah menjadi arang yang menghitam....ditelusurinya rumah itu dengan cermat dan memperhatikan setiap jengkal rumah itu dengan tajam mengharapkan ada sesuatu yang dapat dia ketahui dari sisa-sisa barang atau apapun yang dapat mengantarnya pada titik temu tentang temannya yang selama ini dicarinya.
tiba-tiba....
"Ada yang bisa saya bantu tuan...?
Suara serak dan kasar menyapanya dan sedikit membuatnya kaget.
"Oh..eh..tidak...ehm siapa kamu?
"Saya Watno tuan...penjaga rumah ini,apa anda sedang mencari sesuatu?
Penjaga rumah yang mengaku bernama watno bertanya pada laki-laki itu dengan rasa curiga
"Ehm...kalau boleh saya tahu....siapa pemillik rumah ini?
"Pemiliknya...? ada hubungan apa tuan dengan tuan Dias..
"Ja..jadi...kamu tahu dia?
"Tentu saja..saya kan sudah bilang bahwa saya yang menjaga rumah ini sebelumnya.
Watno berkerut dan memandang tajam pada laki-laki yang ada didepannya itu.
"Ya...ya....apakah ini dia orangnya??
laki-laki bercaping mengeluarkan foto dari balik bajunya dan menunjukannya pada Watno...
Watno sedikit terkejut melihat foto Dias ada pada laki-laki itu. Dipandanginya terus laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan teliti sekan tak percaya pada orang yang ada dihadapannya itu.
"Ya..ini tuan Dias...mengapa foto ini ada pada tuan? siapa tuan sebenarnya?
"Saya...teman Dias dulu....saya Tanaka....bisa kamu orang bawa saya pada dia?
"Tentu saja tapi....
"Tapi kenapa???
"Saya masih belum percaya pada tuan...apa jaminan tuan untuk tidak menyakiti tuan Dias?
"Kamu harus percaya saya orang...kamu orang kan sudah lihat foto saya bersamanya...sekarang tunjukan dimana dia tinggal!
"Baiklah...tapi jika tuan berbuat macam-macam pada tuan saya...saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi anda tuan!
"Terserah kamu..kamu harus percaya saya...saya orang tidak akan menyakiti tuan anda.
"Ok..sekarang ikuti saya..
Watno mulai percaya pada laki-laki yang mengaku temannya Dias..dengan cepat dia berjalan dan Tanaka segera mengikutinya dari belakang......................bersambung ke episode 6
Selasa, 02 Juni 2009
Biarkan Aku Jadi Orang Palestina (Jihad Rajbi)
Ia telah menyadari kenyataan itu sejak awal. Tepatnya sejak pemimpin redaksi majalah menugaskannya ke Israel untuk meliput perkembangan terakhir negeri itu. Dia menyadari dengan pasti bahwa kini ia sedang memasuki dunia baru yang penuh petualangan. Sebuah dunia yang sarat dengan bau kematian sekaligus suara2 kehidupan. Sekalipun begitu, ia tak menduga sama sekali kalau hal itu akan menjadi awal dari masa ketika ia harus melewatu jenak2 kebimbangan yang terbentang jauh sampai melampaui tapal batas yang mungkn dicapai sepelontaran batu anak2 Palestina. Ia tidak lagi menemukan jalan menuju kehidupan selama ini, di kematian. Ia tak pernah membayangkan bahwa dari tiik2 itu ia kelak akan kehilangan beberapa hurup dari abjad keyakinannya, ditengah gumpalan lahar kata yang panas dan bara perasaan yang menyala-nyala. Dan sekarang , ia bahkan tak dapat memahami suaminya, Albert, seseorang yang selama ini dengan setia selalu ia temani. Rasanya gandengan tangan mereka tak pernah bisa lepas. Atau barangkali ia memang sudah tidak mempercayainya lagi. Ketika itulah , saat2 kesubliman berubah menjadi kemarahan, ia muntahkan semuanya. Dan sambil mengunyahkannya ia berteriak keras2 penuh perasaan yang bergejolak
"Demi Tuhan, sekarang saya benar-benar tidak tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka!!
Sambil menekuri asap rokoknya, suaminya menjawab,
"adalah hak penyerang untuk menentukan warna peperangan"
dengan bersenjatakan batu?
Albert tidak menjawab, ia hanya tersenyum datar sembari mencampakkan puntung rokoknya ke tanah. namun itu ternyata kian membuatnya marah. seketika ia melemparkan sandwichnya dan berteriak penuh emosi
"dengan hanya bersenjatakan batu, semua harapan akan pupus musnah di telan perang yang tak seimbang!"
"siapa bilang yang kita saksikan ini perang?"
"lalu apa namanya?"
sebutlah ia, sesuatu yang tak dapat di hentikan oleh kata yang lusuh.
Cathy menatap tanah, terpekur. sementara gumpalan kekesalan memenuhi rongga dadanya. sejurus kemudian, ia kembali menatap suaminya.
"saya tidak melihat mereka lebih beruntung dari puntung rokok itu". katanya sambil menunjuk puntung rokok yang tergeletak di atas tanah.
"bukan tidak mungkin."
"boleh jadi kehadiranmu menjadi harga bagi kematian mereka".
"Saya kira kamu tidak sedang memperolok-olokan saya kan".
"percayalah, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa batu kecil mereka ternyata memiliki kekuatan sedahsyat itu. kekuatan tersebut rupanya tersembunyi di balik sorot mata mereka. dan mata mereka tak pernah takut pada debu."
Albert memalingkan mukanya dari tatapan istriya. "barangkali dunia harus membuka matanya kembali," gumamnya pelan, seakan-akan hanya ia tujukan pada dirinya sendiri.
Dan kesubliman itu makin memadati celah-celah benak Cathy.sesuatu yang membuatnya kian tak mampu memahami Albert, suaminya. di depan matanya, seluruh dimensi lain yang menyelimuti kepribadian Albert terlalu luas. sementara itu, ia merasa terlalu sederhana agar dapat memahaminya. kebingungan Cathy tampak jelas ketika ia kembali bertanya:" apa yang mereka inginkan dari semua ini?"
"mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih kecuali dengan cara itu"
mendengar jawaban tersebut Cathy langsung memegang tangan suaminya. dan dengan tatapan lesu, ia berkata,"Albert, ah, saya benar-benar tidak dapat memahamimu lagi."
Albert segera memeluk istrinya, dan menyandarkan kepala dalam dekapan."mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat mereka merasa rugi. mereka hanya..."
" yah, mereka memang anak-anak. mereka masih terlalu kecil. mereka belum tahu apa arti perang..." potong istrinya.
"Anak-anak di lahirkan untuk kehidupan. tapi mereka? mereka? mereka di lahirkan bersama kematian!"
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil! hanya kedamaian yang hidup dalam pancaran mata mereka."
"perdamaian berarti kebebasan." (kegeraman dalam suara-suara tersebut bagai merasuki kata-katanya, atau itu amarah kesedihannya?)
Albert kembali menyiagakan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. sejurus kemudian mereka berdua kembali mengejar serdadu-serdadu Israel yang mulai memuntahkan peluru.
Dimata tentara Israel, segala sesuatu menjelma menjadi batu kemarahan. bahkan kabel-kabel listrik, tangan-tangan kecil, kaleng-kaleng sirop yang tergeletak di jalan-jalan, semuanya beralih menjadi benda-benda menakutkan yang setiap sat bisa mematikan.
Albert berhenti sejenak, sebuat panorama yang telah lama diimpikan tiba-tiba muncul di depan matanya. segera saja ia mengabadikan pemandangan langka itu dengan bidikan jitunya. dalam foto itu, tampak wajah seorang bocah yang sedang gusar. sayatan sembilu kesenduan, yang memancar dari kedua bola matanya yang beditu memilukan, bersekutu erat dengan kedua tangannya yang tempak begitu kekar dan teguh. prototip anak-anak palestina.
dalam gamar itu juga terlihat potret seorang serdadu Israel yang tampak bagai raksasa yang bodoh. air mukanya mengesankan bahwa ia tidak menyadari kekerdilan yang berakar di dalam hatinya, yang terus membuatnya bergidik dirundung ketakutan.
Albert memegang pundak istrinya. ia tersenyum, lalu berkata,"coba kita saksikan nanti, apa kata dunia saat menyaksikan potret tentara Israel yang sesungguhnya."
"saya tidak pernah tahu kalau kau ternyata membenci orang-orang Israel."
"percayalah, saya tidak membenci mereka."
"tapi sekarang kamu menunjukkannya."
"dengan segala kepengecutan mereka? dan dengan seluruh kebengisan mereka? yah, saya memang membenci mereka!"
"bukan suatu kesalahan jika mereka mencintai hidup."
"namun adalah zalim jika seseorang mempertahankan kehidupan dirinya dengan merampok umur orang lain."
"jadi kamu percaya pada bocah-bocah itu?"
"ya, seperti keyakinanku pada matahari, dan pada kebenaran yang telah mendorong saya datang ke sini. yakinlah, saya ridak akan sanggup melawan tentara Israel dengan hanya bersenjatakan batu-batu kecil. misteri kekuatannya tersembunyi di balik tangan-tangan mereka, sayang. bukan pada batu-batu itu."
"namun lontaran batu-batu mereka akan berjatuhan, lalu dihancurleburkan oleh peluru."
"peluru itu sudah habis sejak ditembakkan. tapi batu-batu mereka tetap abadi, karena bumi selalu setia menyimpan pecahan-pecahannya."
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil."
"benar. namun ketika mereka mulai menggenggam batu-batu, mereka bukan lagi anak kecil."
khayalan Albert lalu melayang jauh, kemudian dengan tiba-tiba ia kembali berucap, "semalam kamu menangis.mengapa?apa yang terjadi?"
"tak ada apa-apa. kecuali tulang belulang yang hancur remuk, sejumlah orang yang dikubur hidup-hidup, kepala-kepala yang terus menerus dihajar pentungan. tak ada apa-apa. kecuali hanya kematian. Yah, kematian tanpa harga."
"Saya ingin kamu kembali ke Amerika."
"Saya tidak akan meninggalkanmu seorang diri."
"Yakinlah, kamu tidak akan sanggup membawa beban lebih dari ini. mereka semua ketakutan. saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita jika kita membuat mereka marah?"
sebuat tatapan penolakan di layangkan Cathy kepada seaminya. sebentar kemudian ia mengingatkan,
"kebijakan tak pernah bisa berdampingan dengan ketakutan,Albert!"
"pekerjaan kita penuh bahaya. kuharap, kembalilah. perca...."
Albert tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. tiba-tiba ia berlari cepat, mengejar serdadu-serdadu Israel yang kembali menembakkan senjata dan menyemburkan gas air mata.
Seorang serdadu Israel yang takut melihat sorot matanya segera menangkapnya. mereka memukulinya ramai-ramai. Gadis kecil itu tampak begitu suci. Ia bahkan lebih suci dari cahaya fajar. yah, fajar yang di benci oleh serdadu-serdadu itu.
Pemandangan tadi membuat Albert kehilangan kesabaran. ia tak sanggup melanjutkan pemotretannya lagi. Ia tidak tahan lagi berdian diri bagaikan fokus kamera. seluruh kemarahannya tumpah dalam teriakannya:
"kalian akan membunuhnya!"
Seorang serdadu Israel menatapnya, dengan dendam. Ia kemudian mendorong Albert agar menjauh. Ia juga merampas kamera dari tangannya, menghempaskannya ke tanah dan menginjak-injaknya dengan kedua kakinya. Albert berusaha membela diri dan istrinya, yang telah menjadi pasangan hidupnya sejak ia menjadi wartawan. Namun serdadu Israel itu tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia bahkan memukul kepalanya. Ia mengucapkan begitu banyak kata tanpa arti yang jelas. Ia tampak begitu dendam bagai topan, tapi sekaligus takut bagai pasir.
Cathy segera manghampiri suaminya sembari berteriak sekeras-kerasnya. semua kata-kata busuk, yang mungkin dipakai mengata-ngatai serdadu-serdadu keparat itu, ia keluarkan, sambil membalut luka suaminya. Ia lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang malam Cathy duduk menunggui suaminya. pemandangan ini seperti menghidupkan luka-lukanya. Perlahan suaminya tampak mulai membuka matanya. seketika ia percaya bahwa musibah ini terasa akan lebih ramah.
dengan senyum yang dibuat-buat, Cathy berkata,"Saya tahu kamu belum akan mati. tenanglah. kita tak akan mendiamkan kejadian ini.Dunia pasti akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. tidak usah khawatir, saya telah membelikan kamera baru untukmu."
"Cathy, sayangku, demi aku kembalilah ke Amerika."
"setelah kejadian ini?mustahil!"
"mereka semua ketakutan."
"tidak, sebelum aku membelalakkan mata dunia dengan kenyataan yang sesungguhnya."
Albert terdiam sejenak. sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, ia berucap,"orang boleh menemukan kebenaran di setiap tempat. namun hanya di sini orang dapat merasakannya."
"Saya akan mengadukan serdadu-serdadu yang menyerangmu ke pengadilan,"ujar Cathy.
Albert kembali meraba kepalanya dengan kepalan tangan. Ia menyeringai, lalu tertawa dan berkata, "Jangan berbuat tolol."
"Kamu mulai latah, Albert."
"Saya telah merenung begitu lama hingga akhirnya saya bisa memahami misteri permainan ini."
"Wah, boleh juga punya suami folosof."
Air mukanya tiba-tiba berubah seketika seakan-akan mengingat sesuatu, kemudian ia bertanya,
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?"
"serdadu-serdaduIsrael memasuki rumah-rumah penduduk dan memukili mereka tanpa ampun, lalu merampasi harta benda mereka."
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?" Albert mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi.
"ia tewas!"
Mendengarnya Albert langsung berdiri dari tempat tidurnya. Ia merasa begitu sedih dan murung. Ia menatap ke kejauhan, menatap kekosongan. Ia mendesis,"tak seorang pun menolongnya."
"Mereka mengikutinya sampai ke rumah sakit. tapi kemudian mereka membunuhnya di sana," ujar Cathy.
"sendiri?" tanya Albert.
"Orang-orang Israel itu tidak percaya pada jumlah yang kecil."
Cathy terdiam sejenak. lalu dengan nada suara tinggi ia mengatakan, " mereka harus membayar harga kegilaan mereka akan darah yang tercurah."
kemudian Cathy keluar dari ruangan itu. Air matanya tumpah. setiap detik beralu begitu bengis, sebengis wajah serdadu-serdadu Israel yang berkeliaran di jalan-jalan. begitu menyakitkan! pahit seperti darah bocah-bocah cilik itu.
Cathy kembali menenteng kameranya, menelusuri jalan-jalan palestina. Ia mencari kisah baru, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan kemenangan untuk sebuah perang yang belum dimulai, tentang seorang bocah yang mengancungkan tangan demi cinta, dan perang!
seorang bocah kecil, yang sedang mencari mimpi-mimpi kepahlawanan, mendekati seorang serdadu Israel, lalu melemparnya dengan sebuah batu kecil. matanya nyalang dan menyala. sama sekali tak ada ketakutan terpancar dari sorot matanya. di matanya, masa kanak-kanaknya tampak seperti sebuah makhluk baru, tempat segala sesuatu lebur menjadi satu, kemudian dengan tiba-tiba menemukan betapa tidak berartinya tatapan matamu padanya, betapa tiada bertepinya tepat bersandar seluruh angan-anganmu. masa kanak-kanak di matanya bagai garis-garis tanpa warna yang salig bersilangan. dan kau tahu, setiap bocah Pelestina membawa makhluk seperti ini dalam bola matanya.
Serdadu itu berusaha menangkapnya. namun tubuhnya yang ringan membuat si serdadu gagal menghisap darahnya dan meremuk-remuk tulang belulangnya yang masih rawan.
Cathy segera menjepret adegan yang begitu berani yang diperagakan bocah tersebut. kebahagiaan terbayang jelas di wajahnya melihat bocah kecil itu berhasil lolos dari kejaran serdadu Israel. Kini ia tahu, bukan hanya orang-orang Indian yang pandai menguliti kepala manusia! akan tetapi ia masih bisa menemukan sejumlah alasan yang mungkin membenarkan oran-orang Indian itu melakukannya.
Serdadu Israel itu segera sadar akan kehadiran Cathy. Amarahnya meledak. Ia berusaha mengusir Cathy dengan kasar. Namun, sebuath batu, yang tiba-tiba dilemparkan si bocah untuk kedua kalinya, memaksa serdadu Israel itu meninggalkannya. Ia segera memburu kencang, sangat kencang, mengejar si bocah sembari berteriak mengancam akan membunuhnya.
Serdadu itu menebarkan peluru senapannya ke segala arah. akan tetapi tubuh bocah kecil itu enggan disasari peluru.
Cathy berusaha mendekati bocah-bocah pembangkang tersebut. Ia melihat seorang bocah yang sejak tadi mengawasinya. Si bocah tampak bingung. Cathy mendekatinya dengan hati-hati. Cathy sama sekali tidak merasa kalu bocah itu takut atau ragu padanya. Ia lalu memegang kedua tangan kurusnya yang berlumuran darah dan debu bebatuan. dan dengan hangat ia mendaratkan sebuah ciuman ke jidatnya. Oh, betapa ia merasa begitu kerdil di depan sang pembangkang kecil.
Kemudian dilepaskan kalung kesayangan yang selama ini dipakainya. Ia merasa kalung itulah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Ia lalu memasangkannya ke leher bocah, dan menatapnya sendu.
Pelan-pelan anak itu menjauhi Cathy, kemudian memungut sebuah batu kecil dari tanah dan menyerahkannya padanya. Itulah hadiah termahal dari bocah pembangkang. barangkali bocah tersebut belum terlalu memahami makna tindakan wartawati Barat itu padanya. namun ia agaknya merasa bahwa si wartawati tidak berbeda jauh dengan ibunya yang selalu menunjukinya tempat-tempat yang banyak menyimpan pecahan batu.
Cathy menggenggam batu kecil itu. Ia merenunginya dalam-dalam. Ia kemudian pergi seorang diri. Mata bocah pembangkang tadi masih terus memandangi kepergiannya. Hingga akhirnya Cathy menjauh bersama hadiah termahalnya. dan si bocah pun kembali memungut batunya, kembali bergelut dengan serdadu-serdadu yang terus memburu dengan rasa haus akan kucuran darahnya.
Dari kejauhan Cathy kembali menatap si bocah kecil. semua peristiwa di masa lalu kembali terekam cepat dalam ingatannya. kini semua menjadi jelas. sekaligus mengerikan. masa kanak-kanak tidak mungkin sirna di tengah negeri perdamaian dan anak-anak. Cathy masih menatap anak tadi seakan hendak menyimpannya dalam matanya, selamanya.
Bocah kecil itu berlari bagai anak panah, melemparkan batu kecilnya, dan meneriakkan kata-kata yang tak dapat dipahami Cathy. Sekalipun ia yakin bahwa kata-kata itulah yang menghidupkan revolusi pada kedua bola mata mereka, pada telapak kaki mereka.
Si bocah terus meneriakkan "Allahu Akbar". Namun tiba-tiba saja serdadu Israel menggilasnya dengan kendaraan lapis baja. Bocah kecil itu berusaha berlari dan menghindar. Ia berusaha mencari dada ibunya.(dia bocah kecil. mengapa mobil berlapis baja harus menjadikan tubuhnya yang masih hijau sebagai batu-batu jalanan?)
Seakan kesurupan Cathy menghampirinya. Ia berteriak, "tidak!tidak!tidak!" Namun teriakannya takkan pernah sampai ke telinga siapa pun. kendaraan lapis baja mengubah tubuh kecil yang masih hijau itu sebagai mimpi yang tak sempat menjadi kenyataan.
Cathy melemparkan dirinya yang remuk redam ke atas tanah. Dipeluknya erat-erat bocah yang masih berlumuran darah itu. Si bocah masih mengenakan kalung pemberiannya. Dan tersenyum seperti bocah lainnya.
Itu wajah seorang bocah. Mengapa mereka mengotorinya dengan darah? Bahaya apakah yang mungkin ditimbulkan oleh sebuat batu kecil, dari seorang bocah kecil, bagi para serdadu bersenjata api otomatis itu?
Cathy menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Ia berusaha membangunkannya. bocah itu terlalu lembut. Mengapa ia harus mati? Umurnya pasti belum sampai enam tahun. akan tetapi mengapa ia harus mati begitu cepat?
Cathy menatap gusar ceceran darah yang mengucur ke bumi. kemudian ia menatap tangannya sendiri yang maish menggenggam hadiah termahal dari si bocah. ia merasa seperti dihentakkan oleh kesedihan dan kemarahan. lalu tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya, dibangkitkan oleh kekuatan yang tidak dibawa bocah-bocah pembangkang di tanah jajahan,"Tidak!tidak!tidak!" dan serta merta hadiah si bocah kecil ia lontarkan sekuat tenaga ke arah serdadu-serdadu Israel.
Cathy terus berteriak, terus memungut batu-batu bersama bocah-bocah lainnya, dan melemparkannya ke tentara Israel itu. Ia terus dan terus membalaskan dendam demi darah suaminya dan darah bocah kecil itu.
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Biarkan aku jadi orang Palestina!
"Demi Tuhan, sekarang saya benar-benar tidak tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka!!
Sambil menekuri asap rokoknya, suaminya menjawab,
"adalah hak penyerang untuk menentukan warna peperangan"
dengan bersenjatakan batu?
Albert tidak menjawab, ia hanya tersenyum datar sembari mencampakkan puntung rokoknya ke tanah. namun itu ternyata kian membuatnya marah. seketika ia melemparkan sandwichnya dan berteriak penuh emosi
"dengan hanya bersenjatakan batu, semua harapan akan pupus musnah di telan perang yang tak seimbang!"
"siapa bilang yang kita saksikan ini perang?"
"lalu apa namanya?"
sebutlah ia, sesuatu yang tak dapat di hentikan oleh kata yang lusuh.
Cathy menatap tanah, terpekur. sementara gumpalan kekesalan memenuhi rongga dadanya. sejurus kemudian, ia kembali menatap suaminya.
"saya tidak melihat mereka lebih beruntung dari puntung rokok itu". katanya sambil menunjuk puntung rokok yang tergeletak di atas tanah.
"bukan tidak mungkin."
"boleh jadi kehadiranmu menjadi harga bagi kematian mereka".
"Saya kira kamu tidak sedang memperolok-olokan saya kan".
"percayalah, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa batu kecil mereka ternyata memiliki kekuatan sedahsyat itu. kekuatan tersebut rupanya tersembunyi di balik sorot mata mereka. dan mata mereka tak pernah takut pada debu."
Albert memalingkan mukanya dari tatapan istriya. "barangkali dunia harus membuka matanya kembali," gumamnya pelan, seakan-akan hanya ia tujukan pada dirinya sendiri.
Dan kesubliman itu makin memadati celah-celah benak Cathy.sesuatu yang membuatnya kian tak mampu memahami Albert, suaminya. di depan matanya, seluruh dimensi lain yang menyelimuti kepribadian Albert terlalu luas. sementara itu, ia merasa terlalu sederhana agar dapat memahaminya. kebingungan Cathy tampak jelas ketika ia kembali bertanya:" apa yang mereka inginkan dari semua ini?"
"mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih kecuali dengan cara itu"
mendengar jawaban tersebut Cathy langsung memegang tangan suaminya. dan dengan tatapan lesu, ia berkata,"Albert, ah, saya benar-benar tidak dapat memahamimu lagi."
Albert segera memeluk istrinya, dan menyandarkan kepala dalam dekapan."mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat mereka merasa rugi. mereka hanya..."
" yah, mereka memang anak-anak. mereka masih terlalu kecil. mereka belum tahu apa arti perang..." potong istrinya.
"Anak-anak di lahirkan untuk kehidupan. tapi mereka? mereka? mereka di lahirkan bersama kematian!"
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil! hanya kedamaian yang hidup dalam pancaran mata mereka."
"perdamaian berarti kebebasan." (kegeraman dalam suara-suara tersebut bagai merasuki kata-katanya, atau itu amarah kesedihannya?)
Albert kembali menyiagakan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. sejurus kemudian mereka berdua kembali mengejar serdadu-serdadu Israel yang mulai memuntahkan peluru.
Dimata tentara Israel, segala sesuatu menjelma menjadi batu kemarahan. bahkan kabel-kabel listrik, tangan-tangan kecil, kaleng-kaleng sirop yang tergeletak di jalan-jalan, semuanya beralih menjadi benda-benda menakutkan yang setiap sat bisa mematikan.
Albert berhenti sejenak, sebuat panorama yang telah lama diimpikan tiba-tiba muncul di depan matanya. segera saja ia mengabadikan pemandangan langka itu dengan bidikan jitunya. dalam foto itu, tampak wajah seorang bocah yang sedang gusar. sayatan sembilu kesenduan, yang memancar dari kedua bola matanya yang beditu memilukan, bersekutu erat dengan kedua tangannya yang tempak begitu kekar dan teguh. prototip anak-anak palestina.
dalam gamar itu juga terlihat potret seorang serdadu Israel yang tampak bagai raksasa yang bodoh. air mukanya mengesankan bahwa ia tidak menyadari kekerdilan yang berakar di dalam hatinya, yang terus membuatnya bergidik dirundung ketakutan.
Albert memegang pundak istrinya. ia tersenyum, lalu berkata,"coba kita saksikan nanti, apa kata dunia saat menyaksikan potret tentara Israel yang sesungguhnya."
"saya tidak pernah tahu kalau kau ternyata membenci orang-orang Israel."
"percayalah, saya tidak membenci mereka."
"tapi sekarang kamu menunjukkannya."
"dengan segala kepengecutan mereka? dan dengan seluruh kebengisan mereka? yah, saya memang membenci mereka!"
"bukan suatu kesalahan jika mereka mencintai hidup."
"namun adalah zalim jika seseorang mempertahankan kehidupan dirinya dengan merampok umur orang lain."
"jadi kamu percaya pada bocah-bocah itu?"
"ya, seperti keyakinanku pada matahari, dan pada kebenaran yang telah mendorong saya datang ke sini. yakinlah, saya ridak akan sanggup melawan tentara Israel dengan hanya bersenjatakan batu-batu kecil. misteri kekuatannya tersembunyi di balik tangan-tangan mereka, sayang. bukan pada batu-batu itu."
"namun lontaran batu-batu mereka akan berjatuhan, lalu dihancurleburkan oleh peluru."
"peluru itu sudah habis sejak ditembakkan. tapi batu-batu mereka tetap abadi, karena bumi selalu setia menyimpan pecahan-pecahannya."
"akan tetapi mereka masih terlalu kecil."
"benar. namun ketika mereka mulai menggenggam batu-batu, mereka bukan lagi anak kecil."
khayalan Albert lalu melayang jauh, kemudian dengan tiba-tiba ia kembali berucap, "semalam kamu menangis.mengapa?apa yang terjadi?"
"tak ada apa-apa. kecuali tulang belulang yang hancur remuk, sejumlah orang yang dikubur hidup-hidup, kepala-kepala yang terus menerus dihajar pentungan. tak ada apa-apa. kecuali hanya kematian. Yah, kematian tanpa harga."
"Saya ingin kamu kembali ke Amerika."
"Saya tidak akan meninggalkanmu seorang diri."
"Yakinlah, kamu tidak akan sanggup membawa beban lebih dari ini. mereka semua ketakutan. saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita jika kita membuat mereka marah?"
sebuat tatapan penolakan di layangkan Cathy kepada seaminya. sebentar kemudian ia mengingatkan,
"kebijakan tak pernah bisa berdampingan dengan ketakutan,Albert!"
"pekerjaan kita penuh bahaya. kuharap, kembalilah. perca...."
Albert tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. tiba-tiba ia berlari cepat, mengejar serdadu-serdadu Israel yang kembali menembakkan senjata dan menyemburkan gas air mata.
Seorang serdadu Israel yang takut melihat sorot matanya segera menangkapnya. mereka memukulinya ramai-ramai. Gadis kecil itu tampak begitu suci. Ia bahkan lebih suci dari cahaya fajar. yah, fajar yang di benci oleh serdadu-serdadu itu.
Pemandangan tadi membuat Albert kehilangan kesabaran. ia tak sanggup melanjutkan pemotretannya lagi. Ia tidak tahan lagi berdian diri bagaikan fokus kamera. seluruh kemarahannya tumpah dalam teriakannya:
"kalian akan membunuhnya!"
Seorang serdadu Israel menatapnya, dengan dendam. Ia kemudian mendorong Albert agar menjauh. Ia juga merampas kamera dari tangannya, menghempaskannya ke tanah dan menginjak-injaknya dengan kedua kakinya. Albert berusaha membela diri dan istrinya, yang telah menjadi pasangan hidupnya sejak ia menjadi wartawan. Namun serdadu Israel itu tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia bahkan memukul kepalanya. Ia mengucapkan begitu banyak kata tanpa arti yang jelas. Ia tampak begitu dendam bagai topan, tapi sekaligus takut bagai pasir.
Cathy segera manghampiri suaminya sembari berteriak sekeras-kerasnya. semua kata-kata busuk, yang mungkin dipakai mengata-ngatai serdadu-serdadu keparat itu, ia keluarkan, sambil membalut luka suaminya. Ia lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang malam Cathy duduk menunggui suaminya. pemandangan ini seperti menghidupkan luka-lukanya. Perlahan suaminya tampak mulai membuka matanya. seketika ia percaya bahwa musibah ini terasa akan lebih ramah.
dengan senyum yang dibuat-buat, Cathy berkata,"Saya tahu kamu belum akan mati. tenanglah. kita tak akan mendiamkan kejadian ini.Dunia pasti akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. tidak usah khawatir, saya telah membelikan kamera baru untukmu."
"Cathy, sayangku, demi aku kembalilah ke Amerika."
"setelah kejadian ini?mustahil!"
"mereka semua ketakutan."
"tidak, sebelum aku membelalakkan mata dunia dengan kenyataan yang sesungguhnya."
Albert terdiam sejenak. sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, ia berucap,"orang boleh menemukan kebenaran di setiap tempat. namun hanya di sini orang dapat merasakannya."
"Saya akan mengadukan serdadu-serdadu yang menyerangmu ke pengadilan,"ujar Cathy.
Albert kembali meraba kepalanya dengan kepalan tangan. Ia menyeringai, lalu tertawa dan berkata, "Jangan berbuat tolol."
"Kamu mulai latah, Albert."
"Saya telah merenung begitu lama hingga akhirnya saya bisa memahami misteri permainan ini."
"Wah, boleh juga punya suami folosof."
Air mukanya tiba-tiba berubah seketika seakan-akan mengingat sesuatu, kemudian ia bertanya,
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?"
"serdadu-serdaduIsrael memasuki rumah-rumah penduduk dan memukili mereka tanpa ampun, lalu merampasi harta benda mereka."
"Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?" Albert mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi.
"ia tewas!"
Mendengarnya Albert langsung berdiri dari tempat tidurnya. Ia merasa begitu sedih dan murung. Ia menatap ke kejauhan, menatap kekosongan. Ia mendesis,"tak seorang pun menolongnya."
"Mereka mengikutinya sampai ke rumah sakit. tapi kemudian mereka membunuhnya di sana," ujar Cathy.
"sendiri?" tanya Albert.
"Orang-orang Israel itu tidak percaya pada jumlah yang kecil."
Cathy terdiam sejenak. lalu dengan nada suara tinggi ia mengatakan, " mereka harus membayar harga kegilaan mereka akan darah yang tercurah."
kemudian Cathy keluar dari ruangan itu. Air matanya tumpah. setiap detik beralu begitu bengis, sebengis wajah serdadu-serdadu Israel yang berkeliaran di jalan-jalan. begitu menyakitkan! pahit seperti darah bocah-bocah cilik itu.
Cathy kembali menenteng kameranya, menelusuri jalan-jalan palestina. Ia mencari kisah baru, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan kemenangan untuk sebuah perang yang belum dimulai, tentang seorang bocah yang mengancungkan tangan demi cinta, dan perang!
seorang bocah kecil, yang sedang mencari mimpi-mimpi kepahlawanan, mendekati seorang serdadu Israel, lalu melemparnya dengan sebuah batu kecil. matanya nyalang dan menyala. sama sekali tak ada ketakutan terpancar dari sorot matanya. di matanya, masa kanak-kanaknya tampak seperti sebuah makhluk baru, tempat segala sesuatu lebur menjadi satu, kemudian dengan tiba-tiba menemukan betapa tidak berartinya tatapan matamu padanya, betapa tiada bertepinya tepat bersandar seluruh angan-anganmu. masa kanak-kanak di matanya bagai garis-garis tanpa warna yang salig bersilangan. dan kau tahu, setiap bocah Pelestina membawa makhluk seperti ini dalam bola matanya.
Serdadu itu berusaha menangkapnya. namun tubuhnya yang ringan membuat si serdadu gagal menghisap darahnya dan meremuk-remuk tulang belulangnya yang masih rawan.
Cathy segera menjepret adegan yang begitu berani yang diperagakan bocah tersebut. kebahagiaan terbayang jelas di wajahnya melihat bocah kecil itu berhasil lolos dari kejaran serdadu Israel. Kini ia tahu, bukan hanya orang-orang Indian yang pandai menguliti kepala manusia! akan tetapi ia masih bisa menemukan sejumlah alasan yang mungkin membenarkan oran-orang Indian itu melakukannya.
Serdadu Israel itu segera sadar akan kehadiran Cathy. Amarahnya meledak. Ia berusaha mengusir Cathy dengan kasar. Namun, sebuath batu, yang tiba-tiba dilemparkan si bocah untuk kedua kalinya, memaksa serdadu Israel itu meninggalkannya. Ia segera memburu kencang, sangat kencang, mengejar si bocah sembari berteriak mengancam akan membunuhnya.
Serdadu itu menebarkan peluru senapannya ke segala arah. akan tetapi tubuh bocah kecil itu enggan disasari peluru.
Cathy berusaha mendekati bocah-bocah pembangkang tersebut. Ia melihat seorang bocah yang sejak tadi mengawasinya. Si bocah tampak bingung. Cathy mendekatinya dengan hati-hati. Cathy sama sekali tidak merasa kalu bocah itu takut atau ragu padanya. Ia lalu memegang kedua tangan kurusnya yang berlumuran darah dan debu bebatuan. dan dengan hangat ia mendaratkan sebuah ciuman ke jidatnya. Oh, betapa ia merasa begitu kerdil di depan sang pembangkang kecil.
Kemudian dilepaskan kalung kesayangan yang selama ini dipakainya. Ia merasa kalung itulah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Ia lalu memasangkannya ke leher bocah, dan menatapnya sendu.
Pelan-pelan anak itu menjauhi Cathy, kemudian memungut sebuah batu kecil dari tanah dan menyerahkannya padanya. Itulah hadiah termahal dari bocah pembangkang. barangkali bocah tersebut belum terlalu memahami makna tindakan wartawati Barat itu padanya. namun ia agaknya merasa bahwa si wartawati tidak berbeda jauh dengan ibunya yang selalu menunjukinya tempat-tempat yang banyak menyimpan pecahan batu.
Cathy menggenggam batu kecil itu. Ia merenunginya dalam-dalam. Ia kemudian pergi seorang diri. Mata bocah pembangkang tadi masih terus memandangi kepergiannya. Hingga akhirnya Cathy menjauh bersama hadiah termahalnya. dan si bocah pun kembali memungut batunya, kembali bergelut dengan serdadu-serdadu yang terus memburu dengan rasa haus akan kucuran darahnya.
Dari kejauhan Cathy kembali menatap si bocah kecil. semua peristiwa di masa lalu kembali terekam cepat dalam ingatannya. kini semua menjadi jelas. sekaligus mengerikan. masa kanak-kanak tidak mungkin sirna di tengah negeri perdamaian dan anak-anak. Cathy masih menatap anak tadi seakan hendak menyimpannya dalam matanya, selamanya.
Bocah kecil itu berlari bagai anak panah, melemparkan batu kecilnya, dan meneriakkan kata-kata yang tak dapat dipahami Cathy. Sekalipun ia yakin bahwa kata-kata itulah yang menghidupkan revolusi pada kedua bola mata mereka, pada telapak kaki mereka.
Si bocah terus meneriakkan "Allahu Akbar". Namun tiba-tiba saja serdadu Israel menggilasnya dengan kendaraan lapis baja. Bocah kecil itu berusaha berlari dan menghindar. Ia berusaha mencari dada ibunya.(dia bocah kecil. mengapa mobil berlapis baja harus menjadikan tubuhnya yang masih hijau sebagai batu-batu jalanan?)
Seakan kesurupan Cathy menghampirinya. Ia berteriak, "tidak!tidak!tidak!" Namun teriakannya takkan pernah sampai ke telinga siapa pun. kendaraan lapis baja mengubah tubuh kecil yang masih hijau itu sebagai mimpi yang tak sempat menjadi kenyataan.
Cathy melemparkan dirinya yang remuk redam ke atas tanah. Dipeluknya erat-erat bocah yang masih berlumuran darah itu. Si bocah masih mengenakan kalung pemberiannya. Dan tersenyum seperti bocah lainnya.
Itu wajah seorang bocah. Mengapa mereka mengotorinya dengan darah? Bahaya apakah yang mungkin ditimbulkan oleh sebuat batu kecil, dari seorang bocah kecil, bagi para serdadu bersenjata api otomatis itu?
Cathy menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Ia berusaha membangunkannya. bocah itu terlalu lembut. Mengapa ia harus mati? Umurnya pasti belum sampai enam tahun. akan tetapi mengapa ia harus mati begitu cepat?
Cathy menatap gusar ceceran darah yang mengucur ke bumi. kemudian ia menatap tangannya sendiri yang maish menggenggam hadiah termahal dari si bocah. ia merasa seperti dihentakkan oleh kesedihan dan kemarahan. lalu tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya, dibangkitkan oleh kekuatan yang tidak dibawa bocah-bocah pembangkang di tanah jajahan,"Tidak!tidak!tidak!" dan serta merta hadiah si bocah kecil ia lontarkan sekuat tenaga ke arah serdadu-serdadu Israel.
Cathy terus berteriak, terus memungut batu-batu bersama bocah-bocah lainnya, dan melemparkannya ke tentara Israel itu. Ia terus dan terus membalaskan dendam demi darah suaminya dan darah bocah kecil itu.
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Biarkan aku jadi orang Palestina!
Minggu, 24 Mei 2009
The Savior (Episode 4)
Air mengalir lembut di sungai yang jernih dan berbatu.......hujan rintik-rintik tanpak bagai jatuhnya berlian dari langit....awan gelap menggelayuti gunung dan desa sekitarnya......kebun teh sangat begitu sepi tanpa adanya pemetik teh yang biasanya bersenda gurau bersama teman-temanya.......angin berhembus tak begitu kencang namun sanggup membuat dedaunan menari perlahan.....tak begitu jauh dari kebun teh dua orang muda mudi nampak sedang berlindung dibawah pondok kecil para pemetik teh yang biasanya digunakan untuk makan atau sekedar melepas lelah. Si wanita merebahkan kepalanya pada lelaki yang duduk disampingnya dan si lelaki asik memandangi butiran-butiran air yang jatuh dari langit dan terus mengalir ke sungai yang tak jauh dari situ. Mereka tak sadar sepasang mata jalang mengawasi mereka dari rimbunnya pohon dan mendekat dengan satu loncatan ke pohon lainnya. Gerakan yang mampu dilakukan oleh orang-orang yang terlatih beladiri tingkat tinggi.
"Zira....
"Hm....
"Sampai kapan aku harus bersembunyi? Aku lelah...aku ingin seperti orang lain yang bebas menikmati hidupnya dan pergi kemanapun mereka mau.
"Heh....aku tak tau Layla.
Azira menarik nafas dalam-dalam dan menjawab singkat pertanyaan wanita disampingnya yang ternyata adalah Layla.
"Mungkin....mungkin kalau semuanya sudah beres dan Si Chan telah aku musnahkan dari muka bumi ini.
"Mengapa kamu nampak sangat dendam terhadapnya Zira?? bukannya seharusnya aku yang dendam dan marah padanya??
"Ya aku tau tapi ada sesuatu hal yang membuat aku harus membunuhnya.
"Apa itu...??
"Aku tak perlu menceritakan kejadian menyedihkan itu padamu Layla karena hal itu menyakiti ku.
"Baiklah...aku tak menyangka kalau kita mempunyai musuh yang sama.
Zira menatap Layla dengan lembut. Tatapan itu kini benar-benar tatapan yang diinginkan oleh Layla. Kelembutan seorang Azira yang pendiam....dingin.....dan berkharisma. Layla tak sanggup menatap mata Zira lama-lama karena tatapan itu benar-benar menusuk hingga ujung hatinya bergetar dan tak sanggup berkata-kata....
"Layla.....
Azira memanggil nama layla dengan pelan dan bergetar
"Hm....
"Aku tak pernah sedekat ini dengan wanita, apa kamu tak takut padaku??
"hahahahah.....Kamu ini lucu Zira....kenapa aku harus takut sama kamu hahahah
"Hm...karena...
Dengan cepat Azira menarik Layla dan mencium bibirnya. Layla tanpak terkejut dengan apa yang dilakukan Azira. Awalnya hal itu membuatnya tergagap namun akhirnya mereka pun saling berpagut dalam ciuman yang dalam dan hangat........
"Apa artinya itu kamu mencintai aku Zira???
Layla bertanya pada Zira setelah mereka selesai saling bercumbu.
"Hm...ya, apa kamu menolaknya? Azira menatap serius pada Layla.
Layla tersenyum kecil menatap Azira dan menggelengkan kepalanya.
"Engga....aku engga bisa Azira......
"Ja...ja..jadi kamu engga bisa menerima aku? Azira terkejut dan hal itu membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Aku engga bisa....
"Katakan padaku Layla kenapa kamu menolakku...???
"Aku....aku....aku engga bisa menerima kalau kamu tidak mencintai aku...!!! hahahahahahah
Layla berkata dengan kencang dan tertawa lucu melihat mimik Azira
"Aah kamu.....awas ya...kamu bikin aku mati kutu
Azira tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Akhirnya mereka pun saling menggelitik dan berlari di bawah guyuran air hujan diantara pohon teh dan angin yang membisikan kata-kata cinta pada mereka. Azira dan Layla berlari ke tepi sungai dan saling memercikan air....berenang....dan bercanda dalam keceriaan yang selama ini mereka impikan. Sementara itu orang yang mengintip mereka lewat pepohonan tanpak loncat turun dari pohon dan berlari menjauh dengan cepat ke arah kota.
Ditempat lain...........................
"Chan...apa anak buah kamu sudah menemukan anak itu?
"Sejauh ini belum ada perkembangan, tapi aku yakin anak buahku dapat diandalkan.
"Hm...sampai kapan aku harus menunggu disini Chan...aku dah mulai bosan dan gatal ingin menghajar anak itu
"Beri aku waktu seminggu lagu Takeshi, aku yakin dia bisa ditemukan.
Takeshi tak berbicara lagi lalu berdiri dan berjalan menuju taman yang ada didepan rumah. Sementara Mr Chan hanya mengikutinya dari belakang tanpa berkata sepatah katapun.
"Chan...kamu ingat ketika kita menghajar berdua Tanaka?
"Ya kenapa Takeshi?
"Aku yakin kalau dia masih hidup Chan?
"Hahahahahah....kamu terlalu takut dengannya hahahah
"Chan...!! Aku ingatkan kamu!! tak ada seorangpun yang aku takuti didunia ini!! mengerti kamu!!
Muka Takeshi berubah merah ketika dia merasa kalau Mr Chan menyepelekan dirinya.
"Sorry...sorry Takeshi, bukan aku memandang rendah kemampuan kamu tapi aku yaki kalau Tanaka sudah tak bernyawa lagi sekarang. Lukanya begitu serius waktu itu dan dia terjatuh ke laut, kamu ingat itu kan? jadi....apa yang kamu khawatirkan??
"Chan....kamu terlalu memandang rendah Tanaka. Dia tak mudah menyerah dan kuat.Kita berdua tau itu
"Sudahlah Takeshi....semua omongan kamu itu sudah ngawur....tak ada lagi Tanaka ok...!
Tiba-tiba...wuss........duk........seseorang dengan gerakan yang lincah salto dari dinding rumah dan mendarat tepat didepan Mr Chan dan Takeshi lalu membungkuk hormat pada keduanya.
"Tuan....saya sudah menemukan anak itu apa yang seharusnya saya lakukan?
"Bagus...bagus...kerja yang bagus. Dimana dia?
Takeshi bertanya pada anak buah Mr Chan dengan tidak sabar.
"Dia tinggal disebuah villa di puncak dengan wanita yang selama ini kita cari
"Maksud kamu Layla?
Mr Chan tanpak kaget dengan berita itu.
"Betul tuan....mereka tinggal tak jauh dari perkebunan teh
"Ok...bagus....bagus.....sekarang kumpulkan semua anak buah kamu dan antar kita kesana. Takeshi....!! persiapkan dirimu, kita segera berangkat kesana.
"Aku sudah siap Chan ayo.....
Takeshi....Mr Chan......dan anak buahnya segera menuju mobilnya......puluhan orang berpakaian hitam anak buah Mr Chan mengikuti dengan mobil dan motor besar. Mereka beralan berarak-arakan layaknya pejabat yang akan menghadiri perjamuan penting......ke arah puncak. Sementara di sebuah warung tak jauh dari perkebunan teh seorang laki-laki berbadan tegap bermata sipit jepang, mengenakan pakaian ala petani dengan caping di kepalanya dan membawa tongkat beserta bungkusan kain putih untuk membawa barang diujung tongkatnya tanpak berbincang dengan si pedagang.
"Saya haus minta minum boleh??
"Oh boleh...boleh atuh....silahkan duduk tuan, ehm tuan mau minum apa?
"Teh manis saja...yang dingin ya
"Baik tuan...ditunggu ya
"Ya...ya
laki-laki itu mengiyakan lalu duduk di pojok warung itu memperhatikan para pemetik teh yang sedang sibuk memetik teh sambil bersenda gurau dengan teman-temannya. sesekali laki-laki itu tersenyum memperhatikan wajah-wajah pemetik teh yang nampak tak ada beban dalam hidupnya
"Ini teh nya tuan.......
Suara pedagang warung menghancurkan lamunannya tentang si pemetik teh
"Oh ya...terima kasih
Laki-laki itu langsung menikmati minumnya....angin gunung yang segar membuatnya sedikit terkantuk kantuk namun hal itu tak membuatnya segera tidur...
"Tuan mau kemana?? si pedagang berusaha beramah tamah dengan laki-laki itu
"Oh ya...saya tidak tahu kemana mau??? saya bingung
"Lho.....kenapa bisa begitu??
"Saya sedang mencari kedua anak saya.....
"Oh...apa mereka kabur dari rumah tuan??
"Oh tidak..tidak...ceritanya panjang. Apa anda punya anak??
"Sudah tuan...saya sudah punya 2 orang anak yang masih kecil.
"Bagus...bagus kamu jaga harus mereka ya..biar mereka menjadi anak yang kamu banggakan kelak
"Tentu tuan...
Omongan mereka berhenti sejenak ketika tiba-tiba dua orang sejoli menuju ke warung itu dan duduk dibangku yang disediakan dibawah pohon dan si lelaki masuk menuju warung itu.
"Ada yang bisa saya bantu den?
Pedagang itu menawarkan diri tuk menjamu laki-laki itu
"Ehm...tolong buatkan dua teh manis ya pak. Layla kamu pesan apa lagi?
Pemuda yang ternyata Azira itu berteriak memanggil Layla, wanita yang mendampinginya tadi dan menawarkan pesanan lainnya.
"Cukup air saja...aku cuma haus. Layla berteriak menjawab.
"Baiklah pak...air teh saja ya, yang dingin ok.
"Baik den, ditunggu ya.
"Sambil berjalan menuju Layla Azira melirik tajam kepada laki-laki bercaping yang duduk di pojok warung. Mata mereka saling padang sejenak. Azira merasakan getaran yang hebat ketika memandang lelaki itu. Getaran yang aneh yang merasuk ke relung hatinya dalam. Azira mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu dan berjalan menuju Layla yang sedang menantinya duduk di bawah pohon.
"Kenapa Azira?? kamu kelihatannya bingung dan.......
"Entahlah, aku juga tak tahu Layla. Kamu lihat laki-laki itu?
"Ya...ada apa dengannya?
"Pandangannya sangat tajam dan hangat......
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Zira.
"Yah....mungkin saja
"Zira.....kamu tak banyak cerita tentang kamu sendiri. Kapan kamu akan menceritakan semuanya?? bukannya kita harus tahu satu sama lain??
"Ada waktunya nanti Layla.
Ketika layla hendak bertanya lagi......
"Den.....in teh dinginnya. silahkan diminum
"Oh terimakasih pak, in uangnya. Pak tolong di plastikin aja teh nya. Kita mau langsung pulang
"Baik den....sebentar.
Pedagang itu pun berlalu.....
"Kenapa kita harus pulang cepat??bukannya lebih baik diminum disini saja Zira?
"Entahlah....mungkn aku sedikit cape dan ingin istirahat.
Beberapa menit kemudian sipedagang datang dan telah membungkus tehnya dengan plastik
"Den ini tehnya...terimakasih ya den.
"Ya pak sama-sama, ayo kita pulang Layla. Azira berkata pada Layla sambil membayar minumannya.
Layla dan Azira akhirnya pergi meninggalkan kedai itu namun Azira merasa laki-laki yang ada di warung itu menatapnya terus dan memperhatikan gerak-geriknya.
Memang...laki-laki itu terus menatap Azira dan Layla hingga hilang di pandangan mata. Laki-laki itupun merasakan getaran yang hebat menderanya.
"Pak...Bapak kenal tadi orang? laki-laki bercaping itu bertanya pada pedagang warung.
"Maksudnya yang berdua tadi???
"Ya benar...benar sekali
"Yang laki-laki mah sering main di daerah sini, dia tinggal di villanya di samping bukit. tapi....yang wanita saya belum pernah melihatnya, mungkin kekasaihnya pak heheheh...soalnya mereka tanpak mesra sih.
Si pedagang menerka-nerka hubungan antara Azira dan Layla
"Baiklah...ini uangnya pak...saya pergi dulu..terimakasih ya.
Belum sempat laki-laki bercaping itu pergi........brmm...brm.........puluhan kendaraan bermotor lewat diikuti oleh mobil mewah dibelakangnya. Pakaian mereka serba hitam....bertubuh tegap dan berkacamata hitam. Melihat hal ini laki-laki bercaping langsung membalikan badannya seakan menghindari keberadaan mereka. Rombongan tadi cepat berlalu menuju arah kemana Azira dan Layla pergi. Setelah rombongan itu pergi laki-laki bercaping segera pergi dengan gerakan yang ringan berlari diatara rimbunnya pohon teh dan pohon cemara tanpa diketahui oleh pedagang tadi yang hanya terbengong melihat betapa cepatnya gerakan laki-laki bercaping menghilang dari hadapannya. Langit mulai menghitam....menandakan adanya badai yang akan terjadi di muka bumi...angin bertiup kencang....pohon cemara bergoyang hebat dibuatnya......sementara itu di villa.
Azira tanpak terduduk diruang tengah. berusaha untuk mengerti getaran yang baru saja melandanya. Getaran hebat yang dikirimkan oleh laki-laki bercaping yang baru saja di temuinya di warung . Layla hanya memandangi Azira....tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Layla sangat mengerti perasaan dan prilaku Azira sehingga dia tak mau mengganggunya. Tiba-tiba Azira berdiri dan tersentak.........dia merasakan ada kekuatan yang sangat hebat menuju ke arahnya.........
"Layla ........sebaiknya kamu sembunyi
"A..a..ada apa Zira?
"Aku bilang cepat bersembunyi!!.
Belum sempat Layla bersembunyi...wush....wush....wush.......puluhan anak panah menerjang jendela dan menyebabkan kaca kaca hancur....wush.....sebuah anak panah hampir menyerempet tubuh Layla. Layla sangat panik tapi dengan sigap Azira mengangkatnya dan membawanya ke kamar tidur dan menyuruhnya bersembunyi disana.
"Kamu diam disini dan jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang.. mengerti!
"Zira....Zira jangan tingggalkan aku!
"Tenang Layla......aku akan kembali buat kamu.
muka Azira terlihat sangat serius namun dengan lembut dia mengusap tangan dan pipi Layla dan meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja. Azira segera keluar dari kamar dan tak ingin berlama lama dengan Azira khawatir para penyerang akan mengetahui tempat Layla bersembunyi. Serangan anak panah tak berhenti disitu puluhan anak panah menerjang villa yang penuh dengan jendela kaca itu. Dengan sigap Azira keluar dan ingin mengetahui siapa yang telah menyerang dirinya. Baru saja Azira membuka pintu puluhan orang berbaju serba hitam telah mengepungnya dan siap membidik dirinya dengan anak panah.
"Bunuh....!! seseorang bermuka jepang yang teryata adalah Takeshi memerintahkan anak buah Mr Chan untuk langsung membunuh Azira dan.....wush.....wush....wush anak panah pun melesat cepat siap menancap di tubuh Azira. Azira sama sekali tak takut dengan anak panah yang melesat ke arahnya. Dirinya diam mematung siap menerima anak panah itu. Takeshi tanpak terkejut dengan apa yang dilihatnya karena Azira tak menghindar sedikitpun dan Takeshi yakin Azira akan tewas terkena puluhan anak panah beracun . Tapi.....................ketika hampir 30 cm anak panah menusuk tubuh azira.......anak panah itu-pun jatuh berguguran tanpa disentuhnya Kekuatan yang maha dasyat telah meluluhlantakan anak panah-anak panah itu..........Takeshi dan Mr Chan yang melihat kejadian itu tanpak terbengong-bengong dengan kejadian itu. Anak buah Mr Chan pun ciut nyalinya melihat kedasyatan kekuatan lawannya. Takeshi tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat kekuatan Azira.
"Hiaaaaaaaaa..........................
Dengan cepat dia berlari dan menghunuskan samurainya. Kilatan-kilatan cahaya kematian dari samurai yang dihunus Takeshi membuat semua orang yang ada disitu bergidik, namun tidak begitu dengan Azira. Azira tanpak dingin tak ada ekspresi. sssst.....ssssst.......ssstt tebasan samurai secepat kilat menyerangnya. Azira mengindar dengan cepat dari serangan yang mematikan itu. Sebuah serangan kembali dilakukan Takeshi dengan menyabetkan samurainya ke leher Azira....sssst........serangan itu hampir memutuskan lehernya namun tak urung sabetan samurai Takeshi memotong sebagian rambut gondrongnya. Rambut Azira terjatuh ke bumi...hal itu membuat Takeshi semakin bersemangat untuk membunuh Azira secepatnya.
Gerakan-gerakan samurai Takeshi semakin membabi buta....Azira tak diberi kesempatan untuk menyerang balik namun tetap saja tak sedikitpun samurainya menggores tubuh Azira. Pada satu kesempatan Takeshi menebaskan samurainya secara horizontal hendak membelah dada Azira.....wushhhhh.......dinginnya hawa pembunuh yang ditebarkan samurai terasa dingin dan mengerikan namun................tap.........samurai Takeshi ditangkap oleh kedua tangan Azira, Takeshi pun terkaget-kaget dibuatnya
"何…か。か。...........(Apa......??). 彼はいかにそれをしてもいいか。(Bagaimana dia bisa melakukan hal itu??? (Takeshi berkata dalam hatinya)
Adu kekuatan pun terjadi.....mereka saling menatap tajam mengukur kekuatan masing -masing. Ketika mereka terkosentrasi mengadu kekuatan kesempatan bagus ini tidak di biarkan oleh mr Chan untuk menyerang dari belakang srettttt.....sretttttttt...........mr Chan mencabut samurainya dan menyabetkannya pada Azira....Hiaaaaaaaaaaaaaa
Azira hanya melirik sekilas dan dia dapat merasakan hawa dingin samurai yang di sabetkan oleh mr Chan yang hendak menyerangnya takala ia lengah. Dengan cepat Azira melepaskan genggamannya pada samurai Takeshi dan melompat kesamping terguling dan berusaha bangkit lagi...namun Takeshi dan Mr Chan tak membiarkan Azira tuk bangkit lebih cepat........wush........wush....samberan samurai mereka menyabet ke bagian leher dan kaki Azira. Azira yang mendapat serangan secepat itu menekan kedua tangannya dari bumi dan menggenjotnya sehingga membuatnya tanpak terbang dan salto di udara. Kecepatan luar biasa yang ditunjukan oleh ketiga petarung itu membuat anak buah Mr Chan pusing dan tak bisa melihat mereka dengan jelas. Baru saja Azira menjejakan kakinya ditanah sebuah serangan dari Takeshi telah menyerbunya kembali...Mr Chan pun tak tinggal diam....Hiaaaaaaaaaa...................
"..........!死ぬ!! (mati kamu)
Takeshi berteriak dengan bahasa jepang ( yang penulis juga ga ngerti heheheheh)
Azira mampu menghindari serangan Mr Chan sambil memberikan serangan balasan duk...duk....pukulannya mendarat telak di dada dan muka mr Chan namun tusukan samurai Takeshi tak mampu dihindarinya. Azira menangkap dengan tangan kirinya tapi tak urung tusukan itu mapu melukai perutnya. Akh.......Azira berteriak kecil dan berusaha menahan laju samurai Takeshi yang terus berusaha menancapkan lebih dalam ke dalam tubuhnya. Trangggg...............Dalam keadaan terdesak Azira mematahkan samurai Takeshi namun ujung samurainya masih menancap ditubuh Azira dan mengeluarkan banyak darah. Azira lompat kebelakang berusaha menjaga jarak apabila ada serangan susulan dari Takeshi.
"だれであるか。.....(siapa kamu sesungguhnya???) Takeshi mengguman dengan bahasa jepangnya (yang penulis juga bingung hahaha)
Sementara di atas sebuah pohon yang rindang tanpak seseorang mengintip pertarungan itu.
"不均衡な戦い....(pertarungan yang tak seimbang) laki-laki bercaping mengguman pelan....
"人はだれであるか。ChanおよびTakeshiはなぜ彼を殺したいと思うか。(Siapa laki2 itu, mengapa Chan dan Takeshi berniat membunuhnya) rupanya lelaki bercaping sangat mengenal mr Chan dan Takeshi (Lalu siapakah laki2 bercaping ini?)
Takeshi tersenyum senang melihat lawannya sudah terluka. Mr Chan mulai bangkit dan saling beradu pandang dengan Takeshi....Entah apa yang ada dibenak mereka tapi dengan cepat keduanya menyerang Azira tanpa aba-aba. Azira merobek sebagian bajunya tuk menahan pendaharan akibat lukannya. Dengan adanya serangan yang cepat dari Takeshi dan Mr Chan tak ada yang harus dilakukannya lagi kecuali menghadapi keduanya.
"それらは私に…したようにこれを一緒にした.....(Mereka melakukan hal ini sama dengan apa yang mereka lakukan padaku.....lelaki bercaping berguman dan terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Takeshi dan Mr Chan.
Serangan Mr Chan luput mengenai Azira..begitu juga serangan Takeshi. Kini mereka berduel tangan kosong...Takeshi tak lagi memegang samurainya yang patah. duk....duk...duk.....tangan mereka saling beradu dan akibatnya sangat dasyat....Takehi terpental lima langkah kebelakang....Mr Chan terpental lebih dari sepuluh langkah kebelakang sementara Azira terpental tiga langkah kebelakang namun darah mengalir dari bibirnya. nampaknya luka tusukan samurai Takeshi membuat Azira semakin kepayahan......Azira berusaha bertahan...namun matanya mulai berkunang kunang. Digoyangkannya kepalanya..tetap...pusing dan panas menyerang semua persendian ditubuhnya. Rupanya samurai yang dipakai Takeshi mengandung racun yang sangat membahayakan.
"hahahaha.....やがて死ぬ (kamu kan segera matiiii) Takeshi berceloteh dengan bahasanya. Diambilnya sebuah samurai anak buah mr Chan dan Takeshi mulai mendekati Azira yang sudah merasa ajalnya sudah didepan mata
"Ayah.....maafkan aku yang tak bisa membalaskan dendammu dan menemukan kakak.....
Azira berkata dalam hatinya. Kaki Azira semakin lemas....lututnya bergetar hebat.......dan.......semuanya tanpak gelap. Azira tak sadarkan diri namun sempat dilihatnnya seorang wanita berlari padanya dan berteriak hingga pada akhirnya Azira tak sadarkan diri.
"Jangan bunuh diaaaaaaaaaaaaaa..................
Takeshi melirik wanita yang berlari mendekati Azira yang telah pingsan. Wanita itu yang tak lain adalah Layla memeluk Azira dan berusaha membangunkannya
"Zira....bangun Zira......banguuuuuuun huhuhuhuhu....
Layla menangis sejadi-jadinya.
"Apa kamu ingin mati bersamanya langsung ha!!!!!
Takeshi membentak Layla. Semua itu tidak diindahkan oleh Layla....Layla tetap memeluk Azira yang terus mengeluarkan darah dari mulut dan tubuhnya. Takeshi nampaknya sudah tak sabar ingin segera menuntaskan semuanya dengan cepat. Diayunkannya samurainya...wushhhhhhhhhh............................Layla hanya memeluk Azira dan tak lagi melihat Takeshi yang telah mengayunkan samurainya pada mereka berdua.......namun.............trangggggggggggg.....ketika samurai Takeshi hampir saja menyentuh kulit mereka......dua buah senjata berbentuk bumerang menyambar samurainya...Takeshi trekejut bukan kepalang.....tangannya bergetar hebat menandakan kekuatan orang yang melemparnya. Matanya mulai mencari-cari darimana arah senjata-senjata itu berasal.
"Woiiiiiiiii......siapa yang berani mencampuri aku punya urusan!!!!!!
Tak ada jawaban.....semuanya begitu hening. Anak buah Mr Cahan tanpak berjaga-jaga dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Mereka siap menembakan anak panah mereka pada objek yang kira-kira akan membahayakan jiwa mereka......wushhhhhh.................wushhhhhh.........wushhhh......puluhan senjata berbentuk bumerang kali ini berterbangan......bukan hanya Takeshi yang menjadi sasaran namun juga anak buah Mr Chan dan Mr Chan sendiri yang naapak masih tertatih-tatih akibat pukulan Azira....Takeshi dan Mr Chan dapat menghindari serangan itu walau dengan susah payah namun anak buah Mr Chan tak sanggup menerima serangan yang begitu cepat dan...zeb.....zeb....zeb.....akhhhhhh mereka pun bergelimpagan.
Anak buah Mr Chan tak sanggup menghadapi kecepatan serangan bumerang kecil yang menyerangnya. Takeshi mulai marah begitu pula Mr Chan, tapi sang penyerang belum juga menampakan batang hidungnya.
"Kamuuuuuu!!! siapapun kamu....jangan pernah menjadi pengecut!!!! keluar!!!
Takeshi berteriak lantang dengan kekuatan tenaga dalammya hingga membuat beberapa anak buah mr Chan yang masih tersisa menutup telinganya....masih....semuanya hening tak ada jawaban. Mr Chan lalu berbisik pada Takeshi sepertinya tengah merencanakan sesuatu.
"Ok....siapapun kamu!!! aku akan tetap membunuh kedua manusia ini dan kamu!!! hahahaha tak akan pernah bisa menyelamatkannya!!!
Takeshi berjalan mendekati Azira dan Layla....baru dua langkah Takeshi berjalan.......
tap....tap...tap....wushhhhhhhhhh....sesosok bayangan melesat cepat dan berdiri di hadapan Takeshi tanpa sedikitpun menimbulkan suara.....seseorang berpakaian ala ninja kini telah berdiri menantang Takeshi....tak ada suara yang diucapkan oleh ninja itu.
Takeshi tak menunggu lama lagi langsung melancarkan serangan pada ninja yang telah menggaggu dirinya.......hiaaaaaaaaa........serangan Takeshi begitu cepat dan mematikan....namun ninja itu nampaknya tak menggubris serangan Takeshi dan hanya menghindar saja tanpa memberikan serangan balasan. Hal itu membuat Takeshi penasaran dan terus menyerangnya.....sementara itu Mr Chan tak bisa berbuat apa-apa...dadanya masih terasa sakit dan ngilu. Dilain kesempatan wushhhh....wush....tiba-tiba ninja itu melemparkan senjata rahasianya dan......wushhhhh....zebbb...satu senjatanya mampu dihindari Takeshi namun senjata kedua tak mampu dihindarinya dan mengenai perutnya...akhhhhh. Takeshi mengerang kesakitan dan memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar. Untungnya
Ninja itu tak lagi menyerangnya lagi. Si Ninja misterius segera mendekati Layla dan Azira, Dengan enteng dia mengangkat Azira dan membawanya pergi bersama Layla sementara Mr Chan dan Takeshi tak mampu berbuat apa-apa lagi.
Diatas pohon.......laki-laki bercaping terus mengawasi pertarungan Azira, Takeshi dan mr Chan hingga akhirnya ninja misterius datang dan pergi meninggalkan Takeshi dan mr Chan dalam ketidakberdayaan. Dengan cepat dan gesit dia melompat dari satu pohon satu ke pohon lainnya mengikuti kemana arah ninja misterius itu membawa Azira dan Layla pergi. Rupanya ninja itu pergi menerobos gelapnya hutan pinus dan menuju ke puncak gunung. Tak berapa jauh dari puncak gunung tanpak sebuah gubuk kecil yang sangat rapi dan bersih dengan bunga-bunga yang bertebaran dan berkembang disekelilingnya....suasananya sangat sejuk dan nyaman. Segera sang ninja misterius menurunkan Azira ke balai yang ada ditengah gubuk itu dan melakukan penotokan yang sama sekali Layla tak mengerti. Ninja itu memberikan isyarat pada Layla agar segera mengambil air dan merebusnya sementara dia keluar dan pergi entah kemana...........ketika ninja itu pergi keluar laki-laki bercaping yang sedari tadi mengikuti mereka segera turun dengan gerakan ala ninja dan tanpa suara masuk ke dalam..........
"Zira......bangun.....huhuhuhu.......bangun .
terdengar olehnya suara Layla yang sedang menangisi Azira yang belum sadar juga.
"Permsi.......
Suara laki-laki bercaping mengagetkan Layla....
"Si...si...siapa kamu? a..a..apakah kamu orang yang tadi membawa zira kesini....
"Bukan....aku hanya ingin menolong pemuda yang sebelah kamu ada
Laki-laki bercaping berbicara dengan logat jepang yang masih kental
"Ini.....berikan pil ini padanya....saya yakin dia akan segera sembuh...orang yang tadi menolong kamu hanya memberikan totokan sementara agar racunnya tak segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Tolong jangan beritahu teman kamu atau orang yang menolong kamu kalau saya kesini.
"Te...terimakasih tuan
Layla menunduk mengucapkan terimakasih pada laki-laki bercaping yang berusaha menolong Azira.....
"Saya tak................
Betapa kagetnya Layla ketika dia kembali menatap laki-laki itu namun laki-laki bercaping yang menolongnya telah hilang dan berganti ninja misterius yang terkejut dengan ucapan Layla.....
"Apa maksud kamu tuan?....apa kamu mengenal aku???.
ternyata suara dari ninja itu adalah suara wanita dan tentu saja hal itu mengejutkan Layla dan tidak menyangka dengan yang baru saja didengarnya.
"Jawab kata saya!! mengapa kamu memanggil saya tuan!!
Ninja misterius yang menolong Azira dan Layla nampak marah.
"Ti..tidak....saya pikir anda seorang laki-laki. Tadi saya ingin mengucapkan terimakasih pada anda karena telah menolong kita....
Ninja misterius tak berkata-kata lagi dia segera menyiapkan ramuan-ramuan obat yang telah dibawanya......tak berapa lama ninja itu melepaskan penutup wajahnya dan nampak wanita yang sangat cantik dengan mata yang tajam.....rambut terurai panjang.....bibir tipis mengembang dan tubuh yang langsing dan kuat.Dengan cekatan wanita itu merobek baju Azira,memberikan totokan pada aliran darahnya....dan menempelkan ramuan yang telah direbusnya. Sementara Layla tak bisa berbuat banyak dan hanya terbengong-bengong melihat wanita yang telah menolongnya itu. Wanita misterius itu berusaha membuat Azira duduk...Azira masih tak sadarkan diri. Matanya terpejam seakan tak ada tanda-tanda kehidupan disana.Ditempelkannya kedua tangan wanita itu pada bahu Azira untuk memberikan tenaga murninya namun,matanya tertahan pada tato bergambar bulan pada bahu Azira.....
"Azira.....????apakah ini benar Azira????
Wanita itu terhenti terkejut dan berkata kata dalam hatinya
"Hey kamu!!! siapa nama kamu? dengan keras wanita yang sedang bertanya-tanya ini bertanya pada Layla
"Layla...ka...kak. Layla tak tahu harus menyebut apa.
"Dimana kamu bertemu dia!!
"Akupun tak tahu kak....Azira menolong saya waktu itu.
"Azira....Azira kata kamu......
"Iya kak....kenapa??kakak kenal dengan Azira?? Layla mulai berani berkata-kata
"Syukurlah dia selamat....ya Tuhan....Akhirnya dia selamat huhuhuhuhuuh...
wanita itu tiba-tiba menangis dan tak menjawab pertanyaan Layla. Hal tersebut semakin membuat Layla bingung.
"Apa kamu berhubungan dekat dengan Azira, Layla?
"Hm..mm..ya kak.....saya sangat mencintainya.
"Heuh...aku senang mendengarnya.....kuharap kamu bisa menjaganya selalu, dengar Layla......jika nanti Azira terbangun, jangan katakan bahwa saya telah menolongnya...dan segeralah pergi dari sini.
"Kalau saya boleh tau.....kenapa kak dan siapa kakak sebenarnya???
"Namaku....Aurora...terlalu panjang tuk diceritakan. Sudahlah...aku berharap kamu tidak menceritakan dengan siapa kamu bertemu, masih banyak yang harus saya kerjakan. Suatu saat kita pasti akan bersama dalam kebahagian...saya akan selalu menjaga kalian.
begitu selesai berkata Aurora langsung pergi keluar tanpa pamit.....Layla terus memandangi Azira yang belum siuman juga....Dimata itu dilihatnya kedamaian...seakan tak ada beban yang menggelayutinya.....Azira memang tak berkata karena luka yang dideritanya namun dari matanya yang terpejam dia seolah-olah berkata "Jangan pernah tinggalkan aku.
Tap......tiba-tiba Layla merasa tangannya ada yang memegang.....dilihatnya tangan Azira telah memegang tangannya....semakin erat...erat....dan seperti tak ingin di lepaskan. namun........tak dilihatnya Azira membuka matanya. Layla teringat akan laki-laki yang memberinya sesuatu padanya. Diambilnya air dan berusaha dengan keras meminumkannya pada Azira....reaksi obat yang diberikan laki-laki itu sunguh luar biasa....tiba-tiba Azira mengejang....dan muntah darah.....darah hitam yang telah mengental semuanya keluar melalui mulutnya....Layla begitu ketakutan.....dia takut sesuatu akan terjadi padanya.
"Zira...Zira....kamu engga apa apa???Ziraaaa......!!
Azira terus mengeluarkan darah kental yang menghitam dan hal itu samakin membuat Layla panik. Pada akhirnya Azira berangsur-angsur tenang dan kembali diam tak bergerak.
"Layla.........Arrgghh
Layla yang sedang panik dan menangis sejadi-jadinya terkejut ketika namanya tiba-tiba di panggil oleh Azira
"Zira....Zira aku disini...
"Jangan jauh dariku Layla.....dimana aku??? Azira masih setengah tak sadar dengan apa yang dialaminya
"Kamu ditempat yang aman Zira...
"Siapa orang yang telah menyelamatkan kita ??
"Hmm...hmmm...a...a...akupun tak tau Zira....Semuanya begitu cepat.
Layla gugup ketika Azira bertanya tentang orang yang telah menyelamatkannya
"Zira...kamu jangan bergerak atau bicara dulu....istirahatlah, aku ingin kamu segera pulih.
"Layla.....
Entah pengaruh dari obat yang diberikan atau bukan Azira tak bisa melanjutkan kata-katanya dan tertidur dengan cepat.
Malam dihutan itu sangatlah gelap.......terdengar sayup sayup lolongan anjing malam........cahaya bulan berusaha menerobos peohonan yang berdiri tegak bak prajurit yang siap berperang......suara burung hantu pun tak ketinggalan meramaikan malam dan menambah suasana semakin mencekam.....kepakan kelelawar terdengar sayup-sayup diatas gubuk ...sunyi.....kelam......hitam......dan suram.
Lembaran-lembaran malam yang pekat tak bisa membuat Layla tertidur....ditatapnya Azira yang masih tak sadarkan diri....kreeeett...terdengar suara pintu terbuka. Layla agak sedikit terkejut namun dia langsung merasa lega ketika orang yang dilihatnya membuka pintu adalah Aurora.......
"Kenapa kamu tidak segera istirahat..?? Apa Azira sudah siuman..???
"Aku belum bisa tidur...Dia tadi siuman..tapi hanya sebentar.
"Sebentar....
Aurora langsung mendekati Azira yang nampak lebih tenang dan memegang dahinya...
"Apa kamu memberi dia sesuatu??
"Ehmm..ehmm
"Dia sudah lebih baik....heran, padahal dia tadi sangat kepayahan. Apa yang kamu beri padanya?
"Cu..cu...cuma ini kak..
Layla sangat gugup dan memberikan pil yang diberikan oleh laki-laki bercaping tadi. Aurora langsung mengambil pil itu dan memperhatikannya.
"Siapa yang memberi kamu pil ini Layla??
"Ehm..emm....a..a..aku membawanya dari villa dan Azira memberikannya padaku kak.
Layla mencoba berbohong pada Aurora namun bahasa non verbal yang ditunjukan oleh Layla mampu dibaca oleh Aurora.
"Hem.....dia berbohong padaku...apa yang dia coba sembunyikan dariku, dia sangat ketakutan. tapi biar bagaimanapun, orang yang telah memberi pil pada Layla adalah orang yang baik jadi aku tak perlu cemas padanya. Tapi.....siapa orang itu???
Aurora bertanya-tanya dalam hatinya.
"Layla istirahatlah....aku akan menjaga kalian berdua. Aku yakin kamu pasti sangat lelah.
"Tapi kak...
"Gak ada tapi-tapian....segera istirahat...jangan terlalu banyak berfikir.
Layla tak lagi menjawab dan segera pergi keperaduan...tertidur ditemani suara lolongan anjing dan kepakan kelelawar yang terbang diantara pohon cemara. Aurora segera pergi....berjalan menyusuri jalan setapak dan suittttttttttttt........Aurora berhenti di sebuah batu yang besar bermandikan cahaya bulan dan bersiul sangat kecang.....Lolongan anjing tiba-tiba berhenti...dan ....rrrrrrrrr.....seekor srigala putih mendekati Aurora...tak ada tanda ketakutan diwajah Aurora
"Zeta....kemari kamu........bahkan dia memanggil srigala itu yang langsung berlari ke dalam pelukannya. Aurora langsung memeluk srigala itu dan mereka saling bercanda ditemani angin malam yang kian dingin dan remangnya cahaya bulan................................bersambung( episode 5)
"Zira....
"Hm....
"Sampai kapan aku harus bersembunyi? Aku lelah...aku ingin seperti orang lain yang bebas menikmati hidupnya dan pergi kemanapun mereka mau.
"Heh....aku tak tau Layla.
Azira menarik nafas dalam-dalam dan menjawab singkat pertanyaan wanita disampingnya yang ternyata adalah Layla.
"Mungkin....mungkin kalau semuanya sudah beres dan Si Chan telah aku musnahkan dari muka bumi ini.
"Mengapa kamu nampak sangat dendam terhadapnya Zira?? bukannya seharusnya aku yang dendam dan marah padanya??
"Ya aku tau tapi ada sesuatu hal yang membuat aku harus membunuhnya.
"Apa itu...??
"Aku tak perlu menceritakan kejadian menyedihkan itu padamu Layla karena hal itu menyakiti ku.
"Baiklah...aku tak menyangka kalau kita mempunyai musuh yang sama.
Zira menatap Layla dengan lembut. Tatapan itu kini benar-benar tatapan yang diinginkan oleh Layla. Kelembutan seorang Azira yang pendiam....dingin.....dan berkharisma. Layla tak sanggup menatap mata Zira lama-lama karena tatapan itu benar-benar menusuk hingga ujung hatinya bergetar dan tak sanggup berkata-kata....
"Layla.....
Azira memanggil nama layla dengan pelan dan bergetar
"Hm....
"Aku tak pernah sedekat ini dengan wanita, apa kamu tak takut padaku??
"hahahahah.....Kamu ini lucu Zira....kenapa aku harus takut sama kamu hahahah
"Hm...karena...
Dengan cepat Azira menarik Layla dan mencium bibirnya. Layla tanpak terkejut dengan apa yang dilakukan Azira. Awalnya hal itu membuatnya tergagap namun akhirnya mereka pun saling berpagut dalam ciuman yang dalam dan hangat........
"Apa artinya itu kamu mencintai aku Zira???
Layla bertanya pada Zira setelah mereka selesai saling bercumbu.
"Hm...ya, apa kamu menolaknya? Azira menatap serius pada Layla.
Layla tersenyum kecil menatap Azira dan menggelengkan kepalanya.
"Engga....aku engga bisa Azira......
"Ja...ja..jadi kamu engga bisa menerima aku? Azira terkejut dan hal itu membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Aku engga bisa....
"Katakan padaku Layla kenapa kamu menolakku...???
"Aku....aku....aku engga bisa menerima kalau kamu tidak mencintai aku...!!! hahahahahahah
Layla berkata dengan kencang dan tertawa lucu melihat mimik Azira
"Aah kamu.....awas ya...kamu bikin aku mati kutu
Azira tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Akhirnya mereka pun saling menggelitik dan berlari di bawah guyuran air hujan diantara pohon teh dan angin yang membisikan kata-kata cinta pada mereka. Azira dan Layla berlari ke tepi sungai dan saling memercikan air....berenang....dan bercanda dalam keceriaan yang selama ini mereka impikan. Sementara itu orang yang mengintip mereka lewat pepohonan tanpak loncat turun dari pohon dan berlari menjauh dengan cepat ke arah kota.
Ditempat lain...........................
"Chan...apa anak buah kamu sudah menemukan anak itu?
"Sejauh ini belum ada perkembangan, tapi aku yakin anak buahku dapat diandalkan.
"Hm...sampai kapan aku harus menunggu disini Chan...aku dah mulai bosan dan gatal ingin menghajar anak itu
"Beri aku waktu seminggu lagu Takeshi, aku yakin dia bisa ditemukan.
Takeshi tak berbicara lagi lalu berdiri dan berjalan menuju taman yang ada didepan rumah. Sementara Mr Chan hanya mengikutinya dari belakang tanpa berkata sepatah katapun.
"Chan...kamu ingat ketika kita menghajar berdua Tanaka?
"Ya kenapa Takeshi?
"Aku yakin kalau dia masih hidup Chan?
"Hahahahahah....kamu terlalu takut dengannya hahahah
"Chan...!! Aku ingatkan kamu!! tak ada seorangpun yang aku takuti didunia ini!! mengerti kamu!!
Muka Takeshi berubah merah ketika dia merasa kalau Mr Chan menyepelekan dirinya.
"Sorry...sorry Takeshi, bukan aku memandang rendah kemampuan kamu tapi aku yaki kalau Tanaka sudah tak bernyawa lagi sekarang. Lukanya begitu serius waktu itu dan dia terjatuh ke laut, kamu ingat itu kan? jadi....apa yang kamu khawatirkan??
"Chan....kamu terlalu memandang rendah Tanaka. Dia tak mudah menyerah dan kuat.Kita berdua tau itu
"Sudahlah Takeshi....semua omongan kamu itu sudah ngawur....tak ada lagi Tanaka ok...!
Tiba-tiba...wuss........duk........seseorang dengan gerakan yang lincah salto dari dinding rumah dan mendarat tepat didepan Mr Chan dan Takeshi lalu membungkuk hormat pada keduanya.
"Tuan....saya sudah menemukan anak itu apa yang seharusnya saya lakukan?
"Bagus...bagus...kerja yang bagus. Dimana dia?
Takeshi bertanya pada anak buah Mr Chan dengan tidak sabar.
"Dia tinggal disebuah villa di puncak dengan wanita yang selama ini kita cari
"Maksud kamu Layla?
Mr Chan tanpak kaget dengan berita itu.
"Betul tuan....mereka tinggal tak jauh dari perkebunan teh
"Ok...bagus....bagus.....sekarang kumpulkan semua anak buah kamu dan antar kita kesana. Takeshi....!! persiapkan dirimu, kita segera berangkat kesana.
"Aku sudah siap Chan ayo.....
Takeshi....Mr Chan......dan anak buahnya segera menuju mobilnya......puluhan orang berpakaian hitam anak buah Mr Chan mengikuti dengan mobil dan motor besar. Mereka beralan berarak-arakan layaknya pejabat yang akan menghadiri perjamuan penting......ke arah puncak. Sementara di sebuah warung tak jauh dari perkebunan teh seorang laki-laki berbadan tegap bermata sipit jepang, mengenakan pakaian ala petani dengan caping di kepalanya dan membawa tongkat beserta bungkusan kain putih untuk membawa barang diujung tongkatnya tanpak berbincang dengan si pedagang.
"Saya haus minta minum boleh??
"Oh boleh...boleh atuh....silahkan duduk tuan, ehm tuan mau minum apa?
"Teh manis saja...yang dingin ya
"Baik tuan...ditunggu ya
"Ya...ya
laki-laki itu mengiyakan lalu duduk di pojok warung itu memperhatikan para pemetik teh yang sedang sibuk memetik teh sambil bersenda gurau dengan teman-temannya. sesekali laki-laki itu tersenyum memperhatikan wajah-wajah pemetik teh yang nampak tak ada beban dalam hidupnya
"Ini teh nya tuan.......
Suara pedagang warung menghancurkan lamunannya tentang si pemetik teh
"Oh ya...terima kasih
Laki-laki itu langsung menikmati minumnya....angin gunung yang segar membuatnya sedikit terkantuk kantuk namun hal itu tak membuatnya segera tidur...
"Tuan mau kemana?? si pedagang berusaha beramah tamah dengan laki-laki itu
"Oh ya...saya tidak tahu kemana mau??? saya bingung
"Lho.....kenapa bisa begitu??
"Saya sedang mencari kedua anak saya.....
"Oh...apa mereka kabur dari rumah tuan??
"Oh tidak..tidak...ceritanya panjang. Apa anda punya anak??
"Sudah tuan...saya sudah punya 2 orang anak yang masih kecil.
"Bagus...bagus kamu jaga harus mereka ya..biar mereka menjadi anak yang kamu banggakan kelak
"Tentu tuan...
Omongan mereka berhenti sejenak ketika tiba-tiba dua orang sejoli menuju ke warung itu dan duduk dibangku yang disediakan dibawah pohon dan si lelaki masuk menuju warung itu.
"Ada yang bisa saya bantu den?
Pedagang itu menawarkan diri tuk menjamu laki-laki itu
"Ehm...tolong buatkan dua teh manis ya pak. Layla kamu pesan apa lagi?
Pemuda yang ternyata Azira itu berteriak memanggil Layla, wanita yang mendampinginya tadi dan menawarkan pesanan lainnya.
"Cukup air saja...aku cuma haus. Layla berteriak menjawab.
"Baiklah pak...air teh saja ya, yang dingin ok.
"Baik den, ditunggu ya.
"Sambil berjalan menuju Layla Azira melirik tajam kepada laki-laki bercaping yang duduk di pojok warung. Mata mereka saling padang sejenak. Azira merasakan getaran yang hebat ketika memandang lelaki itu. Getaran yang aneh yang merasuk ke relung hatinya dalam. Azira mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu dan berjalan menuju Layla yang sedang menantinya duduk di bawah pohon.
"Kenapa Azira?? kamu kelihatannya bingung dan.......
"Entahlah, aku juga tak tahu Layla. Kamu lihat laki-laki itu?
"Ya...ada apa dengannya?
"Pandangannya sangat tajam dan hangat......
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Zira.
"Yah....mungkin saja
"Zira.....kamu tak banyak cerita tentang kamu sendiri. Kapan kamu akan menceritakan semuanya?? bukannya kita harus tahu satu sama lain??
"Ada waktunya nanti Layla.
Ketika layla hendak bertanya lagi......
"Den.....in teh dinginnya. silahkan diminum
"Oh terimakasih pak, in uangnya. Pak tolong di plastikin aja teh nya. Kita mau langsung pulang
"Baik den....sebentar.
Pedagang itu pun berlalu.....
"Kenapa kita harus pulang cepat??bukannya lebih baik diminum disini saja Zira?
"Entahlah....mungkn aku sedikit cape dan ingin istirahat.
Beberapa menit kemudian sipedagang datang dan telah membungkus tehnya dengan plastik
"Den ini tehnya...terimakasih ya den.
"Ya pak sama-sama, ayo kita pulang Layla. Azira berkata pada Layla sambil membayar minumannya.
Layla dan Azira akhirnya pergi meninggalkan kedai itu namun Azira merasa laki-laki yang ada di warung itu menatapnya terus dan memperhatikan gerak-geriknya.
Memang...laki-laki itu terus menatap Azira dan Layla hingga hilang di pandangan mata. Laki-laki itupun merasakan getaran yang hebat menderanya.
"Pak...Bapak kenal tadi orang? laki-laki bercaping itu bertanya pada pedagang warung.
"Maksudnya yang berdua tadi???
"Ya benar...benar sekali
"Yang laki-laki mah sering main di daerah sini, dia tinggal di villanya di samping bukit. tapi....yang wanita saya belum pernah melihatnya, mungkin kekasaihnya pak heheheh...soalnya mereka tanpak mesra sih.
Si pedagang menerka-nerka hubungan antara Azira dan Layla
"Baiklah...ini uangnya pak...saya pergi dulu..terimakasih ya.
Belum sempat laki-laki bercaping itu pergi........brmm...brm.........puluhan kendaraan bermotor lewat diikuti oleh mobil mewah dibelakangnya. Pakaian mereka serba hitam....bertubuh tegap dan berkacamata hitam. Melihat hal ini laki-laki bercaping langsung membalikan badannya seakan menghindari keberadaan mereka. Rombongan tadi cepat berlalu menuju arah kemana Azira dan Layla pergi. Setelah rombongan itu pergi laki-laki bercaping segera pergi dengan gerakan yang ringan berlari diatara rimbunnya pohon teh dan pohon cemara tanpa diketahui oleh pedagang tadi yang hanya terbengong melihat betapa cepatnya gerakan laki-laki bercaping menghilang dari hadapannya. Langit mulai menghitam....menandakan adanya badai yang akan terjadi di muka bumi...angin bertiup kencang....pohon cemara bergoyang hebat dibuatnya......sementara itu di villa.
Azira tanpak terduduk diruang tengah. berusaha untuk mengerti getaran yang baru saja melandanya. Getaran hebat yang dikirimkan oleh laki-laki bercaping yang baru saja di temuinya di warung . Layla hanya memandangi Azira....tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Layla sangat mengerti perasaan dan prilaku Azira sehingga dia tak mau mengganggunya. Tiba-tiba Azira berdiri dan tersentak.........dia merasakan ada kekuatan yang sangat hebat menuju ke arahnya.........
"Layla ........sebaiknya kamu sembunyi
"A..a..ada apa Zira?
"Aku bilang cepat bersembunyi!!.
Belum sempat Layla bersembunyi...wush....wush....wush.......puluhan anak panah menerjang jendela dan menyebabkan kaca kaca hancur....wush.....sebuah anak panah hampir menyerempet tubuh Layla. Layla sangat panik tapi dengan sigap Azira mengangkatnya dan membawanya ke kamar tidur dan menyuruhnya bersembunyi disana.
"Kamu diam disini dan jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang.. mengerti!
"Zira....Zira jangan tingggalkan aku!
"Tenang Layla......aku akan kembali buat kamu.
muka Azira terlihat sangat serius namun dengan lembut dia mengusap tangan dan pipi Layla dan meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja. Azira segera keluar dari kamar dan tak ingin berlama lama dengan Azira khawatir para penyerang akan mengetahui tempat Layla bersembunyi. Serangan anak panah tak berhenti disitu puluhan anak panah menerjang villa yang penuh dengan jendela kaca itu. Dengan sigap Azira keluar dan ingin mengetahui siapa yang telah menyerang dirinya. Baru saja Azira membuka pintu puluhan orang berbaju serba hitam telah mengepungnya dan siap membidik dirinya dengan anak panah.
"Bunuh....!! seseorang bermuka jepang yang teryata adalah Takeshi memerintahkan anak buah Mr Chan untuk langsung membunuh Azira dan.....wush.....wush....wush anak panah pun melesat cepat siap menancap di tubuh Azira. Azira sama sekali tak takut dengan anak panah yang melesat ke arahnya. Dirinya diam mematung siap menerima anak panah itu. Takeshi tanpak terkejut dengan apa yang dilihatnya karena Azira tak menghindar sedikitpun dan Takeshi yakin Azira akan tewas terkena puluhan anak panah beracun . Tapi.....................ketika hampir 30 cm anak panah menusuk tubuh azira.......anak panah itu-pun jatuh berguguran tanpa disentuhnya Kekuatan yang maha dasyat telah meluluhlantakan anak panah-anak panah itu..........Takeshi dan Mr Chan yang melihat kejadian itu tanpak terbengong-bengong dengan kejadian itu. Anak buah Mr Chan pun ciut nyalinya melihat kedasyatan kekuatan lawannya. Takeshi tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat kekuatan Azira.
"Hiaaaaaaaaa..........................
Dengan cepat dia berlari dan menghunuskan samurainya. Kilatan-kilatan cahaya kematian dari samurai yang dihunus Takeshi membuat semua orang yang ada disitu bergidik, namun tidak begitu dengan Azira. Azira tanpak dingin tak ada ekspresi. sssst.....ssssst.......ssstt tebasan samurai secepat kilat menyerangnya. Azira mengindar dengan cepat dari serangan yang mematikan itu. Sebuah serangan kembali dilakukan Takeshi dengan menyabetkan samurainya ke leher Azira....sssst........serangan itu hampir memutuskan lehernya namun tak urung sabetan samurai Takeshi memotong sebagian rambut gondrongnya. Rambut Azira terjatuh ke bumi...hal itu membuat Takeshi semakin bersemangat untuk membunuh Azira secepatnya.
Gerakan-gerakan samurai Takeshi semakin membabi buta....Azira tak diberi kesempatan untuk menyerang balik namun tetap saja tak sedikitpun samurainya menggores tubuh Azira. Pada satu kesempatan Takeshi menebaskan samurainya secara horizontal hendak membelah dada Azira.....wushhhhh.......dinginnya hawa pembunuh yang ditebarkan samurai terasa dingin dan mengerikan namun................tap.........samurai Takeshi ditangkap oleh kedua tangan Azira, Takeshi pun terkaget-kaget dibuatnya
"何…か。か。...........(Apa......??). 彼はいかにそれをしてもいいか。(Bagaimana dia bisa melakukan hal itu??? (Takeshi berkata dalam hatinya)
Adu kekuatan pun terjadi.....mereka saling menatap tajam mengukur kekuatan masing -masing. Ketika mereka terkosentrasi mengadu kekuatan kesempatan bagus ini tidak di biarkan oleh mr Chan untuk menyerang dari belakang srettttt.....sretttttttt...........mr Chan mencabut samurainya dan menyabetkannya pada Azira....Hiaaaaaaaaaaaaaa
Azira hanya melirik sekilas dan dia dapat merasakan hawa dingin samurai yang di sabetkan oleh mr Chan yang hendak menyerangnya takala ia lengah. Dengan cepat Azira melepaskan genggamannya pada samurai Takeshi dan melompat kesamping terguling dan berusaha bangkit lagi...namun Takeshi dan Mr Chan tak membiarkan Azira tuk bangkit lebih cepat........wush........wush....samberan samurai mereka menyabet ke bagian leher dan kaki Azira. Azira yang mendapat serangan secepat itu menekan kedua tangannya dari bumi dan menggenjotnya sehingga membuatnya tanpak terbang dan salto di udara. Kecepatan luar biasa yang ditunjukan oleh ketiga petarung itu membuat anak buah Mr Chan pusing dan tak bisa melihat mereka dengan jelas. Baru saja Azira menjejakan kakinya ditanah sebuah serangan dari Takeshi telah menyerbunya kembali...Mr Chan pun tak tinggal diam....Hiaaaaaaaaaa...................
"..........!死ぬ!! (mati kamu)
Takeshi berteriak dengan bahasa jepang ( yang penulis juga ga ngerti heheheheh)
Azira mampu menghindari serangan Mr Chan sambil memberikan serangan balasan duk...duk....pukulannya mendarat telak di dada dan muka mr Chan namun tusukan samurai Takeshi tak mampu dihindarinya. Azira menangkap dengan tangan kirinya tapi tak urung tusukan itu mapu melukai perutnya. Akh.......Azira berteriak kecil dan berusaha menahan laju samurai Takeshi yang terus berusaha menancapkan lebih dalam ke dalam tubuhnya. Trangggg...............Dalam keadaan terdesak Azira mematahkan samurai Takeshi namun ujung samurainya masih menancap ditubuh Azira dan mengeluarkan banyak darah. Azira lompat kebelakang berusaha menjaga jarak apabila ada serangan susulan dari Takeshi.
"だれであるか。.....(siapa kamu sesungguhnya???) Takeshi mengguman dengan bahasa jepangnya (yang penulis juga bingung hahaha)
Sementara di atas sebuah pohon yang rindang tanpak seseorang mengintip pertarungan itu.
"不均衡な戦い....(pertarungan yang tak seimbang) laki-laki bercaping mengguman pelan....
"人はだれであるか。ChanおよびTakeshiはなぜ彼を殺したいと思うか。(Siapa laki2 itu, mengapa Chan dan Takeshi berniat membunuhnya) rupanya lelaki bercaping sangat mengenal mr Chan dan Takeshi (Lalu siapakah laki2 bercaping ini?)
Takeshi tersenyum senang melihat lawannya sudah terluka. Mr Chan mulai bangkit dan saling beradu pandang dengan Takeshi....Entah apa yang ada dibenak mereka tapi dengan cepat keduanya menyerang Azira tanpa aba-aba. Azira merobek sebagian bajunya tuk menahan pendaharan akibat lukannya. Dengan adanya serangan yang cepat dari Takeshi dan Mr Chan tak ada yang harus dilakukannya lagi kecuali menghadapi keduanya.
"それらは私に…したようにこれを一緒にした.....(Mereka melakukan hal ini sama dengan apa yang mereka lakukan padaku.....lelaki bercaping berguman dan terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Takeshi dan Mr Chan.
Serangan Mr Chan luput mengenai Azira..begitu juga serangan Takeshi. Kini mereka berduel tangan kosong...Takeshi tak lagi memegang samurainya yang patah. duk....duk...duk.....tangan mereka saling beradu dan akibatnya sangat dasyat....Takehi terpental lima langkah kebelakang....Mr Chan terpental lebih dari sepuluh langkah kebelakang sementara Azira terpental tiga langkah kebelakang namun darah mengalir dari bibirnya. nampaknya luka tusukan samurai Takeshi membuat Azira semakin kepayahan......Azira berusaha bertahan...namun matanya mulai berkunang kunang. Digoyangkannya kepalanya..tetap...pusing dan panas menyerang semua persendian ditubuhnya. Rupanya samurai yang dipakai Takeshi mengandung racun yang sangat membahayakan.
"hahahaha.....やがて死ぬ (kamu kan segera matiiii) Takeshi berceloteh dengan bahasanya. Diambilnya sebuah samurai anak buah mr Chan dan Takeshi mulai mendekati Azira yang sudah merasa ajalnya sudah didepan mata
"Ayah.....maafkan aku yang tak bisa membalaskan dendammu dan menemukan kakak.....
Azira berkata dalam hatinya. Kaki Azira semakin lemas....lututnya bergetar hebat.......dan.......semuanya tanpak gelap. Azira tak sadarkan diri namun sempat dilihatnnya seorang wanita berlari padanya dan berteriak hingga pada akhirnya Azira tak sadarkan diri.
"Jangan bunuh diaaaaaaaaaaaaaa..................
Takeshi melirik wanita yang berlari mendekati Azira yang telah pingsan. Wanita itu yang tak lain adalah Layla memeluk Azira dan berusaha membangunkannya
"Zira....bangun Zira......banguuuuuuun huhuhuhuhu....
Layla menangis sejadi-jadinya.
"Apa kamu ingin mati bersamanya langsung ha!!!!!
Takeshi membentak Layla. Semua itu tidak diindahkan oleh Layla....Layla tetap memeluk Azira yang terus mengeluarkan darah dari mulut dan tubuhnya. Takeshi nampaknya sudah tak sabar ingin segera menuntaskan semuanya dengan cepat. Diayunkannya samurainya...wushhhhhhhhhh............................Layla hanya memeluk Azira dan tak lagi melihat Takeshi yang telah mengayunkan samurainya pada mereka berdua.......namun.............trangggggggggggg.....ketika samurai Takeshi hampir saja menyentuh kulit mereka......dua buah senjata berbentuk bumerang menyambar samurainya...Takeshi trekejut bukan kepalang.....tangannya bergetar hebat menandakan kekuatan orang yang melemparnya. Matanya mulai mencari-cari darimana arah senjata-senjata itu berasal.
"Woiiiiiiiii......siapa yang berani mencampuri aku punya urusan!!!!!!
Tak ada jawaban.....semuanya begitu hening. Anak buah Mr Cahan tanpak berjaga-jaga dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Mereka siap menembakan anak panah mereka pada objek yang kira-kira akan membahayakan jiwa mereka......wushhhhhh.................wushhhhhh.........wushhhh......puluhan senjata berbentuk bumerang kali ini berterbangan......bukan hanya Takeshi yang menjadi sasaran namun juga anak buah Mr Chan dan Mr Chan sendiri yang naapak masih tertatih-tatih akibat pukulan Azira....Takeshi dan Mr Chan dapat menghindari serangan itu walau dengan susah payah namun anak buah Mr Chan tak sanggup menerima serangan yang begitu cepat dan...zeb.....zeb....zeb.....akhhhhhh mereka pun bergelimpagan.
Anak buah Mr Chan tak sanggup menghadapi kecepatan serangan bumerang kecil yang menyerangnya. Takeshi mulai marah begitu pula Mr Chan, tapi sang penyerang belum juga menampakan batang hidungnya.
"Kamuuuuuu!!! siapapun kamu....jangan pernah menjadi pengecut!!!! keluar!!!
Takeshi berteriak lantang dengan kekuatan tenaga dalammya hingga membuat beberapa anak buah mr Chan yang masih tersisa menutup telinganya....masih....semuanya hening tak ada jawaban. Mr Chan lalu berbisik pada Takeshi sepertinya tengah merencanakan sesuatu.
"Ok....siapapun kamu!!! aku akan tetap membunuh kedua manusia ini dan kamu!!! hahahaha tak akan pernah bisa menyelamatkannya!!!
Takeshi berjalan mendekati Azira dan Layla....baru dua langkah Takeshi berjalan.......
tap....tap...tap....wushhhhhhhhhh....sesosok bayangan melesat cepat dan berdiri di hadapan Takeshi tanpa sedikitpun menimbulkan suara.....seseorang berpakaian ala ninja kini telah berdiri menantang Takeshi....tak ada suara yang diucapkan oleh ninja itu.
Takeshi tak menunggu lama lagi langsung melancarkan serangan pada ninja yang telah menggaggu dirinya.......hiaaaaaaaaa........serangan Takeshi begitu cepat dan mematikan....namun ninja itu nampaknya tak menggubris serangan Takeshi dan hanya menghindar saja tanpa memberikan serangan balasan. Hal itu membuat Takeshi penasaran dan terus menyerangnya.....sementara itu Mr Chan tak bisa berbuat apa-apa...dadanya masih terasa sakit dan ngilu. Dilain kesempatan wushhhh....wush....tiba-tiba ninja itu melemparkan senjata rahasianya dan......wushhhhh....zebbb...satu senjatanya mampu dihindari Takeshi namun senjata kedua tak mampu dihindarinya dan mengenai perutnya...akhhhhh. Takeshi mengerang kesakitan dan memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar. Untungnya
Ninja itu tak lagi menyerangnya lagi. Si Ninja misterius segera mendekati Layla dan Azira, Dengan enteng dia mengangkat Azira dan membawanya pergi bersama Layla sementara Mr Chan dan Takeshi tak mampu berbuat apa-apa lagi.
Diatas pohon.......laki-laki bercaping terus mengawasi pertarungan Azira, Takeshi dan mr Chan hingga akhirnya ninja misterius datang dan pergi meninggalkan Takeshi dan mr Chan dalam ketidakberdayaan. Dengan cepat dan gesit dia melompat dari satu pohon satu ke pohon lainnya mengikuti kemana arah ninja misterius itu membawa Azira dan Layla pergi. Rupanya ninja itu pergi menerobos gelapnya hutan pinus dan menuju ke puncak gunung. Tak berapa jauh dari puncak gunung tanpak sebuah gubuk kecil yang sangat rapi dan bersih dengan bunga-bunga yang bertebaran dan berkembang disekelilingnya....suasananya sangat sejuk dan nyaman. Segera sang ninja misterius menurunkan Azira ke balai yang ada ditengah gubuk itu dan melakukan penotokan yang sama sekali Layla tak mengerti. Ninja itu memberikan isyarat pada Layla agar segera mengambil air dan merebusnya sementara dia keluar dan pergi entah kemana...........ketika ninja itu pergi keluar laki-laki bercaping yang sedari tadi mengikuti mereka segera turun dengan gerakan ala ninja dan tanpa suara masuk ke dalam..........
"Zira......bangun.....huhuhuhu.......bangun .
terdengar olehnya suara Layla yang sedang menangisi Azira yang belum sadar juga.
"Permsi.......
Suara laki-laki bercaping mengagetkan Layla....
"Si...si...siapa kamu? a..a..apakah kamu orang yang tadi membawa zira kesini....
"Bukan....aku hanya ingin menolong pemuda yang sebelah kamu ada
Laki-laki bercaping berbicara dengan logat jepang yang masih kental
"Ini.....berikan pil ini padanya....saya yakin dia akan segera sembuh...orang yang tadi menolong kamu hanya memberikan totokan sementara agar racunnya tak segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Tolong jangan beritahu teman kamu atau orang yang menolong kamu kalau saya kesini.
"Te...terimakasih tuan
Layla menunduk mengucapkan terimakasih pada laki-laki bercaping yang berusaha menolong Azira.....
"Saya tak................
Betapa kagetnya Layla ketika dia kembali menatap laki-laki itu namun laki-laki bercaping yang menolongnya telah hilang dan berganti ninja misterius yang terkejut dengan ucapan Layla.....
"Apa maksud kamu tuan?....apa kamu mengenal aku???.
ternyata suara dari ninja itu adalah suara wanita dan tentu saja hal itu mengejutkan Layla dan tidak menyangka dengan yang baru saja didengarnya.
"Jawab kata saya!! mengapa kamu memanggil saya tuan!!
Ninja misterius yang menolong Azira dan Layla nampak marah.
"Ti..tidak....saya pikir anda seorang laki-laki. Tadi saya ingin mengucapkan terimakasih pada anda karena telah menolong kita....
Ninja misterius tak berkata-kata lagi dia segera menyiapkan ramuan-ramuan obat yang telah dibawanya......tak berapa lama ninja itu melepaskan penutup wajahnya dan nampak wanita yang sangat cantik dengan mata yang tajam.....rambut terurai panjang.....bibir tipis mengembang dan tubuh yang langsing dan kuat.Dengan cekatan wanita itu merobek baju Azira,memberikan totokan pada aliran darahnya....dan menempelkan ramuan yang telah direbusnya. Sementara Layla tak bisa berbuat banyak dan hanya terbengong-bengong melihat wanita yang telah menolongnya itu. Wanita misterius itu berusaha membuat Azira duduk...Azira masih tak sadarkan diri. Matanya terpejam seakan tak ada tanda-tanda kehidupan disana.Ditempelkannya kedua tangan wanita itu pada bahu Azira untuk memberikan tenaga murninya namun,matanya tertahan pada tato bergambar bulan pada bahu Azira.....
"Azira.....????apakah ini benar Azira????
Wanita itu terhenti terkejut dan berkata kata dalam hatinya
"Hey kamu!!! siapa nama kamu? dengan keras wanita yang sedang bertanya-tanya ini bertanya pada Layla
"Layla...ka...kak. Layla tak tahu harus menyebut apa.
"Dimana kamu bertemu dia!!
"Akupun tak tahu kak....Azira menolong saya waktu itu.
"Azira....Azira kata kamu......
"Iya kak....kenapa??kakak kenal dengan Azira?? Layla mulai berani berkata-kata
"Syukurlah dia selamat....ya Tuhan....Akhirnya dia selamat huhuhuhuhuuh...
wanita itu tiba-tiba menangis dan tak menjawab pertanyaan Layla. Hal tersebut semakin membuat Layla bingung.
"Apa kamu berhubungan dekat dengan Azira, Layla?
"Hm..mm..ya kak.....saya sangat mencintainya.
"Heuh...aku senang mendengarnya.....kuharap kamu bisa menjaganya selalu, dengar Layla......jika nanti Azira terbangun, jangan katakan bahwa saya telah menolongnya...dan segeralah pergi dari sini.
"Kalau saya boleh tau.....kenapa kak dan siapa kakak sebenarnya???
"Namaku....Aurora...terlalu panjang tuk diceritakan. Sudahlah...aku berharap kamu tidak menceritakan dengan siapa kamu bertemu, masih banyak yang harus saya kerjakan. Suatu saat kita pasti akan bersama dalam kebahagian...saya akan selalu menjaga kalian.
begitu selesai berkata Aurora langsung pergi keluar tanpa pamit.....Layla terus memandangi Azira yang belum siuman juga....Dimata itu dilihatnya kedamaian...seakan tak ada beban yang menggelayutinya.....Azira memang tak berkata karena luka yang dideritanya namun dari matanya yang terpejam dia seolah-olah berkata "Jangan pernah tinggalkan aku.
Tap......tiba-tiba Layla merasa tangannya ada yang memegang.....dilihatnya tangan Azira telah memegang tangannya....semakin erat...erat....dan seperti tak ingin di lepaskan. namun........tak dilihatnya Azira membuka matanya. Layla teringat akan laki-laki yang memberinya sesuatu padanya. Diambilnya air dan berusaha dengan keras meminumkannya pada Azira....reaksi obat yang diberikan laki-laki itu sunguh luar biasa....tiba-tiba Azira mengejang....dan muntah darah.....darah hitam yang telah mengental semuanya keluar melalui mulutnya....Layla begitu ketakutan.....dia takut sesuatu akan terjadi padanya.
"Zira...Zira....kamu engga apa apa???Ziraaaa......!!
Azira terus mengeluarkan darah kental yang menghitam dan hal itu samakin membuat Layla panik. Pada akhirnya Azira berangsur-angsur tenang dan kembali diam tak bergerak.
"Layla.........Arrgghh
Layla yang sedang panik dan menangis sejadi-jadinya terkejut ketika namanya tiba-tiba di panggil oleh Azira
"Zira....Zira aku disini...
"Jangan jauh dariku Layla.....dimana aku??? Azira masih setengah tak sadar dengan apa yang dialaminya
"Kamu ditempat yang aman Zira...
"Siapa orang yang telah menyelamatkan kita ??
"Hmm...hmmm...a...a...akupun tak tau Zira....Semuanya begitu cepat.
Layla gugup ketika Azira bertanya tentang orang yang telah menyelamatkannya
"Zira...kamu jangan bergerak atau bicara dulu....istirahatlah, aku ingin kamu segera pulih.
"Layla.....
Entah pengaruh dari obat yang diberikan atau bukan Azira tak bisa melanjutkan kata-katanya dan tertidur dengan cepat.
Malam dihutan itu sangatlah gelap.......terdengar sayup sayup lolongan anjing malam........cahaya bulan berusaha menerobos peohonan yang berdiri tegak bak prajurit yang siap berperang......suara burung hantu pun tak ketinggalan meramaikan malam dan menambah suasana semakin mencekam.....kepakan kelelawar terdengar sayup-sayup diatas gubuk ...sunyi.....kelam......hitam......dan suram.
Lembaran-lembaran malam yang pekat tak bisa membuat Layla tertidur....ditatapnya Azira yang masih tak sadarkan diri....kreeeett...terdengar suara pintu terbuka. Layla agak sedikit terkejut namun dia langsung merasa lega ketika orang yang dilihatnya membuka pintu adalah Aurora.......
"Kenapa kamu tidak segera istirahat..?? Apa Azira sudah siuman..???
"Aku belum bisa tidur...Dia tadi siuman..tapi hanya sebentar.
"Sebentar....
Aurora langsung mendekati Azira yang nampak lebih tenang dan memegang dahinya...
"Apa kamu memberi dia sesuatu??
"Ehmm..ehmm
"Dia sudah lebih baik....heran, padahal dia tadi sangat kepayahan. Apa yang kamu beri padanya?
"Cu..cu...cuma ini kak..
Layla sangat gugup dan memberikan pil yang diberikan oleh laki-laki bercaping tadi. Aurora langsung mengambil pil itu dan memperhatikannya.
"Siapa yang memberi kamu pil ini Layla??
"Ehm..emm....a..a..aku membawanya dari villa dan Azira memberikannya padaku kak.
Layla mencoba berbohong pada Aurora namun bahasa non verbal yang ditunjukan oleh Layla mampu dibaca oleh Aurora.
"Hem.....dia berbohong padaku...apa yang dia coba sembunyikan dariku, dia sangat ketakutan. tapi biar bagaimanapun, orang yang telah memberi pil pada Layla adalah orang yang baik jadi aku tak perlu cemas padanya. Tapi.....siapa orang itu???
Aurora bertanya-tanya dalam hatinya.
"Layla istirahatlah....aku akan menjaga kalian berdua. Aku yakin kamu pasti sangat lelah.
"Tapi kak...
"Gak ada tapi-tapian....segera istirahat...jangan terlalu banyak berfikir.
Layla tak lagi menjawab dan segera pergi keperaduan...tertidur ditemani suara lolongan anjing dan kepakan kelelawar yang terbang diantara pohon cemara. Aurora segera pergi....berjalan menyusuri jalan setapak dan suittttttttttttt........Aurora berhenti di sebuah batu yang besar bermandikan cahaya bulan dan bersiul sangat kecang.....Lolongan anjing tiba-tiba berhenti...dan ....rrrrrrrrr.....seekor srigala putih mendekati Aurora...tak ada tanda ketakutan diwajah Aurora
"Zeta....kemari kamu........bahkan dia memanggil srigala itu yang langsung berlari ke dalam pelukannya. Aurora langsung memeluk srigala itu dan mereka saling bercanda ditemani angin malam yang kian dingin dan remangnya cahaya bulan................................bersambung( episode 5)
Langganan:
Komentar (Atom)
Me lagi
Bergembira